Oleh: Abdul Basit
Pembangunan rumah ibadah di suatu daerah merupakan hal yang biasa. Tetapi ada hal yang berbeda dan menarik dari pembangunan rumah ibadah di Sekolah Polisi Negara (SPN) Purwokerto. Menurut penuturan kepala SPN Purwokerto, saat meresmikan pembangunan masjid Nurul Ikhlas pertengahan Juli lalu, pembangunan masjid di kompleks SPN dibangun oleh para donatur dan tenaga yang berasal dari umat Islam dan umat beragama lainnya. Mulai dari peletakan batu pertama hingga selesainya pembangunan masjid, dilakukan kerjasama antar umat beragama. Bahkan, alat pengeras suara yang ada di masjid pun didesain supaya tidak mengganggu rumah ibadah yang ada di sebelah kiri dan kanan yaitu Gereja dan Pura. Karena pembangunan Gereja dan Pura pun juga tidak hanya dilakukan oleh penganut Kristen dan Hindu saja, melainkan oleh umat beragama lain, termasuk umat Islam.
Pengalaman dalam membangun rumah ibadah semacam itu merupakan modal dasar yang kuat untuk membangun toleransi antar umat beragama. Kenyataan yang telah terjadi di masyarakat, ada pembangunan rumah ibadah suatu agama digagalkan oleh umat agama lain disebabkan karena adanya jurang pemisah antara agama yang satu dengan agama yang lain. Kecurigaan dan antipati terhadap agama lain merupakan faktor utama yang menyebabkan para pemeluk agama berupaya untuk menghalangi pembangunan rumah ibadah.
Sementara, dengan berbekal pengalaman bersama dalam membangun rumah ibadah, maka para pemeluk agama yang ada di lingkungan tersebut merasa memiliki rumah ibadah. Meskipun demikian, dalam persoalan ibadah, masing-masing melakukan sesuai dengan keyakinan agamanya masing-masing. Tidak mungkin mereka akan mencampurbaurkan antara agama yang satu dengan agama yang lainnya. Bagi kamu agamamu dan bagiku agamaku (lakum diinukum waliyadiin), itulah prinsip dan semangat yang harus dipegang teguh.
Semangat toleransi beragama semacam itulah yang ingin ditanamkan kepada para anggota polisi, kata kepala SPN Purwokerto, Kombes Didik Andiono. Pembangunan toleransi beragama harus dimulai dari hal-hal yang mendasar terlebih dahulu, yakni kebersamaan antar pemeluk agama. Semangat kebersamaan merupakan potensi dasar yang dimiliki oleh manusia sebagai makhluk sosial. Sejak lahir ke dunia ini manusia sudah membutuhkan bantuan orang lain dan secara naluriah orang lain pun bersedia membantunya. Bantuan tidak mengenal perbedaan dari sisi adat, suku, ras dan agama. Semangat membantu dan kebersamaan semacam itulah yang seharusnya tidak hilang dari diri seorang pemeluk agama ketika dalam realitasnya ia berbeda-beda dalam memeluk agama.
Gagasan untuk membangun toleransi beragama di kalangan polisi ini patut diapresiasi dan didukung sepenuhnya oleh berbagai elemen masyarakat dan para pemeluk agama. Apalagi gagasan ini berangkat dari SPN yang nota bene sebagai lembaga yang mendidik para anggota polisi yang profesional. SPN memiliki tanggung jawab besar untuk meningkatkan citra dan profesionalisme jajaran kepolisian.
Setidaknya, ada tiga implikasi positif yang dapat ditindaklanjuti dari gagasan tersebut: Pertama, secara internal jajaran kepolisian harus melakukan proses pendidikan yang tidak hanya menyentuh aspek fisik dan intelektual saja, melainkan juga aspek sosial, emosional dan spiritual. Selain itu, polisi juga perlu dilatih melalui pendidikan life skill (ketrampilan hidup) secara langsung di masyarakat. Tujuannya agar polisi lebih mengenal dan memahami masyarakat dan sebaliknya masyarakat juga lebih mengetahui kedudukan dan peran polisi di masyarakat. Adanya saling memahami antara polisi dengan masyarakat akan menimbulkan hubungan yang harmonis antar keduanya.
Konsepsi pendidikan tersebut sesuai dengan konsepsi pendidikan yang dikembangkan oleh UNESCO, bahwa pendidikan tidak sekedar mengenalkan pengetahuan kepada peserta didik (learning to know), tetapi peserta didik perlu dimotivasi untuk melakukan sendiri dalam proses pengembangan ilmu (lerning to do) dan merubah dirinya menjadi manusia yang lebih berguna (learning to be) dan bisa hidup bersama di masyarakat dengan baik (learning to life together).
Kedua, semangat toleransi beragama dan kebersamaan yang ditanamkan polisi pada saat pendidikan, hendaknya diwujudkan ketika mereka berkiprah di masyarakat. Kesan ekslusif dan hanya ada di masyarakat pada saat ada masalah, hendaknya dibuang jauh-jauh. Polisi perlu berbaur dan berinteraksi secara intensif dengan masyarakat. Dengan cara tersebut, sikap kebersamaan dan toleransi beragama yang dimiliki oleh Polisi dapat dikembangkan di masyarakat dan secara perlahan dapat merubah citra negatif polisi di masyarakat.
Ketiga, masyarakat perlu mengapresiasi gagasan toleransi beragama yang dikembangkan oleh polisi. Citra negatif yang melekat pada polisi hendaknya disingkirkan dari pandangan masyarakat. Sebagai pemeluk agama yang baik, masyarakat hendaknya mampu berpikir positif (positive thinking) terhadap gagasan atau masukan dari orang atau lembaga lain. Dengan berpikir positif akan lahir persepsi, sikap dan tindakan yang baik. Betapa banyak kerusuhan, tindakan anarkis dan penghancuran rumah ibadah disebabkan karena adanya pikiran yang sempit dan negatif terhadap orang lain. Mengingat pola pikir seseorang merupakan faktor utama dalam pembentukan sikap dan tindakan yang dilakukannya. Jika pola pikirnya positif, maka sikap dan tindakannya pun akan positif dan sebaliknya jika pola pikirnya negatif, akan lahir sikap dan tindakan yang negatif.
Untuk itulah gagasan toleransi beragama yang dibangun dari kerjasama antara pemeluk agama perlu diperluas dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan. Toleransi tidak hanya dibangun melalui wacana dan dialog antar umat beragama, melainkan perlu diwujudkan dalam kerja-kerja nyata di masyarakat. Kita memiliki problem kemanusiaan yang bersifat universal dan membutuhkan pemecahan dari berbagai pemeluk agama. Kemiskinan, pengangguran, global warming, dan krisis moral merupakan problem kemanusiaan yang sedang dihadapi oleh bangsa dan masyarakat Indonesia. Sudah seharusnya, para pemeluk agama saling bahu membahu dalam mengatasi problem kemanusiaan tersebut. Dan kita juga berharap agar pak polisi terus berkomitmen untuk mengembangkan gagasan toleransi beragama dan kebersamaan dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat.
Sunday, 14 August 2011
Wednesday, 26 January 2011
PENGARUH KELUARGA TERHADAP EFEKTIVITAS KERJA
Berbicara tentang efektivitas kerja bukanlah perkara yang mudah. Para pakar di bidang manajemen telah lama melakukan penelitian tentang efektivitas kerja. Walhasil mereka belum mampu menjawab secara tuntas faktor-faktor yang menjadi penyebabnya. Sebagai contoh penelitian yang dilakukan oleh Elton Mayo di Perusahaan Western Electric Company, Amerika Serikat, pada tahun 1924. Dari penelitian tersebut hanya mampu mengungkap bahwa ketidakefektivan bekerja para karyawan disebabkan karena perlakuan yang kurang manusiawi dari para manajernya.[1] Dari hasil penelitian ini, kemudian para pakar di bidang manajemen mencoba mengembangkan ilmu manajemen dengan cara melibatkan ilmu tabiat atau behavioral science.
Akhir-akhir ini sudah ada beberapa pakar manajemen yang mulai memper-hatikan dan memperbincangkan sesuatu yang lebih mendalam dari sekedar tabiat manusia. Orang sudah mulai memperbincangkan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi tabiat manusia. Peter F. Drucker dan Konosuke Matsusita adalah sebagian tokoh yang memandang pentingnya sistem nilai dalam manajemen.[2]
Perubahan yang terjadi pada kajian di bidang manajemen menggiring kita untuk mengkaji lebih jauh tentang perilaku manusia yang melakukan tindakan untuk bekerja secara efektif atau tidak efektif. Dalam hal ini tentunya faktor manusianya yang menjadi urgen untuk dikaji sebagai pelaku utama dalam melakukan pekerjaan.
Menurut Kurt Lewin, perilaku adalah fungsi karakteristik individu dan lingkungan.[3] Karakteristik individu meliputi berbagai variabel seperti motif, nilai-nilai, sifat kepribadian, dan sikap yang saling berinteraksi satu sama lain dan kemudian berinteraksi pula dengan faktor-faktor lingkungan dalam menentukan perilaku. Faktor lingkungan memiliki kekuatan besar dalam menentukan perilaku, bahkan kadang-kadang kekuatannya lebih besar daripada karakteristik individu. Hal inilah yang menjadikan prediksi perilaku lebih kompleks.
Terlepas dari berbagai teori psikologi yang memprediksi perilaku manusia. Jelasnya bahwa perilaku manusia tidaklah sederhana untuk dipahami dan diprediksikan. Begitu banyak faktor-faktor internal dan eksternal dari dimensi masa lalu, saat ini, dan masa datang yang ikut mempengaruhi perilaku manusia.
Bertitik tolak dari penjelasan di atas, secara sederhana dapat diketahui bahwa keluarga merupakan salah satu faktor yang menyumbang adanya pengaruh terhadap efektivitas kerja. Mengingat keluarga merupakan sebagian dari lingkungan yang banyak berinteraksi dengan karyawan atau para pekerja. Meskipun demikian, hal yang menarik untuk diketahui yakni seberapa besar pengaruh tersebut terhadap efektivitas kerja, bagaimana proses terjadinya, dan tindakan apa yang mesti dilakukan untuk meningkatkan efektivitas kerja? Untuk menjawab persoalan yang pertama tentu membutuhkan penelitian yang mendalam. Karenanya pada tulisan ini hanya dijelaskan hal-hal yang berkaitan dengan proses terjadinya dan tindakan-tindakan yang mesti dilakukan agar efektivitas kerja dapat ditingkatkan.
Keluarga merupakan aset yang sangat penting. Individu tidak bisa hidup sendirian, tanpa adanya ikatan dalam keluarga. Secara fitrahnya manusia membutuhkan orang lain untuk berkumpul baik untuk mendapatkan kehangatan maupun untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Tempat berkumpul pertama dan utama bagi manusia adalah keluarga. Oleh karena itu, keluarga memberikan pengaruh yang besar terhadap seluruh anggotanya. Hal ini disebabkan karena di dalam keluarga selalu terjadi interaksi yang paling bermakna dan paling berkenan dengan nilai yang sangat mendasar dan sangat intim. Keluarga merupakan sumber pertama dalam proses sosialisasi dan sebagai transmitter budaya.[4]
Mengingat begitu urgennya keberadaan keluarga, maka di dalam islam proses pembentukan keluarga sangat diperhatikan. Dalam pandangan Islam keluarga merupakan kesatuan hubungan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang dilakukan melalui akad nikah menurut ajaran Islam. Bahkan, dalam Islam diperhatikan proses pembentukan keluarga dari pra-perkawinan, proses berkeluarga hingga masalah perpisahan.
Melalui keluarga seorang pekerja akan mendapatkan nilai-nilai, motif, dan sifat kepribadian. Seberapa besar nilai, motif dan sifat kepribadian yang diterima seorang pekerja sangat bergantung kepada seberapa lama dia berinteraksi dengan keluarganya. Jika waktu 24 jam digunakan untuk bekerja selama 8 jam, maka sisa waktu 16 jam dihabiskan di keluarga. Ada juga waktu 24 jam digunakan untuk bekerja 8 jam, digunakan untuk kegiatan sosial 2 jam, maka sisa waktu 14 jam ada di keluarga. Oleh karena itu, hampir sebagian besar waktu kita banyak dihabiskan di dalam keluarga.
Apabila keluarga yang dijadikan landasan nilai, motif, dan sifat kepribadian anggotanya mengalami ketegangan (penuh konflik), tidak harmonis, dan tidak ada rasa kasih sayang, maka akan berpengaruh terhadap pembentukan nilai, motif, dan sifat kepribadian. Demikian juga, keluarga yang sangat mengedepankan sisi material dalam pembentukan keluarganya, maka akan berpengaruh terhadap nilai, motif, dan sifat keperibadian dari para anggota keluarganya.
Nilai, motif, dan sifat kepribadian inilah yang nantinya dibawa oleh pekerja keluar rumahnya. Jika pekerja tidak banyak berinteraksi dengan masyarakat atau orang lain, maka keluarga memberikan pengaruhi yang signifikan terhadap aktivitas di tempat kerjanya. Berbeda halnya dengan pekerja yang banyak berinteraksi dengan orang lain di luar rumahnya, maka pengaruh terhadap dunia kerjanya bisa berasal dari keluarga dan lingkungan dimana ia berinteraksi.
Untuk menghindar dari pengaruh lingkungan yang tidak memacu pada produktifitas di dunia kerja dibutuhkan adanya pemahaman yang utuh dari seseorang tentang kerja itu sendiri sehingga di dalam dirinya akan terbangun satu kepercayaan yang kuat tentang kerja yang efektif. Disamping itu, di dalam keluarga juga perlu dibangun suasana dan kondisi yang menyenangkan agar individu yang akan bekerja memiliki perasaan yang nyaman, aman, dan penuh kasih. Dari kepercayaan dan perasaan yang telah terbangun dengan baik akan melahirkan kerja yang produktif.[5]
Kerja merupakan hakekat keberadaan kita sebagai manusia. Allah menciptakan manusia dengan perangkat atau potensi yang lengkap agar manusia mampu bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya baik sebagai individu, anggota masyarakat maupun hamba Allah. Manusia diberi panca indera, akal, hati, dan hawa nafsu agar manusia mampu memanfaatkan potensi yang dimilikinya. Allah berfirman “dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya)”.
Dalam Islam dimensi kerja sangat terkait dengan dimensi spiritual. Firman Allah dalam Surat al-Jumuah ayat 10 “Apabila telah selesai melaksanakan shalat hendaklah kamu bertebaran di muka bumi dan mencari ridla Allah serta ingat kepada Allah sebanyak-banyaknya agar kamu memperoleh keberuntungan”. Karena itu ajaran Islam memberikan petunjuk tentang etika bekerja.
Islam melarang umatnya bekerja demi kerja itu sendiri. Menurut Islam, kerja dipandang bernilai sejauh dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia dan menciptakan keseimbangan dalam kehidupan individu dan sosial. Kita bekerja keras sampai larut malam, tetapi lupa dengan kewajiban kita sebagai hamba Allah yang perlu beribadah kepada-Nya. Kita bekerja dengan menguras tenaga tetapi lupa dengan kewajiban-kewajiban sosial kita. Bahkan, kita bekerja hanya untuk menumpuk-numpuk harta dan mencari kesenangan. Oleh karena itu, islam memerintahkan untuk membagi waktu dengan fase sepertiga untuk bekerja, sepertiga untuk istirahat dan tidur, dan sepertiga lagi untuk ibadah, keluarga dan kegiatan sosial.
Kerja merupakan ibadah kepada Allah swt dan karenanya niat untuk mencari ridla-Nya menjadi motivasi kuat dalam melaksanakan kerja itu sendiri. Motivasi merupakan salah satu unsur penentu kesuksesan seseorang dalam berkarir. Ahli Psikologi merumuskan bahwa prestasi adalah motivasi dikalikan dengan kemampuan. Selain motivasi, kemampuan juga menjadi unsur penting dalam meraih kesuksesan bekerja. Rasulullah mengajarkan tentang perlunya keahlian dalam melakukan pekerjaan. Keahlian dalam islam diistilahkan dengan ihsan. Rasulullah mencontohkan bagaimana ketika beliau menyembelih binatang perlu dilakukan secara profesional (ihsan) dengan cara menyiapkan alat yang tajam agar menghasilkan potongan yang maksimal.
Dengan berbekal kepada pemahaman yang utuh tentang kerja, maka akan muncul suatu keyakinan yang kuat dalam diri pekerja untuk melakukan pekerjaan secara efektif. Pekerja berkeyakinan bahwa prestasi kerjanya bukan hanya dinilai oleh atasan langsung, tetapi mendapatkan penilaian langsung dari Allah SWT. Karenanya dia harus bekerja secara maskimal dan dapat menunjukkan eksistensinya sebagai manusia.
Selanjutnya, di rumah juga perlu dibangun keluarga yang harmonis sesuai dengan tujuan pembentukan keluarga yang ada dalam Islam, yakni keluarga yang penuh rasa kasih dan sayang (mawaddah wa rahmah) seperti yang terungkap dalam al-Qur’an surat ar-rum (30) ayat 21. Keluarga yang mawaddah wa rahmah akan memberikan perasaan yang damai dan penuh kasih bagi pekerja sehingga perasaan ini terus terbawa dalam lingkungan kerjanya. Untuk mencapai tujuan tersebut Nabi memberikan petunjuk tentang pembinaan keluarga sebagaimana sabda beliau “ apabila Allah menghendaki suatu keluarga menjadi keluarga yang baik (bahagia), dijadikannya keluarga itu memiliki penghayatan ajaran agama yang benar, anggota keluarga yang muda menghormati yang tua, berkecukupan rezeki dalam kehidupannya, hemat dalam membelanjakan nafkahnya, dan menyadari cacat-cacat mereka dan kemudian melakukan taubat. Jika Allah SWT menghendaki sebaliknya, maka ditinggalkan-Nya mereka dalam kesesatan (H.R. Dailami dari Anas).
Akhirnya penulis menyimpulkan bahwa pengaruh keluarga terhadap efektivitas bekerja ada melalui proses interaksi di dalam keluarga yang nantinya akan melahirkan nilai, motif, dan sifat kepribadian yang melekat pada diri si pekerja. Untuk menghindari adanya pengaruh yang negatif terhadap pekerja, maka diperlukan adanya pemahaman yang utuh tentang kerja dan perlu dukungan yang kuat dari keluarga dalam menciptakan lingkungan keluarga yang harmonis sehingga menimbulkan perasaan yang nyaman dan penuh kasih. Dengan pemahaman akan melahirkan sebuah keyakinan yang kuat dan didukung dengan perasaan yang nyaman dan penuh kasih tentunya akan melahirkan efektivitas dalam bekerja.
Wallahu a’lam bi al-Shawab
[1] Lihat Jurnal Ulumul Qur’an No. 6 Vol. II. 1990. hal 38-40.
[2] Ibid.
[3] dikutip dari Saifuddin Azwar, Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar), cet. VII, 2003, hlm.10.
[4] Syamsu Yusuf dan A. Juntika Nurihsan, Landasan Bimbingan & Konseling, (Bandung: Remaja Rosda Karya), 2005, hlm.177.
[5] Menurut Saifuddin Azwar bahwa kepercayaan dan perasaan merupakan dua unsur yang banyak mempengaruhi perilaku seseorang. Baca Saifuddin Azwar, opcit., hlm. 27.
Akhir-akhir ini sudah ada beberapa pakar manajemen yang mulai memper-hatikan dan memperbincangkan sesuatu yang lebih mendalam dari sekedar tabiat manusia. Orang sudah mulai memperbincangkan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi tabiat manusia. Peter F. Drucker dan Konosuke Matsusita adalah sebagian tokoh yang memandang pentingnya sistem nilai dalam manajemen.[2]
Perubahan yang terjadi pada kajian di bidang manajemen menggiring kita untuk mengkaji lebih jauh tentang perilaku manusia yang melakukan tindakan untuk bekerja secara efektif atau tidak efektif. Dalam hal ini tentunya faktor manusianya yang menjadi urgen untuk dikaji sebagai pelaku utama dalam melakukan pekerjaan.
Menurut Kurt Lewin, perilaku adalah fungsi karakteristik individu dan lingkungan.[3] Karakteristik individu meliputi berbagai variabel seperti motif, nilai-nilai, sifat kepribadian, dan sikap yang saling berinteraksi satu sama lain dan kemudian berinteraksi pula dengan faktor-faktor lingkungan dalam menentukan perilaku. Faktor lingkungan memiliki kekuatan besar dalam menentukan perilaku, bahkan kadang-kadang kekuatannya lebih besar daripada karakteristik individu. Hal inilah yang menjadikan prediksi perilaku lebih kompleks.
Terlepas dari berbagai teori psikologi yang memprediksi perilaku manusia. Jelasnya bahwa perilaku manusia tidaklah sederhana untuk dipahami dan diprediksikan. Begitu banyak faktor-faktor internal dan eksternal dari dimensi masa lalu, saat ini, dan masa datang yang ikut mempengaruhi perilaku manusia.
Bertitik tolak dari penjelasan di atas, secara sederhana dapat diketahui bahwa keluarga merupakan salah satu faktor yang menyumbang adanya pengaruh terhadap efektivitas kerja. Mengingat keluarga merupakan sebagian dari lingkungan yang banyak berinteraksi dengan karyawan atau para pekerja. Meskipun demikian, hal yang menarik untuk diketahui yakni seberapa besar pengaruh tersebut terhadap efektivitas kerja, bagaimana proses terjadinya, dan tindakan apa yang mesti dilakukan untuk meningkatkan efektivitas kerja? Untuk menjawab persoalan yang pertama tentu membutuhkan penelitian yang mendalam. Karenanya pada tulisan ini hanya dijelaskan hal-hal yang berkaitan dengan proses terjadinya dan tindakan-tindakan yang mesti dilakukan agar efektivitas kerja dapat ditingkatkan.
Keluarga merupakan aset yang sangat penting. Individu tidak bisa hidup sendirian, tanpa adanya ikatan dalam keluarga. Secara fitrahnya manusia membutuhkan orang lain untuk berkumpul baik untuk mendapatkan kehangatan maupun untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Tempat berkumpul pertama dan utama bagi manusia adalah keluarga. Oleh karena itu, keluarga memberikan pengaruh yang besar terhadap seluruh anggotanya. Hal ini disebabkan karena di dalam keluarga selalu terjadi interaksi yang paling bermakna dan paling berkenan dengan nilai yang sangat mendasar dan sangat intim. Keluarga merupakan sumber pertama dalam proses sosialisasi dan sebagai transmitter budaya.[4]
Mengingat begitu urgennya keberadaan keluarga, maka di dalam islam proses pembentukan keluarga sangat diperhatikan. Dalam pandangan Islam keluarga merupakan kesatuan hubungan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang dilakukan melalui akad nikah menurut ajaran Islam. Bahkan, dalam Islam diperhatikan proses pembentukan keluarga dari pra-perkawinan, proses berkeluarga hingga masalah perpisahan.
Melalui keluarga seorang pekerja akan mendapatkan nilai-nilai, motif, dan sifat kepribadian. Seberapa besar nilai, motif dan sifat kepribadian yang diterima seorang pekerja sangat bergantung kepada seberapa lama dia berinteraksi dengan keluarganya. Jika waktu 24 jam digunakan untuk bekerja selama 8 jam, maka sisa waktu 16 jam dihabiskan di keluarga. Ada juga waktu 24 jam digunakan untuk bekerja 8 jam, digunakan untuk kegiatan sosial 2 jam, maka sisa waktu 14 jam ada di keluarga. Oleh karena itu, hampir sebagian besar waktu kita banyak dihabiskan di dalam keluarga.
Apabila keluarga yang dijadikan landasan nilai, motif, dan sifat kepribadian anggotanya mengalami ketegangan (penuh konflik), tidak harmonis, dan tidak ada rasa kasih sayang, maka akan berpengaruh terhadap pembentukan nilai, motif, dan sifat kepribadian. Demikian juga, keluarga yang sangat mengedepankan sisi material dalam pembentukan keluarganya, maka akan berpengaruh terhadap nilai, motif, dan sifat keperibadian dari para anggota keluarganya.
Nilai, motif, dan sifat kepribadian inilah yang nantinya dibawa oleh pekerja keluar rumahnya. Jika pekerja tidak banyak berinteraksi dengan masyarakat atau orang lain, maka keluarga memberikan pengaruhi yang signifikan terhadap aktivitas di tempat kerjanya. Berbeda halnya dengan pekerja yang banyak berinteraksi dengan orang lain di luar rumahnya, maka pengaruh terhadap dunia kerjanya bisa berasal dari keluarga dan lingkungan dimana ia berinteraksi.
Untuk menghindar dari pengaruh lingkungan yang tidak memacu pada produktifitas di dunia kerja dibutuhkan adanya pemahaman yang utuh dari seseorang tentang kerja itu sendiri sehingga di dalam dirinya akan terbangun satu kepercayaan yang kuat tentang kerja yang efektif. Disamping itu, di dalam keluarga juga perlu dibangun suasana dan kondisi yang menyenangkan agar individu yang akan bekerja memiliki perasaan yang nyaman, aman, dan penuh kasih. Dari kepercayaan dan perasaan yang telah terbangun dengan baik akan melahirkan kerja yang produktif.[5]
Kerja merupakan hakekat keberadaan kita sebagai manusia. Allah menciptakan manusia dengan perangkat atau potensi yang lengkap agar manusia mampu bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya baik sebagai individu, anggota masyarakat maupun hamba Allah. Manusia diberi panca indera, akal, hati, dan hawa nafsu agar manusia mampu memanfaatkan potensi yang dimilikinya. Allah berfirman “dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya)”.
Dalam Islam dimensi kerja sangat terkait dengan dimensi spiritual. Firman Allah dalam Surat al-Jumuah ayat 10 “Apabila telah selesai melaksanakan shalat hendaklah kamu bertebaran di muka bumi dan mencari ridla Allah serta ingat kepada Allah sebanyak-banyaknya agar kamu memperoleh keberuntungan”. Karena itu ajaran Islam memberikan petunjuk tentang etika bekerja.
Islam melarang umatnya bekerja demi kerja itu sendiri. Menurut Islam, kerja dipandang bernilai sejauh dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia dan menciptakan keseimbangan dalam kehidupan individu dan sosial. Kita bekerja keras sampai larut malam, tetapi lupa dengan kewajiban kita sebagai hamba Allah yang perlu beribadah kepada-Nya. Kita bekerja dengan menguras tenaga tetapi lupa dengan kewajiban-kewajiban sosial kita. Bahkan, kita bekerja hanya untuk menumpuk-numpuk harta dan mencari kesenangan. Oleh karena itu, islam memerintahkan untuk membagi waktu dengan fase sepertiga untuk bekerja, sepertiga untuk istirahat dan tidur, dan sepertiga lagi untuk ibadah, keluarga dan kegiatan sosial.
Kerja merupakan ibadah kepada Allah swt dan karenanya niat untuk mencari ridla-Nya menjadi motivasi kuat dalam melaksanakan kerja itu sendiri. Motivasi merupakan salah satu unsur penentu kesuksesan seseorang dalam berkarir. Ahli Psikologi merumuskan bahwa prestasi adalah motivasi dikalikan dengan kemampuan. Selain motivasi, kemampuan juga menjadi unsur penting dalam meraih kesuksesan bekerja. Rasulullah mengajarkan tentang perlunya keahlian dalam melakukan pekerjaan. Keahlian dalam islam diistilahkan dengan ihsan. Rasulullah mencontohkan bagaimana ketika beliau menyembelih binatang perlu dilakukan secara profesional (ihsan) dengan cara menyiapkan alat yang tajam agar menghasilkan potongan yang maksimal.
Dengan berbekal kepada pemahaman yang utuh tentang kerja, maka akan muncul suatu keyakinan yang kuat dalam diri pekerja untuk melakukan pekerjaan secara efektif. Pekerja berkeyakinan bahwa prestasi kerjanya bukan hanya dinilai oleh atasan langsung, tetapi mendapatkan penilaian langsung dari Allah SWT. Karenanya dia harus bekerja secara maskimal dan dapat menunjukkan eksistensinya sebagai manusia.
Selanjutnya, di rumah juga perlu dibangun keluarga yang harmonis sesuai dengan tujuan pembentukan keluarga yang ada dalam Islam, yakni keluarga yang penuh rasa kasih dan sayang (mawaddah wa rahmah) seperti yang terungkap dalam al-Qur’an surat ar-rum (30) ayat 21. Keluarga yang mawaddah wa rahmah akan memberikan perasaan yang damai dan penuh kasih bagi pekerja sehingga perasaan ini terus terbawa dalam lingkungan kerjanya. Untuk mencapai tujuan tersebut Nabi memberikan petunjuk tentang pembinaan keluarga sebagaimana sabda beliau “ apabila Allah menghendaki suatu keluarga menjadi keluarga yang baik (bahagia), dijadikannya keluarga itu memiliki penghayatan ajaran agama yang benar, anggota keluarga yang muda menghormati yang tua, berkecukupan rezeki dalam kehidupannya, hemat dalam membelanjakan nafkahnya, dan menyadari cacat-cacat mereka dan kemudian melakukan taubat. Jika Allah SWT menghendaki sebaliknya, maka ditinggalkan-Nya mereka dalam kesesatan (H.R. Dailami dari Anas).
Akhirnya penulis menyimpulkan bahwa pengaruh keluarga terhadap efektivitas bekerja ada melalui proses interaksi di dalam keluarga yang nantinya akan melahirkan nilai, motif, dan sifat kepribadian yang melekat pada diri si pekerja. Untuk menghindari adanya pengaruh yang negatif terhadap pekerja, maka diperlukan adanya pemahaman yang utuh tentang kerja dan perlu dukungan yang kuat dari keluarga dalam menciptakan lingkungan keluarga yang harmonis sehingga menimbulkan perasaan yang nyaman dan penuh kasih. Dengan pemahaman akan melahirkan sebuah keyakinan yang kuat dan didukung dengan perasaan yang nyaman dan penuh kasih tentunya akan melahirkan efektivitas dalam bekerja.
Wallahu a’lam bi al-Shawab
[1] Lihat Jurnal Ulumul Qur’an No. 6 Vol. II. 1990. hal 38-40.
[2] Ibid.
[3] dikutip dari Saifuddin Azwar, Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar), cet. VII, 2003, hlm.10.
[4] Syamsu Yusuf dan A. Juntika Nurihsan, Landasan Bimbingan & Konseling, (Bandung: Remaja Rosda Karya), 2005, hlm.177.
[5] Menurut Saifuddin Azwar bahwa kepercayaan dan perasaan merupakan dua unsur yang banyak mempengaruhi perilaku seseorang. Baca Saifuddin Azwar, opcit., hlm. 27.
Friday, 12 November 2010
AKTUALISASI NILAI-NILAI QURBAN DALAM KEHIDUPAN
Istilah hari raya qurban dalam pelafalan orang Indonesia seringkali disebut dengan istilah hari raya korban. Padahal makna korban lebih identik dengan arti mangsa seperti kata korban kecelakaan, korban bencana. Jika makna ini dikaitkan dengan hari raya idul adha berarti hari dimana harus ada korban yang siap untuk dimangsa, yakni daging. Makna ini menjadi sangat sederhana dan bisa menimbulkan salah tafsir. Jika seorang berkata ”kalbuku sakit”, maksud sebenarnya adalah qalbu (hati) yang sakit, tetapi pengucapannya kalbu, dalam bahasa arab berarti anjing. Oleh karena itu, istilah hari raya korban perlu diluruskan menjadi hara raya qurban, yang berasal dari bahasa arab qaraba yang berarti dekat. Jadi orang yang berqurban adalah orang yang mendekatkan diri kepada Allah.
Mendekatkan diri kepada Allah menjadi kata kunci dan hakekat dari perayaan idul qurban. Pada kata inilah terjadi titik temu antara orang mampu yang berqurban dengan orang tidak mampu yang mendapatkan daging qurban. Mendekatkan diri menjadi hak setiap individu dalam menjalankan ajaran agamanya. Orang yang berqurban tidak akan mendapatkan manfaatnya manakala dirinya jauh dari Tuhannya. Demikian juga, orang yang mendapatkan daging qurban tidak memetik hasilnya apabila dirinya tidak dekat dengan Tuhannya. Firman Allah swt:
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
Artinya: Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Kabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Kabil). Ia berkata (Kabil): "Aku pasti membunuhmu!" Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa".(Q.S. Al-Maidah: 27)
Dalam mendekatkan diri kepada Allah swt, manusia oleh Allah diberikan potensi besar berupa akal, nafsu dan hati. Akal yang diberikan oleh Allah hendaknya difungsikan secara maksimal, baik dalam rangka menuntut ilmu pengetahuan, berinovasi dalam memperkaya kehidupan, maupun dalam rangka membangun hubungan dengan Tuhan. Sebagai bangsa yang dianugerahkan sumber daya alam yang berlimpah, sudahkah kita memfungsikan akal kita secara maksimal? Pertanyaan ini perlu kita ajukan dalam diri kita secara terus menerus agar menjadi bahan introspeksi diri. Bangsa yang maju dan bangsa yang besar adalah bangsa yang memfungsikan akal dengan sebaik-baiknya. Indikatornya, bangsa ini adalah bangsa yang cinta dan peduli pada pendidikan masyarakatnya, bangsa yang mampu menggali kekayaan alamnya, dan bangsa yang hidupnya dibangun melalui pola pikir dan perilaku yang rasional.
Meskipun demikian, akal bukanlah satu-satunya alat yang dapat mengantarkan kita pada kebahagiaan yang sejati. Akal manusia memiliki keterbatasan-keterbatasan. Betapa banyak kita menyaksikan peristiwa-peristiwa yang ada di dunia ini, akal tidak mampu menjangkaunya. Peristiwa tsunami, gempa bumi, dan masalah-masalah gaib merupakan sebagian contoh peristiwa-peristiwa yang sulit dijangkau oleh akal manusia. Pada konteks ini manusia harus mengakui adanya alat diri lain yang perlu diikuti yaitu hati nurani. Hati nurani inilah yang perlu dipedomani agar manusia dapat mendekatkan dirinya kepada Tuhan. Hati dalam diri manusia menjadi benteng pertahanan. Jika hati ini sakit atau tertutup dengan nilai-nilai kebaikan, maka manusia akan mengalami kerugiaan dan terjerumus dalam kehidupan yang jauh dari Tuhan.
Selain akal dan hati, manusia juga diberikan nafsu. Dengan nafsu manusia berani untuk melawan kejahatan. Dengan nafsu, manusia dapat mengembangkan kasih sayang, dan dengan nafsu juga manusia dapat terjerumus dalam kenistaan. Untuk itulah nafsu yang diberikan Allah pada manusia hendaknya diarahkan pada nafsu yang bersifat positif. Manusia boleh berambisi dalam meraih kesuksesan, pangkat, jabatan, dan berbagai posisi, tetapi ambisi tersebut harus disesuaikan dengan kompetensi, profesionalitas dan moralitas yang baik. Jangan kita mengorbankan diri kita sendiri hanya untuk meraih kesuksesan duniawi yang sifatnya sementara.
Dalam memaksimalkan ketiga alat yang diberikan oleh Allah, kita bisa belajar dari peristiwa qurban yang dilakukan oleh Ibrahim AS. Ibrahim yang dilahirkan dalam lingkungan manusia yang menyembah berhala berupa binatang-binatang dan patung-patung yang terbuat dari bebatuan. Suatu benda yang tidak dapat menghidupkan atau mematikan apalagi menciptakan. Keadaan masyarakat pada saat itu tidak memfungsikan akalnya dengan sebaik-baiknya. Mereka tidak dapat berfikir dengan baik, mengapa patung yang tidak bisa berbuat apa-apa, disembah dan dihormati.
Berbeda dengan masyarakatnya pada saat itu, Ibrahim mencoba memaksimalkan akalnya. Dia memperhatikan dan mengkaji bintang, bulan, matahari, yang pada saat itu dianggap sebagai kekuatan. Melalui penalaran yang matang akhirnya Ibrahim mampu menyimpulkan bahwa benda-benda tersebut bukanlah Tuhan yang memberikan kekuatan. Benda-benda tersebut hanyalah makhluk dan ciptaan-Nya. Akhirnya Ibrahim menemukan Tuhannya. Ia yakin Tuhan Allah sebagai Tuhan yang Esa dan Tuhan yang wajib disembah. Dari pengalaman Ibrahim inilah lahir satu prinsip penting dalam menjalankan agama yakni orang yang beragama harus berangkat dari satu Keyakinan kuat kepada Allah SWT. Keyakinan inilah yang menjadi pondasi dalam menjalani kehidupan keberagamaannya.
Keyakinan Ibrahim ini diuji oleh Allah melalui peristiwa penyembelihan anaknya Ismail. Anak yang diharapkan oleh keluarga Ibrahim cukup lama. Ibrahim sudah tua belum dikarunia anak dari pernikahannya dengan siti sarah. Akhirnya siti Sarah menganjurkan untuk menikahi pembantunya Siti Hajar agar dia memperoleh keturunan. Melalui pernikahan dengan Siti hajar akhirnya Ibrahim memperoleh anak yang bernama ismail, dan tidak berlangsung lama siti Sarah (isteri pertama Ibrahim) mengandung dan melahirkan Ishak as. Ujian utama kepada Ibrahim berupa nafsu. Apakah ibrahim berani untuk mengorbankan anaknya, tegakah ibrahim mengorbankan anaknya demi keyakinannya kepada Allah, siapkah Ibrahim mengorbankan nafsu dirinya untuk mempertahankan anaknya? Nyatanya Ibrahim mampu menyalurkan nafsunya dengan baik, ia berani, punya tekad yang kuat, dan hati yang lapang.
Manusia akan terhalang berhubungan dengan Tuhannya manakala manusia tersebut tertutup hatinya oleh keego-an dirinya. Manusia dibimbing oleh hawa nafsu untuk terus mengejar keaku-annya. Manusia selalu mengejar harta dan menumpuk-numpuknya, tergila-gila pada jabatan, segala kepandaian dikuasai, dan segala kekuatan dimilikinya. Sementara kedekatan dirinya kepada Tuhan senantiasa diabaikan. Contoh yang sederhana, manusia selalu menganggap dirinya tidak mampu untuk berqurban. Padahal di sisi lain ia mampu membeli televisi yang harganya sama dengan hewan qurban. Merasa tidak puas dengan televisi, manusia membeli kulkas, membeli emas, membeli kendaraan, dan sebagainya. Sementara untuk membeli hewan qurban yang harganya tidak seberapa selalu beralasan tidak mampu. Inilah contoh sederhana betapa manusia banyak yang mementingkan keegoan dirinya dan mengabaikan perintah Tuhannya untuk berqurban.
Menyembelih hewan ternak dan membagi-bagikan dagingnya kepada sanak kerabat, tetangga dan teman dekat merupakan wujud nyata latihan untuk mengendalikan hawa nafsu dan egoisitas ke-aku-an agar tunduk dan patuh di hadapan Tuhan. Selain itu, kita juga dapat berbagi protein kepada mereka-mereka yang selama ini belum banyak mendapatkan protein. Jika pada ramadlan yang lalu ada kewajiban setiap individu (berupa zakatfitrah) untuk memberikan bekal karbohidrat bagi manusia. Sekarang umat Islam dianjurkan untuk melengkapinya dengan memberikan protein yang juga menjadi kebutuhan manusia. Allah sama sekali tidak membutuhkan darah dan dagingnya tetapi Allah hanya akan menilai ketaqwaan yang mengiringi penyembelihan hewan qurban.
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُون
Artinya: Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik (QS. Al-hadid: 16).
Para ulama banyak memberikan penjelasan tentang hikmah dan fadilah dari peristiwa qurban, diantaranya: menghidupkan sunnah Nabi Ibrahim, mendidik jiwa ke arah taqwa, mengikis sifat tamak, menjalin hubungan kasih sayang dan sebagainya. Dari sekian hikmah tersebut, hal terpenting yang dapat dijadikan pelajaran dan pegangan dari peristiwa qurban yakni adanya ujian dalam menjalani kehidupan dan keberagamaan ”Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (Q.S. Al-Mulk:2). Ujian inilah yang menjadi ukuran kualitas seseorang. Nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad telah menjalani berbagai cobaan, ada yang dimakan ikan hiu, ada yang dibakar, ada yang terkena penyakit, ada yang dipenjara, dan sebagainya. Begitu juga, para wali, orang-orang sukses banyak mendapatkan ujian dan tantangan dalam menjalani kehidupannya.
Untuk menjalani ujian dengan baik, maka manusia membutuhkan alat petunjuk yang menjadi pedoman hidupnya. Alat inilah yang disebut dengan hati. Rasulullah bersabda:
ألا وإن فى الجسد مضغة اذا صلحت صلح الجسد كله واذا فسدت فسد الجسد كله الا وهي القلب
Artinya: Ingatlah sesungguhnya di dalam jasad terdapat sekerat daging, jika sekarat daging tersebut baik, maka seluruh jasad akan baik. Namun jika sekarat daging tersebut rusak, maka seluruh jasad jug akan rusak, ingatlah sekerat daging yang dimaksud adalah hati. (H.R. Bukhari dan Muslim).
Sebagai kata akhir, marilah peringatan hari idul adha kali ini dapat dijadikan sebagai bahan introspeksi diri di akhir tahun. sudahkah tiga potensi yang diberikan Allah berupa akal, nafsu dan hati difungsikan dengan sebaik-baiknya? Pertanyaan ini sejatinya terus menerus menghiasi diri ini agar kita sebagai individu dan makhluk social dapat berbuat maksimal dan mampu menjalankan perannya sebagai hamba dan Khalifah Allah di muka bumi. Akhirnya, marilah kita berdo’a kepada Allah swt seraya menundukkan kepala kehadirat-Nya. Kita mohon ampun atas segala dosa dan kesalahan yang telah kita perbuat dan kita memohon mudah-mudahan Allah memberikan hidayah dan taufik-Nya sehingga kita dapat memaksimalkan potensi yang diberikan oleh Allah dalam menjalani kehidupan ini. Amin 3x Ya Rabbal Aalamin.
Mendekatkan diri kepada Allah menjadi kata kunci dan hakekat dari perayaan idul qurban. Pada kata inilah terjadi titik temu antara orang mampu yang berqurban dengan orang tidak mampu yang mendapatkan daging qurban. Mendekatkan diri menjadi hak setiap individu dalam menjalankan ajaran agamanya. Orang yang berqurban tidak akan mendapatkan manfaatnya manakala dirinya jauh dari Tuhannya. Demikian juga, orang yang mendapatkan daging qurban tidak memetik hasilnya apabila dirinya tidak dekat dengan Tuhannya. Firman Allah swt:
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
Artinya: Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Kabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Kabil). Ia berkata (Kabil): "Aku pasti membunuhmu!" Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa".(Q.S. Al-Maidah: 27)
Dalam mendekatkan diri kepada Allah swt, manusia oleh Allah diberikan potensi besar berupa akal, nafsu dan hati. Akal yang diberikan oleh Allah hendaknya difungsikan secara maksimal, baik dalam rangka menuntut ilmu pengetahuan, berinovasi dalam memperkaya kehidupan, maupun dalam rangka membangun hubungan dengan Tuhan. Sebagai bangsa yang dianugerahkan sumber daya alam yang berlimpah, sudahkah kita memfungsikan akal kita secara maksimal? Pertanyaan ini perlu kita ajukan dalam diri kita secara terus menerus agar menjadi bahan introspeksi diri. Bangsa yang maju dan bangsa yang besar adalah bangsa yang memfungsikan akal dengan sebaik-baiknya. Indikatornya, bangsa ini adalah bangsa yang cinta dan peduli pada pendidikan masyarakatnya, bangsa yang mampu menggali kekayaan alamnya, dan bangsa yang hidupnya dibangun melalui pola pikir dan perilaku yang rasional.
Meskipun demikian, akal bukanlah satu-satunya alat yang dapat mengantarkan kita pada kebahagiaan yang sejati. Akal manusia memiliki keterbatasan-keterbatasan. Betapa banyak kita menyaksikan peristiwa-peristiwa yang ada di dunia ini, akal tidak mampu menjangkaunya. Peristiwa tsunami, gempa bumi, dan masalah-masalah gaib merupakan sebagian contoh peristiwa-peristiwa yang sulit dijangkau oleh akal manusia. Pada konteks ini manusia harus mengakui adanya alat diri lain yang perlu diikuti yaitu hati nurani. Hati nurani inilah yang perlu dipedomani agar manusia dapat mendekatkan dirinya kepada Tuhan. Hati dalam diri manusia menjadi benteng pertahanan. Jika hati ini sakit atau tertutup dengan nilai-nilai kebaikan, maka manusia akan mengalami kerugiaan dan terjerumus dalam kehidupan yang jauh dari Tuhan.
Selain akal dan hati, manusia juga diberikan nafsu. Dengan nafsu manusia berani untuk melawan kejahatan. Dengan nafsu, manusia dapat mengembangkan kasih sayang, dan dengan nafsu juga manusia dapat terjerumus dalam kenistaan. Untuk itulah nafsu yang diberikan Allah pada manusia hendaknya diarahkan pada nafsu yang bersifat positif. Manusia boleh berambisi dalam meraih kesuksesan, pangkat, jabatan, dan berbagai posisi, tetapi ambisi tersebut harus disesuaikan dengan kompetensi, profesionalitas dan moralitas yang baik. Jangan kita mengorbankan diri kita sendiri hanya untuk meraih kesuksesan duniawi yang sifatnya sementara.
Dalam memaksimalkan ketiga alat yang diberikan oleh Allah, kita bisa belajar dari peristiwa qurban yang dilakukan oleh Ibrahim AS. Ibrahim yang dilahirkan dalam lingkungan manusia yang menyembah berhala berupa binatang-binatang dan patung-patung yang terbuat dari bebatuan. Suatu benda yang tidak dapat menghidupkan atau mematikan apalagi menciptakan. Keadaan masyarakat pada saat itu tidak memfungsikan akalnya dengan sebaik-baiknya. Mereka tidak dapat berfikir dengan baik, mengapa patung yang tidak bisa berbuat apa-apa, disembah dan dihormati.
Berbeda dengan masyarakatnya pada saat itu, Ibrahim mencoba memaksimalkan akalnya. Dia memperhatikan dan mengkaji bintang, bulan, matahari, yang pada saat itu dianggap sebagai kekuatan. Melalui penalaran yang matang akhirnya Ibrahim mampu menyimpulkan bahwa benda-benda tersebut bukanlah Tuhan yang memberikan kekuatan. Benda-benda tersebut hanyalah makhluk dan ciptaan-Nya. Akhirnya Ibrahim menemukan Tuhannya. Ia yakin Tuhan Allah sebagai Tuhan yang Esa dan Tuhan yang wajib disembah. Dari pengalaman Ibrahim inilah lahir satu prinsip penting dalam menjalankan agama yakni orang yang beragama harus berangkat dari satu Keyakinan kuat kepada Allah SWT. Keyakinan inilah yang menjadi pondasi dalam menjalani kehidupan keberagamaannya.
Keyakinan Ibrahim ini diuji oleh Allah melalui peristiwa penyembelihan anaknya Ismail. Anak yang diharapkan oleh keluarga Ibrahim cukup lama. Ibrahim sudah tua belum dikarunia anak dari pernikahannya dengan siti sarah. Akhirnya siti Sarah menganjurkan untuk menikahi pembantunya Siti Hajar agar dia memperoleh keturunan. Melalui pernikahan dengan Siti hajar akhirnya Ibrahim memperoleh anak yang bernama ismail, dan tidak berlangsung lama siti Sarah (isteri pertama Ibrahim) mengandung dan melahirkan Ishak as. Ujian utama kepada Ibrahim berupa nafsu. Apakah ibrahim berani untuk mengorbankan anaknya, tegakah ibrahim mengorbankan anaknya demi keyakinannya kepada Allah, siapkah Ibrahim mengorbankan nafsu dirinya untuk mempertahankan anaknya? Nyatanya Ibrahim mampu menyalurkan nafsunya dengan baik, ia berani, punya tekad yang kuat, dan hati yang lapang.
Manusia akan terhalang berhubungan dengan Tuhannya manakala manusia tersebut tertutup hatinya oleh keego-an dirinya. Manusia dibimbing oleh hawa nafsu untuk terus mengejar keaku-annya. Manusia selalu mengejar harta dan menumpuk-numpuknya, tergila-gila pada jabatan, segala kepandaian dikuasai, dan segala kekuatan dimilikinya. Sementara kedekatan dirinya kepada Tuhan senantiasa diabaikan. Contoh yang sederhana, manusia selalu menganggap dirinya tidak mampu untuk berqurban. Padahal di sisi lain ia mampu membeli televisi yang harganya sama dengan hewan qurban. Merasa tidak puas dengan televisi, manusia membeli kulkas, membeli emas, membeli kendaraan, dan sebagainya. Sementara untuk membeli hewan qurban yang harganya tidak seberapa selalu beralasan tidak mampu. Inilah contoh sederhana betapa manusia banyak yang mementingkan keegoan dirinya dan mengabaikan perintah Tuhannya untuk berqurban.
Menyembelih hewan ternak dan membagi-bagikan dagingnya kepada sanak kerabat, tetangga dan teman dekat merupakan wujud nyata latihan untuk mengendalikan hawa nafsu dan egoisitas ke-aku-an agar tunduk dan patuh di hadapan Tuhan. Selain itu, kita juga dapat berbagi protein kepada mereka-mereka yang selama ini belum banyak mendapatkan protein. Jika pada ramadlan yang lalu ada kewajiban setiap individu (berupa zakatfitrah) untuk memberikan bekal karbohidrat bagi manusia. Sekarang umat Islam dianjurkan untuk melengkapinya dengan memberikan protein yang juga menjadi kebutuhan manusia. Allah sama sekali tidak membutuhkan darah dan dagingnya tetapi Allah hanya akan menilai ketaqwaan yang mengiringi penyembelihan hewan qurban.
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُون
Artinya: Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik (QS. Al-hadid: 16).
Para ulama banyak memberikan penjelasan tentang hikmah dan fadilah dari peristiwa qurban, diantaranya: menghidupkan sunnah Nabi Ibrahim, mendidik jiwa ke arah taqwa, mengikis sifat tamak, menjalin hubungan kasih sayang dan sebagainya. Dari sekian hikmah tersebut, hal terpenting yang dapat dijadikan pelajaran dan pegangan dari peristiwa qurban yakni adanya ujian dalam menjalani kehidupan dan keberagamaan ”Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (Q.S. Al-Mulk:2). Ujian inilah yang menjadi ukuran kualitas seseorang. Nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad telah menjalani berbagai cobaan, ada yang dimakan ikan hiu, ada yang dibakar, ada yang terkena penyakit, ada yang dipenjara, dan sebagainya. Begitu juga, para wali, orang-orang sukses banyak mendapatkan ujian dan tantangan dalam menjalani kehidupannya.
Untuk menjalani ujian dengan baik, maka manusia membutuhkan alat petunjuk yang menjadi pedoman hidupnya. Alat inilah yang disebut dengan hati. Rasulullah bersabda:
ألا وإن فى الجسد مضغة اذا صلحت صلح الجسد كله واذا فسدت فسد الجسد كله الا وهي القلب
Artinya: Ingatlah sesungguhnya di dalam jasad terdapat sekerat daging, jika sekarat daging tersebut baik, maka seluruh jasad akan baik. Namun jika sekarat daging tersebut rusak, maka seluruh jasad jug akan rusak, ingatlah sekerat daging yang dimaksud adalah hati. (H.R. Bukhari dan Muslim).
Sebagai kata akhir, marilah peringatan hari idul adha kali ini dapat dijadikan sebagai bahan introspeksi diri di akhir tahun. sudahkah tiga potensi yang diberikan Allah berupa akal, nafsu dan hati difungsikan dengan sebaik-baiknya? Pertanyaan ini sejatinya terus menerus menghiasi diri ini agar kita sebagai individu dan makhluk social dapat berbuat maksimal dan mampu menjalankan perannya sebagai hamba dan Khalifah Allah di muka bumi. Akhirnya, marilah kita berdo’a kepada Allah swt seraya menundukkan kepala kehadirat-Nya. Kita mohon ampun atas segala dosa dan kesalahan yang telah kita perbuat dan kita memohon mudah-mudahan Allah memberikan hidayah dan taufik-Nya sehingga kita dapat memaksimalkan potensi yang diberikan oleh Allah dalam menjalani kehidupan ini. Amin 3x Ya Rabbal Aalamin.
PENDIDIKAN KARAKTER DAN LIFE SKILL BAGI PEMUDA INDONESIA
Ekspektasi masyarakat terhadap kaum muda amat besar dalam mengawal perubahan-perubahan yang ada di Indonesia. Paling tidak, ada dua alasan besar mengapa masyarakat memiliki ekspektasi yang besar terhadap kaum muda. Pertama, pemuda pada umumnya memiliki idealisme, intelektual dan semangat untuk melakukan perubahan. Kedua, dalam catatan sejarah di Indonesia, pemuda angkatan 28, angkatan 45, angkatan 66, angkatan 74 dan angkatan 98 telah menorehkan sejarah yang gemilang dalam melakukan perubahan dan perbaikan kehidupan bermasyarakat dan berbangsa di Indonesia.
Ekspektasi masyarakat yang besar tersebut jangan sampai ternodai oleh ulah para pemuda yang kurang bertanggung jawab dalam mempertahankan eksistensi dan perannya. Mereka hanya bangga sebagai pemuda, tetapi sikap dan perilakunya hanya berhura-hura, malas-malasan, dan acuh tak acuh dengan kegiatan sosial-kemasyarakatan. Demikian juga, masyarakat tidak ingin dibebankan oleh pemuda akibat sikap dan perilaku yang mereka lakukan seperti tawuran, konflik pemuda, narkoba dan sebagainya.
Masyarakat berharap agar para pemuda mengambil bagian dalam mengusung proses perubahan[1] yang terjadi di Indonesia. Bagi masyarakat, perubahan merupakan sebuah keniscayaan. Tanpa perubahan hidup ini tidak memiliki makna apa-apa. Perubahan yang diharapkan oleh masyarakat bukan hanya pada perubahan kelembagaan dan sistem pemerintahan saja, melainkan juga pada perubahan yang bersifat kultural. Artinya pola pikir dan sikap masyarakat juga perlu berubah seiring dengan tuntutan reformasi dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahkan, masyarakat berharap perubahan sistem pemerintahan, kelembagaan, dan kultur dapat berimplikasi pada perubahan kehidupan masyarakat yang lebih adil, demokratis dan sejahtera.
Harapan besar masyarakat akan tercapai manakala pemuda memiliki karakter dan keahlian hidup (life skill). Karakter merupakan filsafat pribadi tentang nilai-nilai hidup yang paling mendasar, seperti dermawan, kreatif, disiplin, adil dan sebagainya. Sedangkan keahlian hidup (life skill) adalah kemampuan seseorang dalam berinteraksi dengan orang lain atau lingkungan sehingga ia dapat menjalani kehidupan dengan baik. Keahlian hidup dapat diwujudkan dalam bentuk kesadaran social (social awareness), kemampuan membangun tim dan menjalin interaksi secara konstruktif.
Persoalannya, bagaimana membentuk karakter dan keahlian hidup itu dilakukan di kalangan pemuda? Jika dilakukan melalui proses pendidikan apakah pendidikan karakter dan keahlian hidup itu sama dengan memberikan pendidikan agama atau pendidikan kewarganegaraan yang masuk dalam kurikulum? Jika tidak, bagaimana proses pendidikannya?
Makalah singkat ini mencoba menawarkan arah dan proses pendidikan karakter dan keahlian hidup bagi para pemuda. Namun, sebelumnya Penulis akan menguraikan tentang perlunya pengakuan dari elemen masyarakat terhadap peran yang dilakukan oleh pemuda. Tanpa ada pengakuan yang kuat dari masyarakat, maka keberadaan dan peran pemuda menjadi tidak berarti apa-apa.
A. Pengakuan Peran Pemuda di Masyarakat
Menurut Ramlan, jumlah generasi muda yang begitu besar bisa berarti keuntungan sekaligus kerugian bagi bangsa Indonesia yang sedang membangun. Ia merupakan keuntungan jika dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk kepentingan pembangunan, akan tetapi kerugianlah yang akan terjadi jika mereka menjadi beban dan tanggungan bagi anggota masyarakat lainnya.[2] Mengingat komposisi generasi muda yang berusia antara 15-35 tahun merupakan jumlah terbesar dari penduduk Indonesia, yaitu sebesar 37% dari total Penduduk Indonesia yang 220 juta.[3]
Jumlah generasi muda yang besar tersebut terkadang hanya dijadikan sebagai komoditas politik belaka bahwa pemuda merupakan agen perubahan dan generasi yang sangat diharapkan eksistensinya. Sementara, pengakuan nyata terhadap generasi muda sebagai kategori sosial yang menjadi elemen penting dalam kehidupan sosial kemasyarakatan kurang mendapatkan tempat.[4] Pemuda masih dianggap anak-anak apabila mereka belum menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, pekerjaan tetap dan memiliki emosi yang stabil.[5] Karenanya, banyak pemuda yang pragmatis dengan mengambil sikap acuh tak acuh dengan problematika yang berkembang di masyarakat atau hanya tekun belajar untuk meraih prestasi yang tinggi tanpa peduli dengan kehidupan orang lain.
Akibat lemahnya pengakuan terhadap pemuda, mereka mengalami problem identitas yang berpotensi menggiring pada melemahnya ikatan-ikatan sosial di antara pemuda dan masyarakat. Mereka mengalami disorientasi sosial terhadap fungsi dan perannya sebagai pelaku perubahan.[6] Padahal salah satu hal yang membuat peran pemuda menjadi sangat penting adalah karena keberadaan pemuda yang mengisyaratkan adanya semangat perubahan.[7] Jiwa mereka masih “segar” dan “baru”. Pemuda cenderung berani mengambil keputusan tanpa takut akan resiko yang mereka hadapi. Tidak heran jika Soekarno mengatakan “berikan sepuluh pemuda untukku, akan kuguncangkan dunia ini”.[8]
Masyarakat Indonesia yang sedang mengalami krisis multidimensional ini membutuhkan adanya perubahan-perubahan yang positif dan inovatif. Menurut Rikard Bagun, arus perubahan sendiri bisa menjamin hukum besi yang membinasakan. Lebih-lebih bagi mereka atau bangsa yang tidak siap beradaptasi dan melakukan antisipasi. Sebaliknya, bagi yang mampu beradaptasi, perubahan selalu menghadirkan peluang yang menawarkan kesempatan baru bagi kemajuan.[9] Untuk itulah, pemuda perlu mendapatkan tempat dan perhatian dari para orang tua, pendidik, tokoh pemuda, tokoh masyarakat, pemimpin agama, pemimpin Negara dan berbagai elemen masyarakat lainnya.
Mengapa pemuda membutuhkan adanya pengakuan? Masa pemuda adalah masa transisi dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Pada masa inilah, pemuda mencari identitas dirinya. Dengan adanya pengakuan statusnya yang pasti, pemuda merasa aman dalam menjalankan aktivitasnya dan hal ini ikut membina pribadi dan penyesuaian diri pemuda. Jika pengakuan terhadap pemuda tidak ada, mereka merasa gelisah dan terkadang melakukan tindakan-tindakan yang seakan-akan menentang nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat. Di samping itu, dengan adanya pengakuan, pemuda merasa terayomi dan terbimbing dalam menjalani kehidupannya.
Apalagi di era modern ini, pemuda dihadapkan pada berbagai informasi negatif yang begitu membanjir dalam kesehariannya, baik yang bersumber dari televisi, internet, film, buku-buku dan majalah-majalah. Informasi negatif yang diterima secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi pola pikir dan sikap pemuda di masyarakat. Ditambah lagi, pemuda dihadapkan pada kehidupan yang tidak menentu dan terkadang banyak menimbulkan konflik. Semua itu akan menambah beban bagi pemuda untuk menapaki kehidupannya.
B. Pendidikan Karakter dan keahlian hidup Bagi Pemuda Indonesia
Upaya yang bisa dilakukan dalam rangka membentuk karakter dan keahlian hidup pemuda adalah melalui proses pendidikan. Pendidikan maknanya lebih luas daripada pembinaan maupun pengajaran. Pendidikan tidak hanya transfer of knowledge, melainkan juga transfer of values. Dalam pendidikan ada proses-proses penanaman nilai-nilai. Oleh karena itu, menurut Abdul Munir Mulkhan, dalam pendidikan perlu dikembangkan kepribadian yang mandiri dan kreatif serta memiliki moralitas dan spiritualitas yang dapat menggerakkan seluruh sendi kehidupan dalam menjalankan tugas sebagai hamba Allah dan khalifah Allah.[10]
Di dalam al-Qur’an, istilah pendidikan (rabb--tarbiyah)[11] berkaitan dengan peran orang tua sebagai perantara Tuhan di muka bumi dalam mendidik atau sebagai murabbi. Peran ini merupakan perwujudan dari salah satu sifat atau nama Allah yang ditanamkan kepada anak yaitu Rabb, sang pemelihara. Orang tua diharapkan dapat menghidupkan sikap tauhid rububiyah pada diri anak. Sikap ini adalah sebagai pengakuan akan Allah sebagai satu-satunya zat yang telah menciptakan, memelihara, memberi rezeki dan segala nikmat yang ada. Pendidikan juga berkaitan dengan wiqayah (penjagaan)[12] dari hal-hal yang dapat merusak moralitas dan spiritualitas anak. Karenanya, orang tua melakukan preventif dengan cara memberikan lingkungan yang kondusif dan bimbingan yang baik. Al-Qur’an juga mengaitkan pendidikan dengan mau’idzah (wa’adz)[13] seperti yang dilakukan oleh Luqman kepada putranya. Wa’adz merupakan nasehat menyangkut berbagai kebajikan dengan cara menyentuh hati.[14] Orang tua berperan dalam memberikan nasehat kepada anaknya agar anak dapat berada dalam bimbingan dan jalan Allah. Bertitik tolak dari penjelasan yang ada di dalam al-Qur’an tersebut berarti pendidikan adalah proses pemeliharaan, penjagaan dan penasehatan yang dilakukan oleh orang tua atau masyarakat.
Proses pendidikan, menurut Albert Bandura dapat dilakukan melalui Learning by response concuequences yaitu proses belajar dari pengalaman individu dan Learning through modelling yaitu proses belajar dengan cara meniru perjalanan orang lain yang diperolehnya melalui observasi terhadap bentuk-bentuk tingkah laku yg terdapat pada lingkungan sosialnya. Artinya pendidikan karakter dan keahlian hidup pemuda dapat dilakukan dengan cara memberikan pengalaman langsung kepada pemuda tentang karakter-karakter pemuda Indonesia dan keahlian hidup yang dibutuhkan pemuda Indonesia dalam menghadapi kehidupan modern dan global. Bisa juga dilakukan dengan cara mencontoh karakter dan keahlian hidup yang dilakukan oleh para tokoh panutan.[15]
Proses tersebut tentunya tidak dilakukan secara instan---sebatas pelatihan atau seminar---melainkan melalui proses panjang (long life education) dan berkelanjutan (sustainable). Dalam bahasa Islam, pendidikan harus dilakukan dari mulai rahim hingga liang lahad (utlub al-‘ilm min al-mahd ila al-lahd). Karenanya, pendidikan karakter dan ketrampilan hidup melibatkan semua orang, dari mulai orang tua, guru, tokoh masyarakat, ustadz dan para aktivis organisasi. Begitu juga, pendidikan karakter dan keahlian hidup tidak bisa diberikan seperti halnya pendidikan agama dan pendidikan kewarganegaraan yang lebih banyak mengandalkan kemampuan kognitif saja. Mengingat pendidikan karakter dan keahlian hidup akan melibatkan semua kemampuan yang ada pada pemuda yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik.
Kemudian dalam proses pendidikan karakter dan keahlian hidup, pemuda jangan hanya dijadikan sebagai obyek saja, tetapi perlu dilibatkan sebagai subyek atau pelaku. Karenanya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua atau masyarakat berkaitan dengan pemuda agar dalam proses pendidikan tidak mengalami hambatan yang signifikan, diantaranya:
Pertama, penampilan fisik merupakan aspek penting bagi pemuda dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Biasanya mereka mempunyai standar-standar tertentu tentang sosok fisik ideal yang mereka dambakan. Pemuda perlu menanamkan keyakinan bahwa keindahan lahiriah bukanlah makna yang sesungguhnya dari kecantikan dan ketampanan. Kecantikan dan ketampanan sejati justru bersumber dari hati nurani, akhlak serta kepribadian yang baik.
Kedua, pada umumnya pemuda ingin memperoleh kebebasan emosional. Mereka ingin bebas melakukan apa saja yang mereka sukai. Terkadang, mereka mencoba hal-hal yang baru dan menantang meskipun melanggar etika dan norma yang berlaku di masyarakat. Tindakan yang mereka lakukan tersebut disebabkan karena mereka tidak ingin hanya menjadi obyek dari orang tua atau orang lain. Mereka ingin menjadi orang dewasa. Karenanya, mereka berusaha agar pendapat atau pikiran-pikirannya diakui dan disejajarkan dengan orang dewasa. Jika terjadi perbedaan pendapat antara pemuda dengan orang tua, biasanya pemuda cenderung lari dan berkumpul dengan pemuda yang lainnya. Dengan demikian, ikatan emosional antar pemuda amat kuat dan menjadi penting keberadaannya.
Ketiga, kemampuan untuk melakukan interaksi sosial juga sangat penting dalam membentuk konsep diri yang positif, sehingga dia mampu melihat dirinya sebagai orang yang kompeten dan disenangi oleh lingkungannya. Konsep pergaulan semestinya lebih ditekankan kepada hal-hal yang positif, seperti untuk mempertegas eksistensi diri atau guna menjalin persaudaraan serta menambah wawasan yang bermanfaat. Dengan demikian, maka diharapkan dia dapat memiliki gambaran yang wajar tentang dirinya sesuai dengan kenyataan.
Keempat, setiap kelebihan atau potensi yang ada dalam diri manusia sesungguhnya bersifat laten. Artinya, ia harus digali dan terus dirangsang agar keluar secara optimal. Dengan mengetahui dan menerima kemampuan diri secara positif, maka seorang pemuda diharapkan lebih mampu menentukan yang tepat terhadap apa yang akan ia jalani, seperti memilih sekolah atau jenis kegiatan yang akan diikutinya.
Kelima, bagi keluarga muslim atau keluarga yang beragama, nampaknya harus mulai ditanamkan pemahaman bahwa pemuda sudah termasuk baligh. Artinya dia sudah taklif atau bertanggung jawab atas kewajiban-kewajiban agama serta menanggung sendiri dosa-dosanya apabila melanggar kewajiban-kewajiban tersebut. Dengan pemahaman yang kuat terhadap nilai-nilai moral dan agama, maka lingkungan yang buruk tidak akan membuatnya menjadi buruk. Bahkan boleh jadi, si pemuda sanggup proaktif mempengaruhi lingkungannya dengan kerangka agama.
Di samping itu, pemuda juga perlu memiliki motivasi yang kuat dan standar nilai yang dijadikan pedoman. Menurut Sidi Gazalba, maju dan mundurnya masyarakat dalam proses perubahannya ditentukan oleh nilai yang dipedomani. Oleh karena itu, jika pemuda ingin merubah karakternya, diperlukan pedoman nilai. Pancasila sebagai ideology bangsa merupakan salah satu pedoman nilai yang dapat dijadikan dasar dalam pendidikan karakter dan keahlian hidup. Kemudian nilai-nilai yang ada di Pancasila, secara substansial tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama.[16]
C. Penutup
Sebagai kata akhir, penulis berkeyakinan bahwa pemuda merupakan aktor penting yang dapat merubah kehidupan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, pemuda perlu memiliki karakter dan ketrampilan hidup agar pemuda dapat berperan dalam mengisi perubahan yang ada di Indonesia.
Karakter dan ketrampilan hidup dapat dibentuk melalui proses pendidikan yang berlangsung lama dan berkelanjutan. Karenanya, prosesnya membutuhkan keterlibatan dari berbagai pihak. Bukan hanya pemuda saja, melainkan seluruh elemen masyarakat perlu terlibat. Disamping itu, diperlukan juga adanya pedoman yang dapat dijadikan standar dalam melakukan proses transformasi nilai dalam diri pemuda. Nilai Pancasila dapat dijadikan sebagai pedoman yang bisa mengantarkan pemuda memiliki karakter dan ketrampilan hidup.
Wallahu ‘alam bi al-shawab
Ekspektasi masyarakat yang besar tersebut jangan sampai ternodai oleh ulah para pemuda yang kurang bertanggung jawab dalam mempertahankan eksistensi dan perannya. Mereka hanya bangga sebagai pemuda, tetapi sikap dan perilakunya hanya berhura-hura, malas-malasan, dan acuh tak acuh dengan kegiatan sosial-kemasyarakatan. Demikian juga, masyarakat tidak ingin dibebankan oleh pemuda akibat sikap dan perilaku yang mereka lakukan seperti tawuran, konflik pemuda, narkoba dan sebagainya.
Masyarakat berharap agar para pemuda mengambil bagian dalam mengusung proses perubahan[1] yang terjadi di Indonesia. Bagi masyarakat, perubahan merupakan sebuah keniscayaan. Tanpa perubahan hidup ini tidak memiliki makna apa-apa. Perubahan yang diharapkan oleh masyarakat bukan hanya pada perubahan kelembagaan dan sistem pemerintahan saja, melainkan juga pada perubahan yang bersifat kultural. Artinya pola pikir dan sikap masyarakat juga perlu berubah seiring dengan tuntutan reformasi dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahkan, masyarakat berharap perubahan sistem pemerintahan, kelembagaan, dan kultur dapat berimplikasi pada perubahan kehidupan masyarakat yang lebih adil, demokratis dan sejahtera.
Harapan besar masyarakat akan tercapai manakala pemuda memiliki karakter dan keahlian hidup (life skill). Karakter merupakan filsafat pribadi tentang nilai-nilai hidup yang paling mendasar, seperti dermawan, kreatif, disiplin, adil dan sebagainya. Sedangkan keahlian hidup (life skill) adalah kemampuan seseorang dalam berinteraksi dengan orang lain atau lingkungan sehingga ia dapat menjalani kehidupan dengan baik. Keahlian hidup dapat diwujudkan dalam bentuk kesadaran social (social awareness), kemampuan membangun tim dan menjalin interaksi secara konstruktif.
Persoalannya, bagaimana membentuk karakter dan keahlian hidup itu dilakukan di kalangan pemuda? Jika dilakukan melalui proses pendidikan apakah pendidikan karakter dan keahlian hidup itu sama dengan memberikan pendidikan agama atau pendidikan kewarganegaraan yang masuk dalam kurikulum? Jika tidak, bagaimana proses pendidikannya?
Makalah singkat ini mencoba menawarkan arah dan proses pendidikan karakter dan keahlian hidup bagi para pemuda. Namun, sebelumnya Penulis akan menguraikan tentang perlunya pengakuan dari elemen masyarakat terhadap peran yang dilakukan oleh pemuda. Tanpa ada pengakuan yang kuat dari masyarakat, maka keberadaan dan peran pemuda menjadi tidak berarti apa-apa.
A. Pengakuan Peran Pemuda di Masyarakat
Menurut Ramlan, jumlah generasi muda yang begitu besar bisa berarti keuntungan sekaligus kerugian bagi bangsa Indonesia yang sedang membangun. Ia merupakan keuntungan jika dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk kepentingan pembangunan, akan tetapi kerugianlah yang akan terjadi jika mereka menjadi beban dan tanggungan bagi anggota masyarakat lainnya.[2] Mengingat komposisi generasi muda yang berusia antara 15-35 tahun merupakan jumlah terbesar dari penduduk Indonesia, yaitu sebesar 37% dari total Penduduk Indonesia yang 220 juta.[3]
Jumlah generasi muda yang besar tersebut terkadang hanya dijadikan sebagai komoditas politik belaka bahwa pemuda merupakan agen perubahan dan generasi yang sangat diharapkan eksistensinya. Sementara, pengakuan nyata terhadap generasi muda sebagai kategori sosial yang menjadi elemen penting dalam kehidupan sosial kemasyarakatan kurang mendapatkan tempat.[4] Pemuda masih dianggap anak-anak apabila mereka belum menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, pekerjaan tetap dan memiliki emosi yang stabil.[5] Karenanya, banyak pemuda yang pragmatis dengan mengambil sikap acuh tak acuh dengan problematika yang berkembang di masyarakat atau hanya tekun belajar untuk meraih prestasi yang tinggi tanpa peduli dengan kehidupan orang lain.
Akibat lemahnya pengakuan terhadap pemuda, mereka mengalami problem identitas yang berpotensi menggiring pada melemahnya ikatan-ikatan sosial di antara pemuda dan masyarakat. Mereka mengalami disorientasi sosial terhadap fungsi dan perannya sebagai pelaku perubahan.[6] Padahal salah satu hal yang membuat peran pemuda menjadi sangat penting adalah karena keberadaan pemuda yang mengisyaratkan adanya semangat perubahan.[7] Jiwa mereka masih “segar” dan “baru”. Pemuda cenderung berani mengambil keputusan tanpa takut akan resiko yang mereka hadapi. Tidak heran jika Soekarno mengatakan “berikan sepuluh pemuda untukku, akan kuguncangkan dunia ini”.[8]
Masyarakat Indonesia yang sedang mengalami krisis multidimensional ini membutuhkan adanya perubahan-perubahan yang positif dan inovatif. Menurut Rikard Bagun, arus perubahan sendiri bisa menjamin hukum besi yang membinasakan. Lebih-lebih bagi mereka atau bangsa yang tidak siap beradaptasi dan melakukan antisipasi. Sebaliknya, bagi yang mampu beradaptasi, perubahan selalu menghadirkan peluang yang menawarkan kesempatan baru bagi kemajuan.[9] Untuk itulah, pemuda perlu mendapatkan tempat dan perhatian dari para orang tua, pendidik, tokoh pemuda, tokoh masyarakat, pemimpin agama, pemimpin Negara dan berbagai elemen masyarakat lainnya.
Mengapa pemuda membutuhkan adanya pengakuan? Masa pemuda adalah masa transisi dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Pada masa inilah, pemuda mencari identitas dirinya. Dengan adanya pengakuan statusnya yang pasti, pemuda merasa aman dalam menjalankan aktivitasnya dan hal ini ikut membina pribadi dan penyesuaian diri pemuda. Jika pengakuan terhadap pemuda tidak ada, mereka merasa gelisah dan terkadang melakukan tindakan-tindakan yang seakan-akan menentang nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat. Di samping itu, dengan adanya pengakuan, pemuda merasa terayomi dan terbimbing dalam menjalani kehidupannya.
Apalagi di era modern ini, pemuda dihadapkan pada berbagai informasi negatif yang begitu membanjir dalam kesehariannya, baik yang bersumber dari televisi, internet, film, buku-buku dan majalah-majalah. Informasi negatif yang diterima secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi pola pikir dan sikap pemuda di masyarakat. Ditambah lagi, pemuda dihadapkan pada kehidupan yang tidak menentu dan terkadang banyak menimbulkan konflik. Semua itu akan menambah beban bagi pemuda untuk menapaki kehidupannya.
B. Pendidikan Karakter dan keahlian hidup Bagi Pemuda Indonesia
Upaya yang bisa dilakukan dalam rangka membentuk karakter dan keahlian hidup pemuda adalah melalui proses pendidikan. Pendidikan maknanya lebih luas daripada pembinaan maupun pengajaran. Pendidikan tidak hanya transfer of knowledge, melainkan juga transfer of values. Dalam pendidikan ada proses-proses penanaman nilai-nilai. Oleh karena itu, menurut Abdul Munir Mulkhan, dalam pendidikan perlu dikembangkan kepribadian yang mandiri dan kreatif serta memiliki moralitas dan spiritualitas yang dapat menggerakkan seluruh sendi kehidupan dalam menjalankan tugas sebagai hamba Allah dan khalifah Allah.[10]
Di dalam al-Qur’an, istilah pendidikan (rabb--tarbiyah)[11] berkaitan dengan peran orang tua sebagai perantara Tuhan di muka bumi dalam mendidik atau sebagai murabbi. Peran ini merupakan perwujudan dari salah satu sifat atau nama Allah yang ditanamkan kepada anak yaitu Rabb, sang pemelihara. Orang tua diharapkan dapat menghidupkan sikap tauhid rububiyah pada diri anak. Sikap ini adalah sebagai pengakuan akan Allah sebagai satu-satunya zat yang telah menciptakan, memelihara, memberi rezeki dan segala nikmat yang ada. Pendidikan juga berkaitan dengan wiqayah (penjagaan)[12] dari hal-hal yang dapat merusak moralitas dan spiritualitas anak. Karenanya, orang tua melakukan preventif dengan cara memberikan lingkungan yang kondusif dan bimbingan yang baik. Al-Qur’an juga mengaitkan pendidikan dengan mau’idzah (wa’adz)[13] seperti yang dilakukan oleh Luqman kepada putranya. Wa’adz merupakan nasehat menyangkut berbagai kebajikan dengan cara menyentuh hati.[14] Orang tua berperan dalam memberikan nasehat kepada anaknya agar anak dapat berada dalam bimbingan dan jalan Allah. Bertitik tolak dari penjelasan yang ada di dalam al-Qur’an tersebut berarti pendidikan adalah proses pemeliharaan, penjagaan dan penasehatan yang dilakukan oleh orang tua atau masyarakat.
Proses pendidikan, menurut Albert Bandura dapat dilakukan melalui Learning by response concuequences yaitu proses belajar dari pengalaman individu dan Learning through modelling yaitu proses belajar dengan cara meniru perjalanan orang lain yang diperolehnya melalui observasi terhadap bentuk-bentuk tingkah laku yg terdapat pada lingkungan sosialnya. Artinya pendidikan karakter dan keahlian hidup pemuda dapat dilakukan dengan cara memberikan pengalaman langsung kepada pemuda tentang karakter-karakter pemuda Indonesia dan keahlian hidup yang dibutuhkan pemuda Indonesia dalam menghadapi kehidupan modern dan global. Bisa juga dilakukan dengan cara mencontoh karakter dan keahlian hidup yang dilakukan oleh para tokoh panutan.[15]
Proses tersebut tentunya tidak dilakukan secara instan---sebatas pelatihan atau seminar---melainkan melalui proses panjang (long life education) dan berkelanjutan (sustainable). Dalam bahasa Islam, pendidikan harus dilakukan dari mulai rahim hingga liang lahad (utlub al-‘ilm min al-mahd ila al-lahd). Karenanya, pendidikan karakter dan ketrampilan hidup melibatkan semua orang, dari mulai orang tua, guru, tokoh masyarakat, ustadz dan para aktivis organisasi. Begitu juga, pendidikan karakter dan keahlian hidup tidak bisa diberikan seperti halnya pendidikan agama dan pendidikan kewarganegaraan yang lebih banyak mengandalkan kemampuan kognitif saja. Mengingat pendidikan karakter dan keahlian hidup akan melibatkan semua kemampuan yang ada pada pemuda yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik.
Kemudian dalam proses pendidikan karakter dan keahlian hidup, pemuda jangan hanya dijadikan sebagai obyek saja, tetapi perlu dilibatkan sebagai subyek atau pelaku. Karenanya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua atau masyarakat berkaitan dengan pemuda agar dalam proses pendidikan tidak mengalami hambatan yang signifikan, diantaranya:
Pertama, penampilan fisik merupakan aspek penting bagi pemuda dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Biasanya mereka mempunyai standar-standar tertentu tentang sosok fisik ideal yang mereka dambakan. Pemuda perlu menanamkan keyakinan bahwa keindahan lahiriah bukanlah makna yang sesungguhnya dari kecantikan dan ketampanan. Kecantikan dan ketampanan sejati justru bersumber dari hati nurani, akhlak serta kepribadian yang baik.
Kedua, pada umumnya pemuda ingin memperoleh kebebasan emosional. Mereka ingin bebas melakukan apa saja yang mereka sukai. Terkadang, mereka mencoba hal-hal yang baru dan menantang meskipun melanggar etika dan norma yang berlaku di masyarakat. Tindakan yang mereka lakukan tersebut disebabkan karena mereka tidak ingin hanya menjadi obyek dari orang tua atau orang lain. Mereka ingin menjadi orang dewasa. Karenanya, mereka berusaha agar pendapat atau pikiran-pikirannya diakui dan disejajarkan dengan orang dewasa. Jika terjadi perbedaan pendapat antara pemuda dengan orang tua, biasanya pemuda cenderung lari dan berkumpul dengan pemuda yang lainnya. Dengan demikian, ikatan emosional antar pemuda amat kuat dan menjadi penting keberadaannya.
Ketiga, kemampuan untuk melakukan interaksi sosial juga sangat penting dalam membentuk konsep diri yang positif, sehingga dia mampu melihat dirinya sebagai orang yang kompeten dan disenangi oleh lingkungannya. Konsep pergaulan semestinya lebih ditekankan kepada hal-hal yang positif, seperti untuk mempertegas eksistensi diri atau guna menjalin persaudaraan serta menambah wawasan yang bermanfaat. Dengan demikian, maka diharapkan dia dapat memiliki gambaran yang wajar tentang dirinya sesuai dengan kenyataan.
Keempat, setiap kelebihan atau potensi yang ada dalam diri manusia sesungguhnya bersifat laten. Artinya, ia harus digali dan terus dirangsang agar keluar secara optimal. Dengan mengetahui dan menerima kemampuan diri secara positif, maka seorang pemuda diharapkan lebih mampu menentukan yang tepat terhadap apa yang akan ia jalani, seperti memilih sekolah atau jenis kegiatan yang akan diikutinya.
Kelima, bagi keluarga muslim atau keluarga yang beragama, nampaknya harus mulai ditanamkan pemahaman bahwa pemuda sudah termasuk baligh. Artinya dia sudah taklif atau bertanggung jawab atas kewajiban-kewajiban agama serta menanggung sendiri dosa-dosanya apabila melanggar kewajiban-kewajiban tersebut. Dengan pemahaman yang kuat terhadap nilai-nilai moral dan agama, maka lingkungan yang buruk tidak akan membuatnya menjadi buruk. Bahkan boleh jadi, si pemuda sanggup proaktif mempengaruhi lingkungannya dengan kerangka agama.
Di samping itu, pemuda juga perlu memiliki motivasi yang kuat dan standar nilai yang dijadikan pedoman. Menurut Sidi Gazalba, maju dan mundurnya masyarakat dalam proses perubahannya ditentukan oleh nilai yang dipedomani. Oleh karena itu, jika pemuda ingin merubah karakternya, diperlukan pedoman nilai. Pancasila sebagai ideology bangsa merupakan salah satu pedoman nilai yang dapat dijadikan dasar dalam pendidikan karakter dan keahlian hidup. Kemudian nilai-nilai yang ada di Pancasila, secara substansial tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama.[16]
C. Penutup
Sebagai kata akhir, penulis berkeyakinan bahwa pemuda merupakan aktor penting yang dapat merubah kehidupan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, pemuda perlu memiliki karakter dan ketrampilan hidup agar pemuda dapat berperan dalam mengisi perubahan yang ada di Indonesia.
Karakter dan ketrampilan hidup dapat dibentuk melalui proses pendidikan yang berlangsung lama dan berkelanjutan. Karenanya, prosesnya membutuhkan keterlibatan dari berbagai pihak. Bukan hanya pemuda saja, melainkan seluruh elemen masyarakat perlu terlibat. Disamping itu, diperlukan juga adanya pedoman yang dapat dijadikan standar dalam melakukan proses transformasi nilai dalam diri pemuda. Nilai Pancasila dapat dijadikan sebagai pedoman yang bisa mengantarkan pemuda memiliki karakter dan ketrampilan hidup.
Wallahu ‘alam bi al-shawab
[1] Perubahan yang dimaksudkan tentunya perubahan yang mengarah pada perbaikan dan kemajuan, bukan perubahan yang menghancurkan dan merendahkan masyarakat, seperti bencana alam, perusakan fasilitas umum, konflik, dan sebagainya.
[2] Ramlan, Problematika Pemuda Dewasa ini dan Solusinya, dalam Mimbar Agama dan Budaya, Vol.XVIII, No. 2, 2001, hal.188.
[3] BPS. (n.d.). Data Statistik Indonesia. Retrieved Mei 2008, from http://www.datastatistik-indonesia.com
[4] Pandu Dewanata & Chavchay Saifullah, Rekonstruksi Pemuda, Kementerian Negara Pemuda dan Olah raga, 2008, hal. 13.
[5] Zakiah Daradjat Mengatakan “pada masyarakat yang telah maju, dimana kepandaian dan ketrampilan yang diperlukan untuk dapat hidup tidak bergantung kepada orang lain, dapat aktif dalam masyarakat dan dapat diberi tanggung jawab sebagai seorang dewasa yang matang sangat banyak, maka pemuda perlu menempuh masa yang panjang dalam pendidikan dan masa pemudanya menjadi lebih panjang. Selain itu, problem pemuda yang dideritanya jauh lebih banyak karena perjuangan untuk mencapai kedudukan dalam masyarakat itu lama dan banyak macamnya”. Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: Bulan Bintang), Cet, 15, 1996, hal. 71.
[6] Aziz Syamsudin, 23 Karakter Pemuda Pilihan, (Jakarta: RMBOOKS), 2009, hal.xiii.
[7] Aziz Syamsudin, 23 Karakter.....hal. 3. Sedangkan menurut Muhammad Hatta, pemuda memiliki peran penting karena: pertama, pemuda masih murni jiwanya dan ingin melihat pelaksanaan secara jujur apa-apa yang telah diperjuangkan rakyat. Kedua, pemuda dididik secara ilmiah yang tujuannya untuk mencari kebenaran. Muhammad Hatta, Peranan Pemuda Menuju Indonesia Merdeka Indonesia Adil dan makmur, (Bandung: Angkasa), 1966, hal. 12.
[8]Dikutip dari Pandu Dewanata & Chavchay Saifullah, Rekonstruksi.....hal. 7.
[9] Rikard Bagun, “Tuntutan Perubahan Perilaku”, Kompas Jum’at 26 Juni 2009.
[10] Abdul Munir Mulkhan, Paradigma Intelektual Muslim, (Yogyakarta: SI-Press), 1993, hal. 236.
[11] QS. Al-Isra ayat 24: وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
[12] QS. At-Tahrim ayat 6 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
[13] QS. Luqman ayat 13 وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
[14] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, Juz 11, (Jakarta: Lentera Hati), cet. Ke-IX, 2008, hal. 126.
[15] Buku yang dapat dijadikan rujukan untuk mencontoh beberapa tokoh yang memiliki karakter kuat adalah buku Aziz Syamsudin, 23 Karakter Pemuda Pilihan, (Jakarta: RMBOOKS), 2009.
[16]Agama dalam hal ini dijadikan sebagai sumber nilai yang kebenaran bersifat absolut.
Thursday, 23 April 2009
KEJENUHAN DALAM MENJALANI HIDUP
Suatu hari saya bertemu dengan seorang pekerja sebuah perusahaan di salah satu forum ilmiah. Dalam pertemuan tersebut, dia mengeluh kepada saya tentang kehidupan di dunia yang amat menjenuhkan. Dia seorang yang sukses baik dalam hal prestasi di dunia kerja maupun prestise di masyarakat. Dalam pekerjaan dia sering mendapatkan penghargaan. Begitu juga di kalangan masyarakat, dia termasuk orang yang dipandang karena memiliki kemampuan dan kekayaan. Namun, dibalik itu semua, dia merasa gersang dan kesepian dalam menjalani kehidupan. Dia beranggapan bahwa hidup ini hanyalah sebuah aktivitas rutin yang menjemukan. Setelah bangun tidur, dia melakukan olah raga kecil, mandi pagi, sarapan, berangkat kerja, pulang malam, istirahat nonton televisi sebentar, dan tidur. Demikian terus-menerus aktivitas semacam itu yang dia lakukan setiap harinya.
Saat dia bercerita agak panjang tentang kejenuhan tersebut, tiba-tiba saya memotong pembicaraannya. Apakah saudara tidak memiliki keluarga? Dia menjawab, saya punya isteri dan 3 orang anak. Semuanya baik-baik dan tidak ada persoalan yang berarti dalam hubungan kami di keluarga. Kami sangat mencintai isteri dan anak-anak kami, sebaliknya mereka juga mencintai saya. Cuma saya merasa ada sesuatu yang menurut saya hilang dari kehidupan saya yang sesungguhnya. Dengan tidak sabar saya coba bertanya lagi. Maaf ya..sebelumnya, apakah selama menjalani kehidupan sehari-hari saudara mendekatkan diri kepada sang Khalik (Tuhan). Maksud anda shalat begitu, dia balik bertanya kepada saya. Ya kira-kira seperti itulah, jawab saya. Dia menjawab dengan nada bersemangat, saya melaksanakan shalat lima waktu, sebagaimana muslim yang lainnya dan juga saya mengeluarkan zakat sesuai dengan ketentuan yang ada. Meskipun shalat dan zakat saya masih termasuk kelas orang awam, kilahnya sambil tersenyum simpul.
Waahh...saudara sudah termasuk orang yang hebat dan dapat dikategorikan seorang muslim sejati. Itulah yang saya bingung, jawabnya dengan nada keheranan. Menurut orang mungkin saya termasuk orang yang bahagia dan sukses. Tetapi saya sering merenung dan berpikir, apakah seperti ini hidup yang dikehendaki oleh Tuhan. Dalam hati dan perasaan saya, tetap saja merasa jenuh dan bosan menghadapi hidup ini. Karenanya saya bertanya kepada anda, kira-kira apa yang bisa memecahkan persoalan seperti saya ini. Mungkin bukan hanya saya, banyak juga di antara saudara-saudara kita yang merasa jenuh dalam menghadapi kehidupan. Apalagi jika kehidupan mereka selalu dibayang-bayangi oleh kemiskinan, ketidakberdayaan, dan kebodohan. Mereka seakan-akan dipaksa, dibelenggu, dan dikuasai oleh kehidupan.
Ditanya demikian, saya bingung juga dan otak saya perlu berpikir tujuh keliling niih...keluh saya di dalam hati. Oh ya...saya jadi ingat dengan kejadian yang pernah menimpa saya waktu kuliah dulu, jawab saya berterus terang. Awal kuliah, saya begitu semangat untuk ikut kuliah. Berbagai macam kajian saya ikuti. Dari mulai seminar, diskusi, bedah buku, dan berbagai aktivitas akademik lainnya. Menjelang semester kelima saya merasa begitu jenuh menghadapi perkuliahan. Saya menganggap aktivitas kuliah begitu-begitu saja tidak ada perubahan. Bangun tidur, shalat subuh, belajar sebentar, mandi, sarapan, berangkat kuliah, kuliah, pulang ke kontrakan, istrirahat, belajar lagi, dan tidur malam. Terus-menerus aktivitas seperti itu saya lakukan selama dua tahun dan akhirnya saya pun mengalami kejenuhan.
Untungnya ada seorang Dosen yang memberitahu kepada saya sehingga saya bisa melewati kejenuhan tersebut. Hal ini pun, menurut saya, bisa dijadikan bahan renungan untuk memecahkan persoalan yang saudara hadapi. Pertama, sapalah aktivitas kehidupan di luar aktivitas rutin (profesi/pekerjaan/kuliah) yang saudara geluti. Di dalam kehidupan banyak aktivitas yang bisa dilakukan selain kerja/kuliah. Di masyarakat, ada kegiatan RT/RW, arisan keluarga, gotong royong, menjenguk tetangga yang sakit atau kesusahan, merupakan beberapa aktivitas yang dapat dilakukan untuk menghilangkan kejenuhan. Di kalangan mahasiswa, saudara bisa ikut aktivitas organisasi kampus, penelitian di masyarakat, melakukan advokasi dan pengabdian pada masyarakat. Melalui aktivitas-aktivitas di luar kegiatan rutin, kita akan mendapatkan pengalaman, pengetahuan, dan pergaulan yang tidak ternilai harganya. Bahkan, dengan cara ini kita bisa berbagi dan berempati dengan sesama.(ta’awanu alal birri wattaqwa wala ta’awanu alal ‘ismi wal’udwan)
Kedua, sempatkan waktu untuk menikmati keindahan alam semesta ciptaan Tuhan dengan cara melakukan rekreasi bersama keluarga atau teman-teman untuk menghilangkan kejenuhan dan kepenatan yang menimpa diri kita. Nikmatilah indahnya alam pegunungan, ombak lautan, makanan nikmat, keunikan yang dimiliki oleh binatang, dan kreasi-kreasi manusia yang ada di berbagai obyek wisata. Semua itu harus dijadikan sebagai bagian dari upaya kita mendekatkan diri kepada Tuhan. Melalui ciptaan-Nya kita dapat lebih mengenal dan bersyukur kepada-Nya (tafaqqaru fi khalqillah wala tafaqqaru fi dzatihi)
Ketiga, perkokoh motivasi dan keyakinan hidup. Ungkapan yang sering kita dengar adalah gantungkanlah cita-citamu setinggi langit. Ungkapan ini memberikan motivasi yang kuat dalam meraih berbagai kesuksesan. Selain itu, ungkapan ini juga menyarankan agar dalam melakukan berbagai aktivitas hendaknya dibuat target atau tujuan yang hendak dicapai. Ketika aktivitas yang dilakukan belum sesuai dengan target atau tujuan yang diharapkan, maka perlu dilakukan evaluasi yang hasilnya dapat dijadikan bahan untuk menambah motivasi yang lebih besar sehingga dapat meraih kesuksesan.
Dalam kajian psikologi, manusia biasanya akan melakukan sesuatu jika ia punya kemaun terhadap sesuatu itu. Kemauan ini tergantung pula kepada sesuatu yang mencetuskannya. Cetusan kemauan bisa kuat atau lemah. Cetusan inilah yang dinamakan motif. Oleh karena itu, motivasi yang ada dalam diri manusia sangat bergantung pada seberapa besar motif yang mendorongnya. Dalam ajaran Islam, motif diidentikkan dengan niat. Niatlah yang menentukan seseorang melakukan perbuatan baik atau jelek. Dengan niat pula seseorang dapat melakukan pekerjaan secara berkualitas dan meraih kesuksesan. Sabda Nabi menyatakan “Segala perbuatan manusia bergantung kepada Niatnya”
Motif atau niat yang terbaik adalah niat yang penuh keikhlasan kepada Allah. Niat semacam ini akan menghilangkan berbagai macam perasaan yang menghantui diri manusia seperti sombong, ingin mendapat pujian, ingin imbalan, dan sebagainya. Selain itu, dengan niat ikhlas ini akan menambah keyakinan dalam menjalani hidup. Hidup di dunia hanyalah terminal menuju kehidupan yang sesungguhnya, yakni kehidupan di akhirat kelak. Di akhirat nanti manusia akan bertemu dengan Tuhannya dan itulah yang menjadi tujuan utama manusia hidup. Firman Allah dalam surat al-Ahzab ayat 21 “sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (pertemuan) kepada Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.Demikian penjelasan yang saya terima dari Dosen pembimbingku. Penjelasan inilah yang saya jadikan modal untuk terus meraih kesuksesan-kesuksesan dalam menjalani hidup ini. Saya pun berharap penjelasan yang singkat ini dapat dijadikan pegangan oleh saudara. Kesuksesan yang telah saudara raih perlu diteruskan untuk meraih kesuksesan yang sesungguhnya di alam akhirat nanti. Sementara bagi saudara-saudara yang belum meraih kesuksesan dalam hidup di dunia ini, kejarlah terus dengan semangat tinggi, penuh optimisme, dan senantiasa berada dalam keridlaan-Nya. Wallahu’alam bisshawab.
Saat dia bercerita agak panjang tentang kejenuhan tersebut, tiba-tiba saya memotong pembicaraannya. Apakah saudara tidak memiliki keluarga? Dia menjawab, saya punya isteri dan 3 orang anak. Semuanya baik-baik dan tidak ada persoalan yang berarti dalam hubungan kami di keluarga. Kami sangat mencintai isteri dan anak-anak kami, sebaliknya mereka juga mencintai saya. Cuma saya merasa ada sesuatu yang menurut saya hilang dari kehidupan saya yang sesungguhnya. Dengan tidak sabar saya coba bertanya lagi. Maaf ya..sebelumnya, apakah selama menjalani kehidupan sehari-hari saudara mendekatkan diri kepada sang Khalik (Tuhan). Maksud anda shalat begitu, dia balik bertanya kepada saya. Ya kira-kira seperti itulah, jawab saya. Dia menjawab dengan nada bersemangat, saya melaksanakan shalat lima waktu, sebagaimana muslim yang lainnya dan juga saya mengeluarkan zakat sesuai dengan ketentuan yang ada. Meskipun shalat dan zakat saya masih termasuk kelas orang awam, kilahnya sambil tersenyum simpul.
Waahh...saudara sudah termasuk orang yang hebat dan dapat dikategorikan seorang muslim sejati. Itulah yang saya bingung, jawabnya dengan nada keheranan. Menurut orang mungkin saya termasuk orang yang bahagia dan sukses. Tetapi saya sering merenung dan berpikir, apakah seperti ini hidup yang dikehendaki oleh Tuhan. Dalam hati dan perasaan saya, tetap saja merasa jenuh dan bosan menghadapi hidup ini. Karenanya saya bertanya kepada anda, kira-kira apa yang bisa memecahkan persoalan seperti saya ini. Mungkin bukan hanya saya, banyak juga di antara saudara-saudara kita yang merasa jenuh dalam menghadapi kehidupan. Apalagi jika kehidupan mereka selalu dibayang-bayangi oleh kemiskinan, ketidakberdayaan, dan kebodohan. Mereka seakan-akan dipaksa, dibelenggu, dan dikuasai oleh kehidupan.
Ditanya demikian, saya bingung juga dan otak saya perlu berpikir tujuh keliling niih...keluh saya di dalam hati. Oh ya...saya jadi ingat dengan kejadian yang pernah menimpa saya waktu kuliah dulu, jawab saya berterus terang. Awal kuliah, saya begitu semangat untuk ikut kuliah. Berbagai macam kajian saya ikuti. Dari mulai seminar, diskusi, bedah buku, dan berbagai aktivitas akademik lainnya. Menjelang semester kelima saya merasa begitu jenuh menghadapi perkuliahan. Saya menganggap aktivitas kuliah begitu-begitu saja tidak ada perubahan. Bangun tidur, shalat subuh, belajar sebentar, mandi, sarapan, berangkat kuliah, kuliah, pulang ke kontrakan, istrirahat, belajar lagi, dan tidur malam. Terus-menerus aktivitas seperti itu saya lakukan selama dua tahun dan akhirnya saya pun mengalami kejenuhan.
Untungnya ada seorang Dosen yang memberitahu kepada saya sehingga saya bisa melewati kejenuhan tersebut. Hal ini pun, menurut saya, bisa dijadikan bahan renungan untuk memecahkan persoalan yang saudara hadapi. Pertama, sapalah aktivitas kehidupan di luar aktivitas rutin (profesi/pekerjaan/kuliah) yang saudara geluti. Di dalam kehidupan banyak aktivitas yang bisa dilakukan selain kerja/kuliah. Di masyarakat, ada kegiatan RT/RW, arisan keluarga, gotong royong, menjenguk tetangga yang sakit atau kesusahan, merupakan beberapa aktivitas yang dapat dilakukan untuk menghilangkan kejenuhan. Di kalangan mahasiswa, saudara bisa ikut aktivitas organisasi kampus, penelitian di masyarakat, melakukan advokasi dan pengabdian pada masyarakat. Melalui aktivitas-aktivitas di luar kegiatan rutin, kita akan mendapatkan pengalaman, pengetahuan, dan pergaulan yang tidak ternilai harganya. Bahkan, dengan cara ini kita bisa berbagi dan berempati dengan sesama.(ta’awanu alal birri wattaqwa wala ta’awanu alal ‘ismi wal’udwan)
Kedua, sempatkan waktu untuk menikmati keindahan alam semesta ciptaan Tuhan dengan cara melakukan rekreasi bersama keluarga atau teman-teman untuk menghilangkan kejenuhan dan kepenatan yang menimpa diri kita. Nikmatilah indahnya alam pegunungan, ombak lautan, makanan nikmat, keunikan yang dimiliki oleh binatang, dan kreasi-kreasi manusia yang ada di berbagai obyek wisata. Semua itu harus dijadikan sebagai bagian dari upaya kita mendekatkan diri kepada Tuhan. Melalui ciptaan-Nya kita dapat lebih mengenal dan bersyukur kepada-Nya (tafaqqaru fi khalqillah wala tafaqqaru fi dzatihi)
Ketiga, perkokoh motivasi dan keyakinan hidup. Ungkapan yang sering kita dengar adalah gantungkanlah cita-citamu setinggi langit. Ungkapan ini memberikan motivasi yang kuat dalam meraih berbagai kesuksesan. Selain itu, ungkapan ini juga menyarankan agar dalam melakukan berbagai aktivitas hendaknya dibuat target atau tujuan yang hendak dicapai. Ketika aktivitas yang dilakukan belum sesuai dengan target atau tujuan yang diharapkan, maka perlu dilakukan evaluasi yang hasilnya dapat dijadikan bahan untuk menambah motivasi yang lebih besar sehingga dapat meraih kesuksesan.
Dalam kajian psikologi, manusia biasanya akan melakukan sesuatu jika ia punya kemaun terhadap sesuatu itu. Kemauan ini tergantung pula kepada sesuatu yang mencetuskannya. Cetusan kemauan bisa kuat atau lemah. Cetusan inilah yang dinamakan motif. Oleh karena itu, motivasi yang ada dalam diri manusia sangat bergantung pada seberapa besar motif yang mendorongnya. Dalam ajaran Islam, motif diidentikkan dengan niat. Niatlah yang menentukan seseorang melakukan perbuatan baik atau jelek. Dengan niat pula seseorang dapat melakukan pekerjaan secara berkualitas dan meraih kesuksesan. Sabda Nabi menyatakan “Segala perbuatan manusia bergantung kepada Niatnya”
Motif atau niat yang terbaik adalah niat yang penuh keikhlasan kepada Allah. Niat semacam ini akan menghilangkan berbagai macam perasaan yang menghantui diri manusia seperti sombong, ingin mendapat pujian, ingin imbalan, dan sebagainya. Selain itu, dengan niat ikhlas ini akan menambah keyakinan dalam menjalani hidup. Hidup di dunia hanyalah terminal menuju kehidupan yang sesungguhnya, yakni kehidupan di akhirat kelak. Di akhirat nanti manusia akan bertemu dengan Tuhannya dan itulah yang menjadi tujuan utama manusia hidup. Firman Allah dalam surat al-Ahzab ayat 21 “sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (pertemuan) kepada Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.Demikian penjelasan yang saya terima dari Dosen pembimbingku. Penjelasan inilah yang saya jadikan modal untuk terus meraih kesuksesan-kesuksesan dalam menjalani hidup ini. Saya pun berharap penjelasan yang singkat ini dapat dijadikan pegangan oleh saudara. Kesuksesan yang telah saudara raih perlu diteruskan untuk meraih kesuksesan yang sesungguhnya di alam akhirat nanti. Sementara bagi saudara-saudara yang belum meraih kesuksesan dalam hidup di dunia ini, kejarlah terus dengan semangat tinggi, penuh optimisme, dan senantiasa berada dalam keridlaan-Nya. Wallahu’alam bisshawab.
BENCANA: HUKUMAN ALLAH ATAU ULAH MANUSIA?
Dalam salah satu pengajian di majelis ta’lim, seorang ustadz mengajukan pertanyaan kepada jama’ah apakah bencana-bencana yang menimpa bangsa Indonesia merupakan hukuman dari Allah? Sebagian jama’ah menjawab setuju dengan pertanyaan tersebut, tetapi sebagian yang lainnya menyatakan ketidaksetujuannya. Mereka yang tidak setuju mengatakan bahwa musibah-musibah yang menimpa bangsa ini akibat dari perbuatan yang dilakukan oleh manusia.
Lantas dengan nada yang lembut, ustadz mengajukan kembali pertanyaan lanjutan untuk memperdalam permasalahan, bagaimana saudara-saudara mengetahui bahwa bencana-bencana tersebut merupakan hukuman atau ulah perbuatah manusia? Dengan nada yang bersemangat sebagian jemaah yang setuju dengan hukuman Allah membeberkan jawabannya, ya….wong kita saksikan sendiri baik melalui berita atau menyaksikan sendiri bahwa dalam kehidupan bangsa ini banyak terjadi korupsi, penipuan, penyalahgunaan jabatan, banyak perjudian, narkoba dan sebagainya. Bukankah itu tanda-tanda kemaksiatan atau dosa yang dilakukan oleh bangsa ini. Dalam kitab suci al-Qur’an telah dijelaskan bagaimana Tuhan menghukum bangsa-bangsa terdahulu akibat dari perbuatan dosa yang mereka lakukan seperti hukuman terhadap kaum ‘Ad, Samud, dan kaum-kaum Nabi terdahulu lainnya.
Dengan nada yang sama, sebagian jamaah yang tidak setuju dengan hukuman Allah menjelaskan bahwa musibah yang menimpa kita ini karena perbuatan tangan manusia seperti menggunduli hutan, membuang sampah sembarangan, menggali sumber alam yang berlebihan, membangun perumahan tanpa serapan air, membawa penumpang melebihi kapasitas, dan sebagainya. Allah dalam surat ar-rum ayat 41 sudah mengingatkan umatnya “telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. Sayangnya peringatan Allah ini kurang dipahami dan diamalkan sehingga banyak terjadi bencana.
Oke-oke… jamaah ustadz memang pintar-pintar, ustadz bangga dan kagum pada saudara-saudara. Tapi, ngomong-ngomong apakah pernyataan-pernyataan saudara tersebut sudah dipikirkan masak-masak, saya khawatir saudara hanya bisa bicara di dalam majlis ta’lim ini, sementara ketika saudara kembali ke rumah masing-masing dan menjalani aktivitasnya lupa terhadap apa yang telah dinyatakan tadi. Dengan nada tersipu malu mereka mengatakan ya kadang-kadang Ustadz, namanya juga manusia sering lupa dan tempat bersalah, bukan begitu Ustadz?
Untuk itu, kata ustadz, kita harus saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran (watawashau bil haq wa tawashau bissabr) dan hal tersebut menjadi kewajiban kita sebagai individu muslim. Selanjutnya, ustadz mau bertanya lagi, kira-kira masih berkenan atau tidak para jamaah sekalian. Ya, tentu ustadz, kami sangat senang apabila model pengajian seperti ini. kami diajak untuk berfikir dan sekaligus kami juga mendapatkan wawasan serta mendapatkan motivasi untuk melakukan tindakan tanpa ada pemaksaan atau indoktrinasi.
Baiklah, saya tidak mau bencana alam ini hanya menjadi perdebatan belaka (lip service). Apalagi terlalu jauh memikirkan hal-hal gaib yang berada di luar kemampuan kita sebagai manusia. Hal terpenting adalah kita sudah merasakan betapa bencana itu menyakitkan, penuh duka, dan derita. Persoalannya, menurut saudara apa kira-kira hikmah dibalik bencana-bencana yang menimpa bangsa ini? menurut Aa Gym (Abdullah Gymnastiar), segala kejadian atau peristiwa yang menimpa manusia akan ada hikmah dibalik kejadian atau peristiwa tersebut.
Waduuh…kok semakin sulit saja pertanyaannya ustadz, keluh salah seorang jama’ah. Menurut kami---salah seorang jama’ah berujar--- sulit rasanya kita bisa menebak secara pasti hikmah dibalik bencana ini. Mungkin masing-masing individu akan berbeda-beda dalam memahami hikmahnya, ada yang semakin dekat dengan Allah, ada yang berhati-hati dalam bertindak terhadap alam, ada yang semakin maju dalam hidupnya, ada yang sabar dalam menghadapi ujian, dan sebagainya. Semua itu tergantung tingkat keimanan, kapasitas pemahaman, dan pengalaman keagamaan dari masing-masing individu. Adapun secara kolektif, kita hanya bisa berharap ada perubahan yang signifikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karenanya yang terpenting menurut kami adalah bagaimana sikap dan perilaku kita di masa yang akan datang. Sebab perintah dalam surat ar-rum ayat 41 di atas berupa kata kerja (yarjiun) artinya kita harus berbuat supaya menuju jalan kebenaran.
Lantas menurut saudara-saudara, apa yang mesti dilakukan? Begini ustadz, kata jama’ah yang lainnya: pertama, kita sebagai khalifatullah harus mengenal diri kita sendiri bahwa kita adalah makhluk dua dimensi yang terdiri dari unsur ruhani dan jasmani. Kedua unsur ini perlu dipenuhi secara seimbang agar tidak terjadi konflik dalam bersikap dan berperilaku. Jangan kita kerja terus, tetapi lupa Tuhan dan sebalikya jangan ibadah terus, tetapi lupa dengan kerja untuk kehidupan.
Kedua, kita perlu mengenal alam tempat kita hidup. Alam merupakan anugerah Allah kepada manusia untuk dimakmurkan (Q.S.11:61). Dalam proses memakmurkan perlu diciptakan keseimbangan (hukum keadilan) antara kepentingan manusia dengan kepentingan alam. Jangan mengeksploitasi alam hanya untuk kepentingan manusia tanpa memikirkan kepentingan kelestarian alam. Banyak krisis ekologi yang terjadi karena ada ketidakseimbangan antara kepentingan manusia dengan kepentingan alam. Selain itu, alam diciptakan oleh Tuhan dengan ukuran yang serapih-rapihnya (Q.S. 25:2) artinya peristiwa-peristiwa alam dalam batas-batas tertentu mampu diprediksi oleh manusia sehingga manusia perlu mempersiapkannya atau menjaganya.
Ketiga, sunnatullah berupa hukum kausalitas (sebab akibat) dan hukum sejarah berlaku secara universal di alam raya ini, tidak mengenal jenis kelamin, agama, suku, warna kulit dan sebagainya. Siapa yang sungguh-sungguh dialah yang dapat, begitulah hukum sejarah berlaku, sebaliknya siapa yang malas dialah yang akan menderita.
Subhanallah… ustadz menunjukkan rasa kekagumannya, ternyata jama’ahku orang-orang yang memiliki wawasan yang luas. Kalau jama’ah seperti ini, majlis ta’lim akan dinamis, tidak monoton serta banyak jama’ahnya. Ustadz itu pengetahuannya juga terbatas, tidak semua hal berkaitan dengan kehidupan diketahuinya. Apalagi pada era modern seperti sekarang ini, arus informasi begitu cepat, masing-masing individu punya kelebihan dan kekurangan, tak terkecuali ustadz, tinggal bagaimana kita saling bertukar informasi dan bertawsiah di antara kita. Demikian, mudah-mudahan pengajian melalui dialog ini ada manfaatnya dan semoga kita dapat memetik pelajaran untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. amin….
[i] Penulis adalah Dosen Jurusan Dakwah STAIN Purwokerto
Lantas dengan nada yang lembut, ustadz mengajukan kembali pertanyaan lanjutan untuk memperdalam permasalahan, bagaimana saudara-saudara mengetahui bahwa bencana-bencana tersebut merupakan hukuman atau ulah perbuatah manusia? Dengan nada yang bersemangat sebagian jemaah yang setuju dengan hukuman Allah membeberkan jawabannya, ya….wong kita saksikan sendiri baik melalui berita atau menyaksikan sendiri bahwa dalam kehidupan bangsa ini banyak terjadi korupsi, penipuan, penyalahgunaan jabatan, banyak perjudian, narkoba dan sebagainya. Bukankah itu tanda-tanda kemaksiatan atau dosa yang dilakukan oleh bangsa ini. Dalam kitab suci al-Qur’an telah dijelaskan bagaimana Tuhan menghukum bangsa-bangsa terdahulu akibat dari perbuatan dosa yang mereka lakukan seperti hukuman terhadap kaum ‘Ad, Samud, dan kaum-kaum Nabi terdahulu lainnya.
Dengan nada yang sama, sebagian jamaah yang tidak setuju dengan hukuman Allah menjelaskan bahwa musibah yang menimpa kita ini karena perbuatan tangan manusia seperti menggunduli hutan, membuang sampah sembarangan, menggali sumber alam yang berlebihan, membangun perumahan tanpa serapan air, membawa penumpang melebihi kapasitas, dan sebagainya. Allah dalam surat ar-rum ayat 41 sudah mengingatkan umatnya “telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. Sayangnya peringatan Allah ini kurang dipahami dan diamalkan sehingga banyak terjadi bencana.
Oke-oke… jamaah ustadz memang pintar-pintar, ustadz bangga dan kagum pada saudara-saudara. Tapi, ngomong-ngomong apakah pernyataan-pernyataan saudara tersebut sudah dipikirkan masak-masak, saya khawatir saudara hanya bisa bicara di dalam majlis ta’lim ini, sementara ketika saudara kembali ke rumah masing-masing dan menjalani aktivitasnya lupa terhadap apa yang telah dinyatakan tadi. Dengan nada tersipu malu mereka mengatakan ya kadang-kadang Ustadz, namanya juga manusia sering lupa dan tempat bersalah, bukan begitu Ustadz?
Untuk itu, kata ustadz, kita harus saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran (watawashau bil haq wa tawashau bissabr) dan hal tersebut menjadi kewajiban kita sebagai individu muslim. Selanjutnya, ustadz mau bertanya lagi, kira-kira masih berkenan atau tidak para jamaah sekalian. Ya, tentu ustadz, kami sangat senang apabila model pengajian seperti ini. kami diajak untuk berfikir dan sekaligus kami juga mendapatkan wawasan serta mendapatkan motivasi untuk melakukan tindakan tanpa ada pemaksaan atau indoktrinasi.
Baiklah, saya tidak mau bencana alam ini hanya menjadi perdebatan belaka (lip service). Apalagi terlalu jauh memikirkan hal-hal gaib yang berada di luar kemampuan kita sebagai manusia. Hal terpenting adalah kita sudah merasakan betapa bencana itu menyakitkan, penuh duka, dan derita. Persoalannya, menurut saudara apa kira-kira hikmah dibalik bencana-bencana yang menimpa bangsa ini? menurut Aa Gym (Abdullah Gymnastiar), segala kejadian atau peristiwa yang menimpa manusia akan ada hikmah dibalik kejadian atau peristiwa tersebut.
Waduuh…kok semakin sulit saja pertanyaannya ustadz, keluh salah seorang jama’ah. Menurut kami---salah seorang jama’ah berujar--- sulit rasanya kita bisa menebak secara pasti hikmah dibalik bencana ini. Mungkin masing-masing individu akan berbeda-beda dalam memahami hikmahnya, ada yang semakin dekat dengan Allah, ada yang berhati-hati dalam bertindak terhadap alam, ada yang semakin maju dalam hidupnya, ada yang sabar dalam menghadapi ujian, dan sebagainya. Semua itu tergantung tingkat keimanan, kapasitas pemahaman, dan pengalaman keagamaan dari masing-masing individu. Adapun secara kolektif, kita hanya bisa berharap ada perubahan yang signifikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karenanya yang terpenting menurut kami adalah bagaimana sikap dan perilaku kita di masa yang akan datang. Sebab perintah dalam surat ar-rum ayat 41 di atas berupa kata kerja (yarjiun) artinya kita harus berbuat supaya menuju jalan kebenaran.
Lantas menurut saudara-saudara, apa yang mesti dilakukan? Begini ustadz, kata jama’ah yang lainnya: pertama, kita sebagai khalifatullah harus mengenal diri kita sendiri bahwa kita adalah makhluk dua dimensi yang terdiri dari unsur ruhani dan jasmani. Kedua unsur ini perlu dipenuhi secara seimbang agar tidak terjadi konflik dalam bersikap dan berperilaku. Jangan kita kerja terus, tetapi lupa Tuhan dan sebalikya jangan ibadah terus, tetapi lupa dengan kerja untuk kehidupan.
Kedua, kita perlu mengenal alam tempat kita hidup. Alam merupakan anugerah Allah kepada manusia untuk dimakmurkan (Q.S.11:61). Dalam proses memakmurkan perlu diciptakan keseimbangan (hukum keadilan) antara kepentingan manusia dengan kepentingan alam. Jangan mengeksploitasi alam hanya untuk kepentingan manusia tanpa memikirkan kepentingan kelestarian alam. Banyak krisis ekologi yang terjadi karena ada ketidakseimbangan antara kepentingan manusia dengan kepentingan alam. Selain itu, alam diciptakan oleh Tuhan dengan ukuran yang serapih-rapihnya (Q.S. 25:2) artinya peristiwa-peristiwa alam dalam batas-batas tertentu mampu diprediksi oleh manusia sehingga manusia perlu mempersiapkannya atau menjaganya.
Ketiga, sunnatullah berupa hukum kausalitas (sebab akibat) dan hukum sejarah berlaku secara universal di alam raya ini, tidak mengenal jenis kelamin, agama, suku, warna kulit dan sebagainya. Siapa yang sungguh-sungguh dialah yang dapat, begitulah hukum sejarah berlaku, sebaliknya siapa yang malas dialah yang akan menderita.
Subhanallah… ustadz menunjukkan rasa kekagumannya, ternyata jama’ahku orang-orang yang memiliki wawasan yang luas. Kalau jama’ah seperti ini, majlis ta’lim akan dinamis, tidak monoton serta banyak jama’ahnya. Ustadz itu pengetahuannya juga terbatas, tidak semua hal berkaitan dengan kehidupan diketahuinya. Apalagi pada era modern seperti sekarang ini, arus informasi begitu cepat, masing-masing individu punya kelebihan dan kekurangan, tak terkecuali ustadz, tinggal bagaimana kita saling bertukar informasi dan bertawsiah di antara kita. Demikian, mudah-mudahan pengajian melalui dialog ini ada manfaatnya dan semoga kita dapat memetik pelajaran untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. amin….
[i] Penulis adalah Dosen Jurusan Dakwah STAIN Purwokerto
Wednesday, 5 November 2008
MEMBACA ULANG MAKNA MEMAKMURKAN MASJID
OLEH: ABDUL BASIT
Di dalam realitas, persepsi umat Islam dalam proses memakmurkan masjid cenderung pada memakmurkan dalam arti fisik. Mereka membangun masjid dengan begitu megah, indah, dan nyaman untuk digunakan. Pemahaman seperti ini memang tidak ada salahnya, tetapi apalah artinya sebuah bangunan megah, sementara orang-orang yang mengisi masjid itu memiliki jiwa yang kropos dan fisik yang lemah. Padahal dalam surat at-taubah ayat 18, Allah menyinggung orang yang memakmurkan masjid adalah orang yang jiwanya kuat dalam arti memiliki keyakinan yang teguh kepada Allah dan hari akhir serta menunaikan shalat. Di samping itu, secara fisik ia juga harus menjadi orang yang kuat dalam hal ekonomi sehingga mampu mengeluarkan zakat untuk menghidupi aktivitas yang ada di dalam masjid.
Dengan demikian, persoalan memakmurkan masjid adalah persoalan bagaimana meningkatkan kualitas dari jamaah masjid itu sendiri. Kualitas yang dimaksud tidak hanya sebatas pada seberapa sering jamaah mengikuti aktivitas di Masjid, melainkan juga pada kualitas kehidupan yang dijalani setiap harinya. Jangan sampai ada jamaah yang rajin datang ke masjid, namun dalam kehidupannya ia tidak bisa makan, kurang peduli kepada sesama, bersikap egois, kurang pendidikan, dan sebagainya.
Untuk itulah persepsi yang harus diubah di kalangan umat Islam yakni pemahaman tentang memakmurkan masjid. Pada era sekarang sudah seharusnya dikembangkan pada pemahaman bagaimana masjid mampu memakmurkan umat Islam, terutama jama’ah di lingkungan masjid. Kehadiran masjid di lingkungan jamaah tidak dijadikan sebagai beban yang dapat memberatkan para jamaah. Justru sebaliknya, masjid dapat memberikan kenyamanan, ketenangan, dan kebahagian bagi para jamaahnya.
Langkah yang dapat ditempuh untuk melakukan perubahan tersebut, yakni: Pertama, membentuk dan memaksimalkan peran dari pengurus masjid. Bagi masjid yang belum memiliki struktur yang jelas perlu kiranya dilakukan pembentukan dan pembuatan aturan yang jelas sehingga masing-masing pengurus mempunyai rasa memiliki dan rasa bertanggung jawab terhadap tugasnya masing-masing. Pembentukan pengurus amat urgen untuk dilakukan. Mengingat masjid memiliki jamaah yang didalamnya terdapat perbedaan-perbedaan baik dari sisi pengetahuan, pemahaman, tingkat religiusitas, status sosial, dan sebagainya. Dengan adanya perbedaan-perbedaan tersebut diperlukan adanya penggerak, pemersatu, dan pengayom yang dapat menyatukan persepsi di antara para jamaah.
Bagi masjid yang telah ada struktur kepengurusannya tentu perlu dimaksimalkan peran dan fungsinya sebagai ta’mir masjid. Kelemahan yang ada selama ini, pengurus masjid hanya berperan sebagai imam besar di masjid dan sebagai koordinator dalam kegiatan-kegiatan ibadah di masjid. Ke depan yang perlu dikembangkan adalah bagaimana pengurus masjid itu memiliki wawasan yang luas, inovatif, dan kreatif sehingga dalam mengelola masjid mampu mengembangkan dan memaksimalkan potensi yang ada baik potensi yang dimiliki oleh masjid itu sendiri maupun potensi yang ada pada para jamaahnya. Dengan demikian, pengelolaan masjid yang dilakukan oleh pengurus perlu menerapkan manajemen modern yang profesional, akuntable, dan terbuka..
Langkah kedua adalah perlunya pendataan jama’ah masjid baik menyangkut jumlah jama’ah maupun potensi yang dimilikinya. Berkenaan dengan jumlah jama’ah perlu di data dari segi usia, jenis kelamin, pendidikan, mata pencaharian, kecenderungan ormas yang diikuti, dan alamat yang jelas. Sedangkan dari sisi potensi yang perlu diketahui adalah ekonominya, pemahaman keagamaannya, dan status sosialnya. Data-data ini diperlukan agar pengurus masjid ketika ingin memberdayakan jama’ahnya akan mudah melakukannya. Pengurus akan tahu siapa yang dapat membantunya dalam mengembangkan ilmu, siapa yang dapat membantu dalam pengembangan ekonomi, siapa yang dapat membantu dalam sektor keagamaan, dan siapa yang layak untuk dibantu, dan berbagai hal lainnya yang dapat dikembangkan di lingkungan masjid.
Setelah mengetahui data jama’ah, langkah selanjutnya adalah bagaimana mengembangkan kegiatan-kegiatan yang dapat memakmurkan jama’ah. Masjid tidak hanya difungsikan untuk ibadah mahdah saja, tetapi perlu dikembangkan kepada ibadah yang ghairu mahdah. Di zaman Rasulullah saja, masjid difungsikan untuk segala macam aktivitas yang diperlukan seperti mengatur strategi perang, tempat menuntut ilmu, sumber informasi, dan kegiatan lainnya. Apalagi pada era modern ini dimana kehidupan manusia sudah begitu kompleks dan persoalan yang dihadapinya juga semakin banyak. Karenanya masjid dapat dijadikan alternatif untuk pengembangan masyarakat. Jadikan masjid sebagai basis dan media untuk pemberdayaan masyarakat, khususnya dalam peningkatan kualitas sumber daya manusianya.
Dalam pengembangan kegiatan banyak hal yang bisa dilakukan seperti pendidikan, pelatihan, kajian-kajian ilmiah, kesehatan, perekonomian, jasa, konseling, perpustakaan, pembinaan muslimat, dan sebagainya. Dalam pengembangan kegiatan bisa dilakukan di lingkungan masjid atau dilakukan di masyarakat yang menjadi jama’ah masjid. Maksudnya masjid dapat memberikan modal kepada masyarakat untuk mengembangkan usaha jama’ah atau kerjasama dengan jama’ah dalam mengembangkan pertanian yang dimiliki oleh jama’ah. Pertimbangan dasar yang perlu dijadikan acuan dalam pengembangan kegiatan yakni adanya dukungan, kemauan, dan kepercayaan yang kuat dari jama’ah dan pengurus ta’mir Masjid..
Pada masa sekarang, dalam memakmurkan masjid dibutuhkan kreasi-kreasi yang briliant. Kita akan ketinggalan dan jauh dari kemajuan manakala dalam proses pemakmuran masjid hanya berjalan secara alamiah dan tidak terencana dengan baik. Untuk itulah, pengurus perlu melakukan terobosan dengan cara memaksimalkan potensi yang ada di masjid maupun jama’ah dan melakukan kerjasama baik antar masjid atau dengan ormas dan lembaga-lembaga lain baik pemerintah maupun swasta.
Seiring dengan pengembangan kegiatan-kegiatan yang ada di masjid, pengurus juga dapat membentuk dan mengembangkan lembaga-lembaga fungsional yang dapat dijadikan sebagai media untuk meningkatkan kualitas jama’ah dan dalam kerangka membangun jaringan. Umpamanya, kegiatan yang dikembangkan lebih mengarah pada pemberdayaan petani di lingkungan masjid, maka kita dapat membentuk koperasi petani yang ada di masjid. Koperasi ini selain berfungsi sebagai wadah berkumpulnya para petani, juga bisa dikembangkan sebagai media untuk memberikan informasi berkenaan dengan ekonomi syari’ah, pembinaan etos kerja, pemberian ketrampilan dan sebagainya.
Selain tiga langkah di atas, ada hal lain yang dapat dimanfaatkan untuk merubah persepsi masyarakat tentang cara memakmurkan mesjid, yakni peran dari organisasi Dewan Masjid Indonesia yang menjadi wadah silaturrahim dan wadah untuk pengembangan masjid. Organisasi ini dapat melakukan sosialisasi melalui media tentang arti penting memakmurkan jamaah dan bisa juga melakukan pelatihan-pelatihan bagi pengurus masjid agar lebih kreatif, inovatif, dan professional dalam mengembangkan masjid.
Sebagai catatan akhir, penulis mengingatkan bahwa suatu usaha untuk memakmurkan masjid perlu didukung secara bersama-sama. Karenanya membangun persepsi yang sama dan menjalin komunikasi yang intens antara jama’ah dengan pengurus merupakan kunci utama menuju kesuksesan. Akhirnya, penulis berharap mudah-mudahan, masjid-msajid yang ada di lingkungan umat Islam,dapat berperan sebagai basis dan media untuk memberdayakan masyarakat baik yang bersifat ruhaniah maupun yang bersifat material.
Wallahu a’lam bi al-shawab.
Di dalam realitas, persepsi umat Islam dalam proses memakmurkan masjid cenderung pada memakmurkan dalam arti fisik. Mereka membangun masjid dengan begitu megah, indah, dan nyaman untuk digunakan. Pemahaman seperti ini memang tidak ada salahnya, tetapi apalah artinya sebuah bangunan megah, sementara orang-orang yang mengisi masjid itu memiliki jiwa yang kropos dan fisik yang lemah. Padahal dalam surat at-taubah ayat 18, Allah menyinggung orang yang memakmurkan masjid adalah orang yang jiwanya kuat dalam arti memiliki keyakinan yang teguh kepada Allah dan hari akhir serta menunaikan shalat. Di samping itu, secara fisik ia juga harus menjadi orang yang kuat dalam hal ekonomi sehingga mampu mengeluarkan zakat untuk menghidupi aktivitas yang ada di dalam masjid.
Dengan demikian, persoalan memakmurkan masjid adalah persoalan bagaimana meningkatkan kualitas dari jamaah masjid itu sendiri. Kualitas yang dimaksud tidak hanya sebatas pada seberapa sering jamaah mengikuti aktivitas di Masjid, melainkan juga pada kualitas kehidupan yang dijalani setiap harinya. Jangan sampai ada jamaah yang rajin datang ke masjid, namun dalam kehidupannya ia tidak bisa makan, kurang peduli kepada sesama, bersikap egois, kurang pendidikan, dan sebagainya.
Untuk itulah persepsi yang harus diubah di kalangan umat Islam yakni pemahaman tentang memakmurkan masjid. Pada era sekarang sudah seharusnya dikembangkan pada pemahaman bagaimana masjid mampu memakmurkan umat Islam, terutama jama’ah di lingkungan masjid. Kehadiran masjid di lingkungan jamaah tidak dijadikan sebagai beban yang dapat memberatkan para jamaah. Justru sebaliknya, masjid dapat memberikan kenyamanan, ketenangan, dan kebahagian bagi para jamaahnya.
Langkah yang dapat ditempuh untuk melakukan perubahan tersebut, yakni: Pertama, membentuk dan memaksimalkan peran dari pengurus masjid. Bagi masjid yang belum memiliki struktur yang jelas perlu kiranya dilakukan pembentukan dan pembuatan aturan yang jelas sehingga masing-masing pengurus mempunyai rasa memiliki dan rasa bertanggung jawab terhadap tugasnya masing-masing. Pembentukan pengurus amat urgen untuk dilakukan. Mengingat masjid memiliki jamaah yang didalamnya terdapat perbedaan-perbedaan baik dari sisi pengetahuan, pemahaman, tingkat religiusitas, status sosial, dan sebagainya. Dengan adanya perbedaan-perbedaan tersebut diperlukan adanya penggerak, pemersatu, dan pengayom yang dapat menyatukan persepsi di antara para jamaah.
Bagi masjid yang telah ada struktur kepengurusannya tentu perlu dimaksimalkan peran dan fungsinya sebagai ta’mir masjid. Kelemahan yang ada selama ini, pengurus masjid hanya berperan sebagai imam besar di masjid dan sebagai koordinator dalam kegiatan-kegiatan ibadah di masjid. Ke depan yang perlu dikembangkan adalah bagaimana pengurus masjid itu memiliki wawasan yang luas, inovatif, dan kreatif sehingga dalam mengelola masjid mampu mengembangkan dan memaksimalkan potensi yang ada baik potensi yang dimiliki oleh masjid itu sendiri maupun potensi yang ada pada para jamaahnya. Dengan demikian, pengelolaan masjid yang dilakukan oleh pengurus perlu menerapkan manajemen modern yang profesional, akuntable, dan terbuka..
Langkah kedua adalah perlunya pendataan jama’ah masjid baik menyangkut jumlah jama’ah maupun potensi yang dimilikinya. Berkenaan dengan jumlah jama’ah perlu di data dari segi usia, jenis kelamin, pendidikan, mata pencaharian, kecenderungan ormas yang diikuti, dan alamat yang jelas. Sedangkan dari sisi potensi yang perlu diketahui adalah ekonominya, pemahaman keagamaannya, dan status sosialnya. Data-data ini diperlukan agar pengurus masjid ketika ingin memberdayakan jama’ahnya akan mudah melakukannya. Pengurus akan tahu siapa yang dapat membantunya dalam mengembangkan ilmu, siapa yang dapat membantu dalam pengembangan ekonomi, siapa yang dapat membantu dalam sektor keagamaan, dan siapa yang layak untuk dibantu, dan berbagai hal lainnya yang dapat dikembangkan di lingkungan masjid.
Setelah mengetahui data jama’ah, langkah selanjutnya adalah bagaimana mengembangkan kegiatan-kegiatan yang dapat memakmurkan jama’ah. Masjid tidak hanya difungsikan untuk ibadah mahdah saja, tetapi perlu dikembangkan kepada ibadah yang ghairu mahdah. Di zaman Rasulullah saja, masjid difungsikan untuk segala macam aktivitas yang diperlukan seperti mengatur strategi perang, tempat menuntut ilmu, sumber informasi, dan kegiatan lainnya. Apalagi pada era modern ini dimana kehidupan manusia sudah begitu kompleks dan persoalan yang dihadapinya juga semakin banyak. Karenanya masjid dapat dijadikan alternatif untuk pengembangan masyarakat. Jadikan masjid sebagai basis dan media untuk pemberdayaan masyarakat, khususnya dalam peningkatan kualitas sumber daya manusianya.
Dalam pengembangan kegiatan banyak hal yang bisa dilakukan seperti pendidikan, pelatihan, kajian-kajian ilmiah, kesehatan, perekonomian, jasa, konseling, perpustakaan, pembinaan muslimat, dan sebagainya. Dalam pengembangan kegiatan bisa dilakukan di lingkungan masjid atau dilakukan di masyarakat yang menjadi jama’ah masjid. Maksudnya masjid dapat memberikan modal kepada masyarakat untuk mengembangkan usaha jama’ah atau kerjasama dengan jama’ah dalam mengembangkan pertanian yang dimiliki oleh jama’ah. Pertimbangan dasar yang perlu dijadikan acuan dalam pengembangan kegiatan yakni adanya dukungan, kemauan, dan kepercayaan yang kuat dari jama’ah dan pengurus ta’mir Masjid..
Pada masa sekarang, dalam memakmurkan masjid dibutuhkan kreasi-kreasi yang briliant. Kita akan ketinggalan dan jauh dari kemajuan manakala dalam proses pemakmuran masjid hanya berjalan secara alamiah dan tidak terencana dengan baik. Untuk itulah, pengurus perlu melakukan terobosan dengan cara memaksimalkan potensi yang ada di masjid maupun jama’ah dan melakukan kerjasama baik antar masjid atau dengan ormas dan lembaga-lembaga lain baik pemerintah maupun swasta.
Seiring dengan pengembangan kegiatan-kegiatan yang ada di masjid, pengurus juga dapat membentuk dan mengembangkan lembaga-lembaga fungsional yang dapat dijadikan sebagai media untuk meningkatkan kualitas jama’ah dan dalam kerangka membangun jaringan. Umpamanya, kegiatan yang dikembangkan lebih mengarah pada pemberdayaan petani di lingkungan masjid, maka kita dapat membentuk koperasi petani yang ada di masjid. Koperasi ini selain berfungsi sebagai wadah berkumpulnya para petani, juga bisa dikembangkan sebagai media untuk memberikan informasi berkenaan dengan ekonomi syari’ah, pembinaan etos kerja, pemberian ketrampilan dan sebagainya.
Selain tiga langkah di atas, ada hal lain yang dapat dimanfaatkan untuk merubah persepsi masyarakat tentang cara memakmurkan mesjid, yakni peran dari organisasi Dewan Masjid Indonesia yang menjadi wadah silaturrahim dan wadah untuk pengembangan masjid. Organisasi ini dapat melakukan sosialisasi melalui media tentang arti penting memakmurkan jamaah dan bisa juga melakukan pelatihan-pelatihan bagi pengurus masjid agar lebih kreatif, inovatif, dan professional dalam mengembangkan masjid.
Sebagai catatan akhir, penulis mengingatkan bahwa suatu usaha untuk memakmurkan masjid perlu didukung secara bersama-sama. Karenanya membangun persepsi yang sama dan menjalin komunikasi yang intens antara jama’ah dengan pengurus merupakan kunci utama menuju kesuksesan. Akhirnya, penulis berharap mudah-mudahan, masjid-msajid yang ada di lingkungan umat Islam,dapat berperan sebagai basis dan media untuk memberdayakan masyarakat baik yang bersifat ruhaniah maupun yang bersifat material.
Wallahu a’lam bi al-shawab.
Subscribe to:
Posts (Atom)