Sunday, 15 April 2012

ALAM SEMESTA

Alam semesta diciptakan oleh Allah dengan haq (QS. 39: 5) dan tidak diciptakan Tuhan secara main-main (QS. 21:16) serta tidak pula secara palsu (QS. 38:27). Oleh karena itu, menjadi tugas manusia untuk senantiasa mencari tahu maksud utama diciptakan alam semesta ini oleh Allah swt. Manusia harus mengerahkan dan mencurahkan akalnya untuk mengetahui maksud diciptakan alam semesta dan sekaligus untuk memahami alam semesta bagi kehidupan manusia. Konsekuensi logis dari pemahaman tersebut, maka alam semesta menjadi objek pemahaman sekaligus sumber pelajaran bagi mereka yang mau berpikir (QS. 3:190-191).
Dengan potensi akal yang diberikan oleh Allah dan alam semesta diciptakan dengan ukuran dan ketentuan yang pasti (QS. 25:2; 36: 38-39; 54:49), maka alam semesta dapat diprediksi dan dipelajari. Manusia ketika melihat awan gelap dan terjadi gemuruh, kemudian turun hujan. Peristiwa tersebut terjadi berulangkali dalam kehidupan manusia, maka dengan akalnya, manusia bisa menyimpulkan bahwa setiap awan gelap dan terjadi gemuruh, manusia perlu bersiap-siap diri untuk menghadapi hujan yang akan turun. Demikian juga dengan kejadian-kejadian alam yang lainnya seperti meletus gunung, banjir, dan sebagainya, semua itu dapat diprediksi dan dipelajari agar manusia dapat mengantisipasi peristiwa yang menimpa dirinya.
Lebih jauh lagi manusia dapat belajar dari kehidupan alam yang penuh harmonis dan penuh hikmah. Manusia bisa belajar dari kehidupan burung yang dengan penuh semangat dan etos kerja yang tinggi, tidak mengenal musim hujan atau kemarau, burung terus terbang mencari nafkah untuk menghidupi anak-anaknya. Bahkan, ketika di suatu wilayah, makanan sudah tidah memungkinkan lagi didapat, burung bisa melakukan hijrah ke berbagai wilayah untuk mendapatkan makanan. Kehebatan burung merupakan salah satu pertanda adanya kekuasaan dan kekuatan yang menciptakannya. Oleh karena itu, alam semesta sebagai ayat-ayat yang menjadi sumber pelajaran dan ajaran bagi manusia. Hakekat alam yang penuh hikmah, harmonis dan baik itu mencerminkan hakekat Tuhan, Maha Pencipta, Yang Maha Kasih dan Sayang (QS. 67: 3).
Manusia pun terkadang tidak bisa mengelak dari peristiwa-peristiwa alam yang tidak bisa diprediksikan seperti terjadinya gempa, meletusnya gas bumi, munculnya penyakit yang mematikan dan sebagainya. Semua peristiwa tersebut menunjukkan betapa Tuhan Maha Kuasa, bisa melakukan apa saja terhadap kehidupan di alam semesta ini. Alam semesta adalah milik Allah (QS. 4: 126). Dia dapat menghancurkan dan membangun kembali alam semesta beserta segala isinya sesuai dengan kehendak-Nya. Manusia tidak bisa berlaku sombong dan sewenang-wenang dalam memanfaatkan alam semesta. Allah mengamanahkan alam semesta kepada manusia yang shaleh (QS. 21:105, 7:128) untuk terus dibangun dan dikembangkan (QS. 11:61, 14:32-33).
Sekalipun manusia adalah makhluk tertinggi dan khalifah di bumi, namun hubungan manusia terhadap alam harus disertai sikap rendah hati yang sewajarnya, dengan melihat alam sebagai sumber ajaran dan pelajaran untuk menerapkan sikap tunduk kepada Allah. Manusia harus menyertai alam sekitarnya dalam bertasbih memuji Allah (QS. 17: 44), antara lain dengan memelihara alam itu dan menumbuhkannya ke arah yang lebih baik dan bukannya melakukan perusakan dan kerusakan di muka bumi.

KONSEP MANUSIA DALAM AL-QUR'AN

Manusia merupakan salah satu makhluk Tuhan yang ada di muka bumi ini. Berbeda dengan makhluk lainnya seperti binatang, tumbuhan dan malaikat. Keberadaan manusia di muka bumi menempati posisi utama sebagai khalifah. Sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah ”ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ”sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi...” (Q.S. 2: 30). Sebagai seorang khalifah, maka tugas manusia di muka bumi ini adalah memakmurkan alam semesta ini ”Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya”. (QS. 11:61).
Posisi manusia yang istimewa ini hendaknya dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Mengingat manusia berada di muka bumi ini tidak berlangsung lama. Setiap manusia akan mengalami kematian ”tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati” (QS. 3:185) atau dengan perkataan lain manusia hidup memiliki keterbatasan waktu, usia dan tenaga. Jika dihitung rata-rata kehidupan manusia antara 60-70 tahun, maka waktu yang bisa dimanfaatkan secara efektif untuk meraih kehidupan yang lebih baik antara 30-40 tahun. Waktu yang relatif singkat ini pun apabila tidak dimanfaatkan secara maksimal tentu akan menimbulkan kerugian yang besar bagi kehidupan kita seperti kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan, ketertindasan dan sebagainya.
Oleh karena itu, langkah awal untuk mempersiapkan diri yang lebih baik yaitu perlunya mengenal lebih jauh tentang diri kita sendiri dan amanah apa yang mesti dijalankan sebagai hamba Allah di muka bumi.
Manusia di dalam al-Qur’an digambarkan sebagai makhluk yang memiliki dua unsur utama yaitu fisik dan jiwa (mental). Penciptaan manusia secara fisik digambarkan oleh Allah di dalam surat al-Mu’minin (23) ayat 12-14 ”dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka maha sucilah Allah, pencipta yang paling baik. Kemudian sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat”. Uraian yang senada (hampir sama) tentang proses penciptaan manusia secara fisik ini dapat dilihat di dalam surat al-Hajj (22) ayat 5.
Adapun penciptaan jiwa ---dalam hal ini ruh---manusia digambarkan di dalam al-Qur’an surat as-Sajdah (32) ayat 7-9 ”yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hatti, (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur”.
Dari dua unsur yang berbeda ini ternyata di dalam diri manusia terdapat dua sifat yang saling tarik menarik ”maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya” (QS. 91:8). Di satu sisi manusia yang berasal dari tanah ---dimana tanah merupakan unsur yang rendah berada di bawah kaki manusia dan menjadi tempat kotoran---yang memiliki sifat-sifat jelek. Hal ini banyak digambarkan di dalam al-Qur’an yang menyatakan manusia memiliki sifat-sifat tercela seperti sombong (QS. 4:36), iri hati (QS. 2:109), melampaui batas (QS. 96:6-7), kikir (QS. 17:100), suka tergesah-gesah (QS. 70:19-20) dan sebagainya. Di sisi lain, di dalam diri manusia ada ruh yang suci keberadaannya. Karena itu, di dalam diri manusia ada sifat-sifat terpuji dan sifat-sifat yang cenderung kepada Tuhan.
Untuk dapat mengenali dan menjalankan kehidupannya dengan baik, maka manusia diberikan kebebasan untuk menentukan sikapnya. Apakah ia memilih jalan kebaikan atau kejahatan. Jelasnya, manusia diberikan alat atau potensi oleh Allah untuk memilih jalan berupa akal dan nafsu. Jika dua alat ini dikelola dengan baik, manusia tidak akan terjerumus dalam memilih jalan kehidupannya. Kecenderungan manusia berbuat baik lebih besar dibandingkan dengan kecenderungan manusia untuk berbuat jahat. Oleh karena itu, pilihan yang diambil manusia nantinya perlu dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Karena manusia diciptakan bukan untuk main-main, tetapi memiliki tujuan yang jelas ”apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?”. (QS. 75:36). Dalam ayat lain dikatakan ”maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya kami menciptakan kamu secara bermain-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?” (QS.23:115).
Manusia bisa berbuat apa saja di dunia, baik menyangkut pada perbuatan baik maupun pada perbuatan yang buruk. Jika manusia melakukan perbuatan baik, maka manusia tersebut digolongkan sebagai manusia yang baik. Sebaliknya, apabila seorang manusia melakukan perbuatan jahat, maka ia digolongkan sebagai manusia yang tidak baik. Oleh karena itu, hakekat keberadaan manusia ditentukan oleh amal (perbuatan) manusia itu sendiri (QS. 53: 39-40).
Dalam melakukan amal di dunia, manusia membutuhkan petunjuk atau arah agar amal yang dikerjakannya tidak sia-sia. Dalam hal ini manusia dapat memanfaatkan akal yang diberikan oleh Tuhan kepadanya. Akal difungsikan untuk menuntut dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Karena itu, manusia diwajibkan untuk mencari ilmu pengetahuan. Al-Qur’an dan beberapa ayatnya menganjurkan dan mendorong kepada manusia untuk menuntut ilmu. Dengan ilmu, Adam dapat mengalahkan makhluk Tuhan yang lainnya dan malaikat sujud kepadanya (QS. 2:31-34), manusia akan diangkat derajatnya oleh Allah swt (QS. 58:11), orang yang berilmu tidak sama dengan orang yang tidak berilmu (QS. 39:9), dan berbagai kelebihan lain yang ditunjukkan oleh Allah kepada orang-orang yang mau menuntut ilmu dan mengamalkannya.
Ilmu yang dimiliki manusia bisa saja dipergunakan oleh manusia untuk mengerjakan amal yang jelek atau untuk merusak manusia dan alam semesta. Seperti bom yang awalnya diciptakan oleh manusia untuk kebaikan, yakni untuk memanfaatkan alam, tetapi oleh manusia digunakan untuk menghancurkan dan menyengsarakan manusia. Demikian pula, manusia dengan kecanggihan otaknya dapat membobol uang di bank melalui pemanfaatan teknologi komunikasi. Dengan ilmu juga, manusia banyak yang melakukan korupsi dan memanipulasi orang untuk kepentingan dirinya dan kelompoknya. Oleh karena itu, ilmu menjadi bermanfaat atau membawa kemudharatan lebih bergantung kepada manusia itu sendiri.
Untuk mencegah terjadinya penyimpangan yang dilakukan oleh manusia terhadap ilmu, maka manusia perlu dibimbing dengan iman. Iman menjadi landasan gerak yang utama dan mengarahkan manusia kepada sasaran atau tujuan hidup yang sesungguhnya. Iman merupakan proses pembenaran hati yang dalam aplikasinya perlu diwujudkan dalam amal sehari-hari. Orang yang beriman adalah orang yang memiliki hati yang tentram dan senantiasa ingat atau berzikir kepada Allah serta memiliki sikap optimisme (semangat yang tinggi) dalam menjalankan kehidupan di dunia.
Dengan iman yang tertanam dalam dirinya, manusia dipercaya oleh Tuhan untuk memikul amanah yang diberikan oleh Allah kepada manusia ”Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat lalim dan amat bodoh sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima tobat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. 33:72-73).
Amanat yang diberikan Allah kepada manusia terkait dengan tugas kemanusiaan di muka bumi ini. Tugas yang pertama adalah manusia menjadi hamba Allah. Sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an ”dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (QS. 51:56). Sebagai seorang hamba, manusia perlu mematuhi aturan-aturan atau ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh tuannya. Aturan-aturan ini dapat diketahui melalui berita yang dibawa oleh seorang Rasul. Dalam hal ini aturan-aturan yang tertera dalam al-Qur’an dan al-Hadits.
Amanat kedua adalah manusia sebagai khalifah di muka bumi. ”ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi...” (QS. 2:30). Sebagai seorang khalifah, maka tugas manusia di muka bumi ini adalah memakmurkan alam semesta ini ”Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya” (QS. 11:61). Cara untuk memakmurkan alam ini tentunya dengan menggunakan ilmu pengetahuan yang didapat manusia melalui proses berpikir dan berkomunikasi melalui bahasa. Selain itu, alam yang diciptakan oleh Tuhan sudah berdasarkan ketentuan dan ukuran yang pasti sehingga dapat diprediksi oleh manusia.
Dari uraian di atas sangat jelas sekali bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan bertujuan untuk menjalankan misi sebagai hamba Allah dan khalifatullah di muka bumi ini. Misi manusia dapat dijalankan dengan baik manakala manusia memiliki iman kepada Allah dan ilmu pengetahuan.

WACANA AL-QUR'AN TENTANG TUHAN

Pembahasan tentang Tuhan merupakan pembahasan yang tidak pernah selesai, baik di kalangan Filosof, Teolog, Ilmuwan, Budayawan dan para ahli lainnya. Tuhan selalu menarik untuk dibicarakan; siapa Tuhan, mengapa kita harus menyembah Tuhan, bagaimana kita berhubungan dengan Tuhan, bagaimana peran Tuhan dalam kehidupan manusia, dan berbagai pertanyaan lain yang senantiasa menghantui diri manusia. Menariknya Tuhan untuk selalu dibicarakan karena Tuhan bersifat non-empiris, sementara eksistensi dan peran Tuhan dalam kehidupan di alam dunia ini dapat dirasakan oleh manusia.
Adanya kematian, bencana alam, siang dan malam, musim hujan dan kemarau, serta berbagai fenomena alam lainnya merupakan simbol-simbol yang menunjukkan adanya peran Tuhan di dalamnya. Tragedi yang dialami manusia, seperti kematian dan bencana alam, menyebabkan manusia berupaya untuk mengungkap siapa yang berperan dibalik itu semua. Manusia meyakini ada kekuatan di luar diri manusia. Pada konteks inilah manusia meyakini bahwa kekuatan tersebut adalah Tuhan. Awalnya manusia mempersepsi kekuatan tersebut bersumber dari roh-roh yang ada di alam, yang kemudian melahirkan paham animisme. Selanjutnya, pemikiran manusia mengalami perkembangan dan manusia meyakini banyaknya kekuatan-kekuatan atau Tuhan-Tuhan yang membantu hidup manusia, maka lahirlah keyakinan banyak Tuhan atau politeisme.
Jika kita mengajukan pertanyaan, kapan manusia memiliki kesadaran mengenal adanya eksistensi dan peran Tuhan di alam semesta ini, nampaknya teramat sulit untuk diberikan penjelasan secara detail dan jelas. Sumber utama yang bisa kita yakini memberikan informasi tentang eksistensi Tuhan berasal dari teks-teks agama. Adam, di dalam teks al-Qur’an, diyakini sebagai orang pertama yang mengaku bersalah di hadapan Tuhan dan memohon ampun terhadap dosa-dosa yang dibuatnya (QS.7: 19-25). Dari peristiwa yang dialami Adam inilah yang kemudian berlanjut menjadi proses dramatisasi kehidupan manusia di alam semesta ini.
Proses kehidupan manusia dalam pencariannya terhadap Tuhan tidak bersifat linear artinya keyakinan Adam terhadap keesaan Tuhan tidak serta merta menjadikan seluruh manusia memiliki paham monoteisme (paham satu Tuhan). Potensi negatif atau pembangkangan yang terdapat dalam diri manusia memungkinkan manusia tidak percaya terhadap Tuhan (atheis dan agnotisme), membuat Tuhan-Tuhan yang banyak (politeisme), dan pencampuran keyakinan (sinkritisme) antara keyakinan terhadap Tuhan dengan Keyakinan terhadap kekuatan yang lain. Semua itu merupakan sesuatu yang sangat manusiawi. Justru dengan adanya potensi tersebut akan memberikan peluang bagi manusia untuk terus berjuang dalam mencari dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Inilah yang dalam konsep Islam disebut sebagai “ujian” bagi manusia untuk memilih jalan yang terbaik, jalan yang lurus, yakni jalan yang diridhai Tuhan dan jalan yang diberi ni’mat.
Pada konteks inilah dakwah Islam amat diperlukan untuk memberikan penjelasan tentang konsepsi Tuhan yang diyakini oleh Islam. Tuhan yang diyakini bukan hanya sebagai objek kajian dari pemikiran manusia saja, melainkan Tuhan yang senantiasa dirasakan kehadirannya dalam diri manusia, Tuhan yang aktif, Tuhan yang penuh kasih sayang, dan Tuhan yang menjadi tujuan manusia untuk bertemu. Di samping itu, Tuhan merupakan satu-satunya zat yang berkuasa dan memiliki otoritas penuh. Semua prinsip, hukum, adat kebiasaan yang berbeda dengan petunjuk Tuhan harus dijauhi. Semua teori atau ajaran yang tidak mengacu kepada petunjuk Tuhan dapat dianggap sebagai menolak kedaulatan Tuhan dan membikin Tuhan-Tuhan selain daripada Tuhan Esa yang sebenarnya. Tunduk dan patuh kepada Tuhan berarti membawa seantero hidup manusia ini sesuai dengan kemauan Tuhan yang diwahyukan.
Penyimpangan keyakinan terhadap Tuhan dalam bahasa al-Qur’an disebut dengan syirik. Al-Qur’an menyebutkan dua ciri utama dari kemusyrikan yaitu: pertama, menganggap Tuhan mempunyai sekutu (syarik). Kedua, menganggap Tuhan mempunyai saingan (andad). Obyek sesembahan yg dilarang dan termasuk perbuatan syirik adalah menyembah berhala (QS. 6:74,7:138, 21:52), benda langit (41:37), benda mati (4:117), makhluk halus (6:101), dan tokoh yg dianggap Tuhan (4:171,5:116, 6:102, 19:82-92, 16:57, 17:40, dan 37:49). Sementara yang bisa dijadikan ilah sebagai saingan (andad) Tuhan adalah kecintaan (2:165), kataatan tanpa reserve terhadap ulama (9:31), fanatisme golongan, aliran (23:52-53, 30:31-32), kecintaan harta (9:24), dan hawa nafsu (25:43).
Persoalan tunduk dan patuh kepada Tuhan bagi manusia merupakan problem tersendiri. Tuhan yang eksistensinya sangat abstrak sulit untuk dapat ditangkap oleh manusia yang senantiasa berfikir di alam nyata atau realitas. Bagaimana harus tunduk dan mengetahui perintah-perintah-Nya, sementara Tuhan sendiri begitu abstrak bagi manusia? Untuk menjawab pertanyaan ini, maka perlu dijelaskan tentang fungsi syahadat yang kedua, yakni berkaitan dengan doktrin kerasulan atau kenabian. Menurut Al-Syahrastani, “kenabian merupakan rahmat yg diberikan oleh Allah kepada siapa saja hamba-Nya yang Dia kehendaki”.
Doktrin tersebut dianggap sebagai tanggapan Tuhan terhadap kebutuhan manusia akan petunjuk. Karena sangat mendasarnya keperluan itu, maka kenabian mulai dengan permulaan kehidupan manusia di dunia ini. Manusia pertama adalah juga nabi dan Rasul yang pertama. Karena kenabian adalah keperluan semua umat manusia, maka nabi-nabi bukan merupakan hak istimewa dari sesuatu ras atau wilayah tertentu. Menurut al-Qur’ân, Nabi dan Rasul dibangkitkan di semua bagian dunia ini. Mereka dituntut untuk menyampaikan dan mengamalkan kebenaran itu serta mengajak kepada umat manusia untuk tunduk dan patuh kepada Tuhan. Petunjuk Tuhan yang diajarkan kepada mereka diwahyukan dalam bentuk final dan sempurna kepada Nabi Muhammad saw yang bukan hanya menyampaikan kepada orang lain, tetapi juga mengamalkannya dan dengan sukses mendirikan masyarakat dan negara atas dasar wahyu itu.
Selain itu, doktrin kenabian disebabkan karena Akal manusia tidak mampu mengungkap hakekat kebenaran (QS. 2:216) dan Tuhan berkomunikasi dengan orang pilihan-Nya untuk mengajarkan manusia dalam beribadah pada Tuhan (QS. 22: 75). Untuk itulah, Tuhan mengutus para Nabi sesuai dengan waktu dan kondisi umat-nya “Untuk tiap-tiap umat di antara kamu kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat, tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan” (QS.5:48).
Nabi Muhammad sebagai nabi dan rasul terakhir mengajarkan misi yang sama dengan rasul-rasul sebelumnya yakni mengesakan Allah ”Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan kami wahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku (Q.S. 21:25). Allah adalah Rab (aktif) dan malik (penguasa). Allah adalah Tuhan Yang Esa (QS. 112:1-4), yang membantah konsep Yahudi bahwa uzair anak Allah (QS. 9:30) dan menyembah sapi (QS. 2: 67-71), serta membantah konsep Nasrani tentang trinitas (QS. 5:72-73).
Pengesaan terhadap Allah swt merupakan persoalan aqidah atau keyakinan. Manusia meyakini sesuatu manakala sesuatu tersebut dapat dilihat atau disaksikan secara langsung melalui indera manusia. Di samping itu, keyakinan manusia dapat diperoleh melalui berita yang diyakini kejujuran si pembawa berita. Kita tidak bisa memungkiri wujud sesuatu, hanya karena kita tidak bisa menjangkaunya dengan mata (indera). Contohnya kita dapat meyakini adanya waktu yang terus berputar dalam kehidupan manusia, namun kita tidak bisa menjangkau keberadaan waktu tersebut. Begitu juga keyakinan kepada Allah tidak harus dibangun melalui penginderaan secara langsung, melainkan melalui pemberitaan yang dibawa oleh Nabi Muhammad yang ma’shum dan jujur.
Selain itu, manusia juga sejak lahir telah dibekali keimanan oleh Allah swt. Iman adalah fithrah setiap manusia “dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)" (QS. 7:172).
Mengingat Allah Maha Absolut, maka antara Allah dan manusia selalu ada “jarak” yang amat jauh sehingga manusia bersikap “paradoksal” dalam memposisikan Allah. Allah yang diyakini sebagai yang teramat jauh, bahkan tidak terjangkau (transendent), tetapi sekaligus juga berada bersama, bahkan di dalam diri kita (immanent). Sebagai akibatnya, manusia menangkap kehadiran Allah melalui simbol-simbol yang disakralkan. Adanya jarak yang jauh antara Allah dan manusia, maka jarak itu dijembatani dengan nama-nama serta tanda-tanda dalam bahasa arab disebut asma (QS.21: 25, 20:14), ayat (QS. 20:113), dan alam (QS. 3:190-191).
Para ulama ketika memperkenalkan dan memberikan pemahaman tentang eksistensi dan peran Allah, melalui ilmu tauhid. Sayangnya, ilmu tauhid yang ada cenderung pada pemahaman yang bersifat intelektual dengan memperkenalkan hukum akal menjadi sifat wajib, mustahil dan jaiz. Umat Islam sangat hapal sekali dengan sifat wajib Allah, seperti wujud, qidam, baqa, mukhalafatu lilhawaditsi, qiyamuhu binafsihi dan seterusnya, tetapi kurang memahami dalam praktek keseharian manusia sehingga hapalan tersebut tidak bisa mengatasi problematika kemanusiaan. Ilmu tauhid semacam itu tidak membuahkan elan vital (gairah hidup), melainkan hanya inner force (kekuatan batin).
Padahal inti pembahasan tauhid adalah pembahasan Allah. Sementara Allah senantiasa berada di dalam kehidupan manusia “tiada pertemuan antara tiga orang kecuali Tuhan yg keempat, juga tidak lima orang kecuali Tuhan yg keenam, dan tidak pula yg lebih sedikit atau lebih banyak kecuali Tuhan pun ada di sana” (QS. 58:7). Dengan demikian tauhid berperan sebagai pembangun kesadaran manusia dalam menjalani kehidupan. Bahkan, tauhid oleh Allah diibaratkan seperti pohon. Jika tauhidnya kuat, maka unsur lainnya (ibadah dan muamalah) akan kuat.“tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yg baik (tauhid) seperti pohon yg baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat” (QS. 14:24-25).
Oleh karena itu, pemahaman yang perlu dikembangkan dalam diri umat Islam tentang Allah, yakni secara individual, kita perlu menghadirkan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari dengan cara mengingat Allah terus menerus “hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbilah kepada-Nya di waktu pagi dan petang”(QS.33: 41-42). Kemudian mengaktualisasikan sifat-sifat Tuhan yang serba suci dan mulia dalam perilaku kita sehari-hari dan perlu diwujudkan dengan cara ikut berpartisipasi dalam memecahkan persoalan-persoalan kemanusiaan dan persoalan-persoalan sosial yang ada di masyarakat. Isu-isu perburuhan dan ketenagakerjaan, kemiskinan, gender, pemberdayaan masyarakat, pluralisme agama, lingkungan hidup, kesadaran hukum, pendidikan, dan moralitas bangsa merupakan isu-isu besar yang membutuhkan perhatian dari seorang muslim yang bertauhid kepada Allah
Menurut Fazlurrahman, sebenarnya yang dituju oleh Al-Qur’an bukanlah Tuhan, melainkan manusia dan tingkah lakunya. Ketika manusia sekarang dihadapkan pada berbagai macam tantangan dan perkembangan sosial-kemasyarakatan yang begitu cepat, maka dibutuhkan tauhid yang tidak hanya menekankan keselamatan individu saja, tetapi juga keselamatan sosial. Oleh karena itu, semangat al-Qur’an untuk menggabungkan tauhid akidah dengan tauhid sosial perlu diwujudkan dalam kehidupan manusia. Bahkan, menurut Komaruddin Hidayat bahwa dalam pandangan al-Qur’an kesadaran spiritualitas seseorang terimpit erat dengan kesadaran kemanusiaannya. Makin tinggi kesadaran keberagamaan seseorang, mestinya makin tinggi juga kualitas kemanusiaannya.

Wednesday, 12 October 2011

PERAN MASJID DALAM PEMBINAAN GENERASI MUDA

A. Pendahuluan
Menurut Ramlan, jumlah generasi muda yang begitu besar bisa berarti keuntungan sekaligus kerugian bagi bangsa Indonesia yang sedang membangun. Ia merupakan keuntungan jika dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk kepentingan pembangunan, akan tetapi kerugianlah yang akan terjadi jika mereka menjadi beban dan tanggungan bagi anggota masyarakat lainnya. Mengingat komposisi generasi muda yang berusia antara 15-35 tahun merupakan jumlah terbesar dari penduduk Indonesia, yaitu sebesar 37% dari total Penduduk Indonesia yang 220 juta.

Jumlah generasi muda yang besar tersebut terkadang hanya dijadikan sebagai komoditas politik belaka bahwa remaja merupakan agen perubahan dan generasi yang sangat diharapkan eksistensinya. Sementara, pengakuan nyata terhadap generasi muda sebagai kategori sosial yang menjadi elemen penting dalam kehidupan sosial kemasyarakatan kurang mendapatkan tempat. Pemuda masih dianggap anak-anak apabila mereka belum menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, pekerjaan tetap dan memiliki emosi yang stabil. Karenanya, banyak pemuda yang pragmatis dengan mengambil sikap acuh tak acuh dengan problematika yang berkembang di masyarakat atau hanya tekun belajar untuk meraih prestasi yang tinggi tanpa peduli dengan kehidupan orang lain.
Akibat lemahnya pengakuan terhadap pemuda, mereka mengalami problem identitas yang berpotensi menggiring pada melemahnya ikatan-ikatan sosial di antara pemuda dan masyarakat. Mereka mengalami disorientasi sosial terhadap fungsi dan perannya sebagai pelaku perubahan. Padahal salah satu hal yang membuat peran pemuda menjadi sangat penting adalah karena keberadaan pemuda yang mengisyaratkan adanya semangat perubahan. Jiwa mereka masih “segar” dan “baru”. pemuda cenderung berani mengambil keputusan tanpa takut akan resiko yang mereka hadapi. Tidak heran jika Soekarno mengatakan “berikan sepuluh pemuda untukku, akan kuguncangkan dunia ini”.
Masyarakat Indonesia yang sedang mengalami krisis multidimensional ini membutuhkan adanya perubahan-perubahan yang positif dan inovatif. Menurut Rikard Bagun, arus perubahan sendiri bisa menjamin hukum besi yang membinasakan. Lebih-lebih bagi mereka atau bangsa yang tidak siap beradaptasi dan melakukan antisipasi. Sebaliknya, bagi yang mampu beradaptasi, perubahan selalu menghadirkan peluang yang menawarkan kesempatan baru bagi kemajuan. Untuk itulah, pemuda perlu mendapatkan tempat dan perhatian dari berbagai elemen masyarakat. Salah satunya berasal dari pengurus masjid yang biasa dikenal dengan ta’mir masjid. masjid memiliki peran yang signifikan dalam mempersiapkan masyarakat, khususnya generasi muda menjadi generasi yang mandiri dan berkarakter. Betapa tidak, khutbah jum’at yang apabila didesain secara baik akan menjadi forum studium general yang besar dan rutin yang didalamnya tentu bermuatan pesan-pesan mengenai akhlak mulia dalam pembangunan karakter bangsa. Apalagi ta’mir masjid memberikan tempat dan perhatian yang khusus terhadap generasi muda, keinginan untuk memiliki generasi yang shaleh dan menjadi harapan bangsa akan tercapai. Untuk itulah pada tulisan ini akan dijelaskan peran masjid dalam membina generasi muda.

B. Memakmurkan Masjid
Istilah masjid berasal dari Bahasa Arab, diambil dari kata “sajada, yasjudu, sajdan”. Kata “sajada” artinya membungkuk dengan khidmat, sujud, dan berlutut. Untuk menunjukkan suatu tempat kata “sajada” diubah bentuknya menjadi “masjidan” (dlaraf makan) artinya tempat sujud menyembah Allah swt. Dengan demikian, secara etimologi arti masjid adalah menunjuk kepada suatu tempat (bangunan) yang fungsi utamanya adalah sebagai tempat shalat bersujud menyembah Allah swt.
Istilah masjid merupakan istilah yang diperkenalkan langsung oleh Al-Qur’an. Di dalam al-Qur’an disebutkan istilah masjid sebanyak dua puluh delapan kali. Menurut Moh. Roqib, dari dua puluh delapan ayat tersebut ada empat fungsi masjid yaitu: Pertama, fungsi teologis yaitu fungsi yang menunjukkan tempat untuk melakukan segala aktivitas ketaatan kepada Allah. Kedua, fungsi peribadatan yaitu fungsi untuk membangun nilai taqwa. Ketiga, fungsi etik, moral dan sosial. Keempat, fungsi keilmuan dan pendidikan. Sedangkan menurut Quraish Shihab, masjid bukan hanya berfungsi sebagai tempat meletakkan dahi atau shalat, tetapi tempat melakukan aktivitas yang mengandung makna kepatuhan kepada Allah swt atau paling tidak tempat mendorong lahirnya aktivitas yang menghasilkan kepatuhan kepada Allah swt.
Fungsi masjid yang ada di dalam al-Qur’an tersebut sejalan dengan praktek yang dilakukan oleh Rasulullah. Beliau memanfaatkan masjid tidak sekedar tempat sujud/shalat saja, tetapi masjid juga dijadikan pusat kegiatan dan pembinaan umat. Ada dua aspek utama pembinaan umat yang dilaksanakan oleh Rasulullah saw. Pertama, pembinaan aspek ritual keagamaan seperti pelaksanaan ibadah shalat, dzikir, membaca al-Qur’an dan lain-lain. kedua adalah fungsi kemasyarakatan seperti menjalin hubungan silaturrahim, berdiskusi, pengembangan perekonomian, pendidikan, strategi perang, dan lain sebagainya.
Dari pengembangan kedua aspek itu, kemudian fungsi masjid berkembang menjadi pusat peradaban Islam. Dari masjid lahir gagasan-gagasan yang cemerlang baik bagi pengembangan individu, keluarga dan pembinaan kehidupan sosial kemasyarakatan. Dari masjid pula lahir berbagai konsep dan strategi dakwah Islam, pengembangan kesejahteraan sampai konsep dan strategi perang. Dengan demikian, masjid memiliki peran dan fungsi yang sangat penting dan strategis, terutama dalam kerangka pembinaan umat.
Kesuksesan Rasulullah dalam mengembangkan masjid disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, tingginya tingkat kesadaran masyarakat/kaum Muslimin untuk berpegang teguh pada nilai-nilai ajaran Islam dalam semua aspek kehidupan. Kedua, Rasulullah beserta pengelola masjid mampu menghubungkan aktivitas masjid dengan kebutuhan masyarakat dan kondisi sosialnya. Ketiga, tercapainya kesamaan visi, misi dan hati antara Rasulullah dan jama’ahnya untuk membangun semua bidang kehidupan.
Di samping fungsi masjid yang signifikan dalam Islam, masjid juga dijadikan indikator dalam seni bangunan dan berkaitan erat dengan perluasan wilayah Islam dan pembangunan kota baru. Masjid merupakan salah satu karya budaya umat Islam di bidang teknologi konstruksi yang telah dirintis sejak masa permulaannya dan menjadi ciri khas dari suatu negeri atau kota Islam. Keindahan bangunan masjid yang menakjubkan di bumi Spanyol, India, Suriah, Mesir, Irak, dan sejumlah tempat di Afrika menjadi bukti peninggalan monumental umat Islam yang pernah mengalami kejayaan di bidang teknologi konstruksi, seni, dan ekonomi.
Pada era sekarang, bangunan masjid sudah semakin berkembang sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi. Perkembangan dari sisi fisik hendaknya diikuti juga dengan perkembangan dari kualitas jama’ah. Oleh karena itu, umat Islam memiliki tugas berat untuk memakmurkan masjid sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an surat at-Taubah ayat 18 “hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk”.
Dalam ayat tersebut tugas dari umat Islam adalah memakmurkan masjid. Bagaimana cara memakmurkan masjid? Itulah persoalan penting yang perlu dijelaskan agar terjadi pemahaman (persepsi) yang sama dalam memakmurkan masjid di kalangan umat Islam.
Di dalam realitas, persepsi umat Islam dalam proses memakmurkan masjid cenderung pada memakmurkan dalam arti fisik. Mereka membangun masjid dengan begitu megah, indah, dan nyaman untuk digunakan. Pemahaman seperti ini memang tidak ada salahnya, tetapi apalah artinya sebuah bangunan megah, sementara orang-orang yang mengisi masjid itu memiliki jiwa yang kropos dan fisik yang lemah. Padahal dalam ayat diatas, Allah menyinggung orang yang memakmurkan masjid adalah orang yang jiwanya kuat dalam arti memiliki keyakinan yang teguh kepada Allah dan hari akhir serta menunaikan shalat. Di samping itu, secara fisik ia juga harus menjadi orang yang kuat dalam hal ekonomi sehingga mampu mengeluarkan zakat untuk menghidupi aktivitas yang ada di dalam masjid.
Dengan demikian, persoalan memakmurkan masjid adalah persoalan bagaimana meningkatkan kualitas dari jama’ah masjid itu sendiri. Kualitas yang dimaksud tidak hanya sebatas pada seberapa sering jama’ah mengikuti aktivitas di Masjid, melainkan juga pada kualitas kehidupan yang dijalani setiap harinya. Jangan sampai ada jamaah yang rajin datang ke masjid, namun dalam kehidupannya ia tidak bisa makan, kurang peduli kepada sesama, bersikap egois, kurang pendidikan, dan sebagainya.
Untuk itulah persepsi yang harus diubah di kalangan umat Islam yakni pemahaman tentang memakmurkan masjid. Pada era sekarang sudah seharusnya dikembangkan pada pemahaman bagaimana masjid mampu memakmurkan umat Islam, terutama jama’ah di lingkungan masjid. Kehadiran masjid di lingkungan jama’ah tidak dijadikan sebagai beban yang dapat memberatkan para jama’ah. Justru sebaliknya, masjid dapat memberikan kenyamanan, ketenangan, dan kebahagian bagi para jama’ahnya. Beberapa tulisan yang telah dipublikasikan oleh para ilmuwan dapat dijadikan bahan kajian untuk memaksimalkan kembali fungsi masjid dalam kehidupan umat Islam.
Langkah yang dapat ditempuh untuk melakukan perubahan tersebut, yakni: Pertama, membentuk dan memaksimalkan peran dari pengurus masjid. Bagi masjid yang belum memiliki struktur yang jelas perlu kiranya dilakukan pembentukan dan pembuatan aturan yang jelas sehingga masing-masing pengurus mempunyai rasa memiliki dan rasa bertanggung jawab terhadap tugasnya masing-masing. Pembentukan pengurus amat urgen untuk dilakukan. Mengingat masjid memiliki jamaah yang didalamnya terdapat perbedaan-perbedaan baik dari sisi pengetahuan, pemahaman, tingkat religiusitas, status sosial, dan sebagainya. Dengan adanya perbedaan-perbedaan tersebut diperlukan adanya penggerak, pemersatu, dan pengayom yang dapat menyatukan persepsi di antara para jama’ah.
Bagi masjid yang telah ada struktur kepengurusannya tentu perlu dimaksimalkan peran dan fungsinya sebagai ta’mir masjid. Kelemahan yang ada selama ini, pengurus masjid hanya berperan sebagai imam besar di masjid dan sebagai koordinator dalam kegiatan-kegiatan ibadah di masjid. Ke depan yang perlu dikembangkan adalah bagaimana pengurus masjid itu memiliki wawasan yang luas, inovatif, dan kreatif sehingga dalam mengelola masjid mampu mengembangkan dan memaksimalkan potensi yang ada baik potensi yang dimiliki oleh masjid itu sendiri maupun potensi yang ada pada para jama’ahnya. Dengan demikian, pengelolaan masjid yang dilakukan oleh pengurus perlu menerapkan manajemen modern yang profesional, accountable, dan terbuka.
Langkah kedua adalah perlunya pendataan jama’ah masjid baik menyangkut jumlah jama’ah maupun potensi yang dimilikinya. Berkenaan dengan jumlah jama’ah perlu didata dari segi usia, jenis kelamin, pendidikan, mata pencaharian, kecenderungan ormas yang diikuti, dan alamat yang jelas. Sedangkan dari sisi potensi yang perlu diketahui adalah ekonominya, pemahaman keagamaannya, dan status sosialnya. Data-data ini diperlukan agar pengurus masjid ketika ingin memberdayakan jama’ahnya akan mudah melakukannya. Pengurus akan tahu siapa yang dapat membantunya dalam mengembangkan ilmu, siapa yang dapat membantu dalam pengembangan ekonomi, siapa yang dapat membantu dalam sektor keagamaan, dan siapa yang layak untuk dibantu, dan berbagai hal lainnya yang dapat dikembangkan di lingkungan masjid.
Setelah mengetahui data jama’ah, langkah selanjutnya adalah bagaimana mengembangkan kegiatan-kegiatan yang dapat memakmurkan jama’ah. Masjid tidak hanya difungsikan untuk ibadah mahdlah saja, tetapi perlu dikembangkan kepada ibadah yang ghair al-mahdlah. Di zaman Rasulullah saja, masjid difungsikan untuk segala macam aktivitas yang diperlukan seperti mengatur strategi perang, tempat menuntut ilmu, sumber informasi, dan kegiatan lainnya. Apalagi pada era modern ini dimana kehidupan manusia sudah begitu kompleks dan persoalan yang dihadapinya juga semakin banyak. Karenanya masjid dapat dijadikan alternatif untuk pengembangan masyarakat. Jadikan masjid sebagai basis dan media untuk pemberdayaan masyarakat, khususnya dalam peningkatan kualitas sumber daya manusianya.
Dalam pengembangan kegiatan banyak hal yang bisa dilakukan seperti pendidikan, pelatihan, kajian-kajian ilmiah, kesehatan, perekonomian, jasa, konseling, perpustakaan, pembinaan muslimat, dan sebagainya. Dalam pengembangan kegiatan bisa dilakukan di lingkungan masjid atau dilakukan di masyarakat yang menjadi jama’ah masjid. Maksudnya masjid dapat memberikan modal kepada masyarakat untuk mengembangkan usaha jama’ah atau kerjasama dengan jama’ah dalam mengembangkan pertanian yang dimiliki oleh jama’ah. Pertimbangan dasar yang perlu dijadikan acuan dalam pengembangan kegiatan yakni adanya dukungan, kemauan, dan kepercayaan yang kuat dari jama’ah dan pengurus ta’mir Masjid..
Pada masa sekarang, dalam memakmurkan masjid dibutuhkan kreasi-kreasi yang briliant. Kita akan ketinggalan dan jauh dari kemajuan manakala dalam proses pemakmuran masjid hanya berjalan secara alamiah dan tidak terencana dengan baik. Untuk itulah, pengurus perlu melakukan terobosan dengan cara memaksimalkan potensi yang ada di masjid maupun jama’ah dan melakukan kerjasama baik antar masjid atau dengan ormas dan lembaga-lembaga lain baik pemerintah maupun swasta.
Seiring dengan pengembangan kegiatan-kegiatan yang ada di masjid, pengurus juga dapat membentuk dan mengembangkan lembaga-lembaga fungsional yang dapat dijadikan sebagai media untuk meningkatkan kualitas jama’ah dan dalam kerangka membangun jaringan. Umpamanya, kegiatan yang dikembangkan lebih mengarah pada pemberdayaan petani di lingkungan masjid, maka kita dapat membentuk koperasi petani yang ada di masjid. Koperasi ini selain berfungsi sebagai wadah berkumpulnya para petani, juga bisa dikembangkan sebagai media untuk memberikan informasi berkenaan dengan ekonomi syari’ah, pembinaan etos kerja, pemberian ketrampilan dan sebagainya.
Terakhir, diperlukan adanya evaluasi mesjid. Menurut Muhamad Zen, evaluasi manajemen masjid dapat menggunakan balance scorecard. Secara etimologi balance scorecard terdiri dari kata balance yang berarti seimbang dan scorecard berarti ukuran kinerja. Balancing diperlukan agar kendaraan atau wadah organisasi dapat berjalan mencapai tujuan yang dikehendaki tanpa goncangan dan melaju secara mulus, sehingga keseluruhan komponen masjid seperti pengurus, karyawan dan jamaah merasakan aman dan tentram di dalam pengelolaan manajemen masjid. Scorecard adalah ukuran kinerja kesuksesan manajemen masjid tidak hanya dilihat dari aspek finansial saja, melainkan juga dari aspek keaktifan jama’ah, aspek internal organisasi (idarah/manajemen, ta’mir/kegiatan, dan ri’ayah/pemeliharaan) dan aspek pertumbuhan dan perkembangan (melalui pembentukan nilai dari keaktifan karyawan, penguasaan sistem informasi, dan pemberian motivasi).
Ada empat aspek perspektif dalam mengevaluasi manajemen masjid dengan menggunakan balanced scorecard yaitu:
1. Perspektif finansial. Kaplan menggolongkan ada tiga tahap perkembangan organisasi masjid dalam mengevaluasi aspek keuangan yaitu: growth (pertumbuhan), sustain (menopang), dan harvest (memanen).
2. Perspektif customer (jamaah). Evaluasi ini dapat dicermati dari keaktifan jamaah. Perspektif ini juga memperhatikan kepuasan jamaah terhadap berbagai kegiatan atau manajemen masjid selama masa kepengurusan pengelola.
3. Perspektif internal (idarah, ta’mir, dan riayah). Idarah ada dua yaitu: idarah bina al-maadiy (physical management) dan idarah bina al-ruhy (functional management).
4. Perspektif pertumbuhan dan pembelajaran. Ada tiga faktor yang harus diperhatikan oleh pengelola masjid yaitu: kemampuan karyawan, kemampuan sistem informasi, dan motivasi, pemberdayaan, dan penyetaraan.

C. Masjid dan Pembinaan Remaja
Masjid seperti yang dijelaskan pada bagian awal merupakan pusat pembinaan umat dan bahkan menjadi pusat peradaban Islam. Salah satu komponen umat yang menjadi sasaran masjid dalam pembinaannya adalah pemuda atau dalam perkataan lain pemuda masjid merupakan salah satu dari beberapa stakeholders dari sebuah organisasi masjid.
Dalam perspektif Al-Qur’an, signifikansi masjid melakukan pembinaan kepada pemuda didasarkan pada penjelasan al-Qur’an bahwa umat Islam perlu mencontoh generasi Ashab al-Kahfi dalam mempersiapkan generasi muda. Mereka adalah generasi yang memiliki keimanan dan ketaqwaan kepada Allah serta mampu mempertahankan keyakinannya di hadapan penguasa yang ingin merusak keimanannya. Selain itu, Al-Qur’an juga mengingatkan kepada umat Islam agar hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka generasi yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka (QS. 4:9).
Di dalam hadits juga dijelaskan betapa pemuda ini perlu diberikan bekal pengetahuan dan pengalaman hidup agar pemuda tersebut tumbuh dewasa dan senantiasa mengabdi kepada Allah swt. Pemuda inilah yang nantinya mendapatkan perlindungan di hari kiamat. Usia pemuda adalah gerbang menuju kedewasaan. Jika dia berhasil melalui gerbang ini dengan baik, maka tantangan-tantangan di masa selanjutnya akan relatif mudah diatasi. Begitupun sebaliknya, bila dia gagal, maka pada tahap perkembangan berikutnya besar kemungkinan akan terjadi masalah pada dirinya. oleh karena itu, agar perkembangannya berjalan dengan baik, setidaknya ada lima aspek penting yang harus dicermati, baik oleh orang tua, pendidik, ta’mir masjid, da’i maupun si pemuda itu sendiri.
1. Kondisi Fisik
Penampilan fisik merupakan aspek penting bagi remaja dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Biasanya mereka mempunyai standar-standar tertentu tentang sosok fisik ideal yang mereka dambakan. Remaja perlu menanamkan keyakinan bahwa keindahan lahiriah bukanlah makna yang sesungguhnya dari kecantikan dan ketampanan. Kecantikan dan ketampanan sejati justru bersumber dari hati nurani, akhlak serta kepribadian yang baik..
2. kebebasan emosional
Pada umumnya remaja ingin memperoleh kebebasan emosional. Mereka ingin bebas melakukan apa saja yang mereka sukai. Tak heran, sebab dalam masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa, seorang remaja memang senantiasa berusaha agar pendapat atau pikiran-pikirannya diakui dan disejajarkan dengan orang dewasa, dalam kedudukannya yang bukan lagi sekedar obyek. Jika terjadi perbedaan pendapat antara anak dengan orang tua, maka pendekatan yang bersifat demokratis dan terbuka akan terasa lebih bijaksana. Salah satu caranya dapat dilakukan dengan membangun rasa saling pengertian, dimana masing-masing pihak berusaha memahami sudut pandang pihak lain.
3. interaksi sosial
Kemampuan untuk melakukan interaksi sosial juga sangat penting dalam membentuk konsep diri yang positif, sehingga dia mampu melihat dirinya sebagai orang yang kompeten dan disenangi oleh lingkungannya. Konsep pergaulan semestinya lebih ditekankan kepada hal-hal yang positif, seperti untuk mempertegas eksistensi diri atau guna menjalin persaudaraan serta menambah wawasan yang bermanfaat. Dengan demikian, maka diharapkan dia dapat memiliki gambaran yang wajar tentang dirinya sesuai dengan kenyataan.
4. aktualisasi diri
Setiap kelebihan atau potensi yang ada dalam diri manusia sesungguhnya bersifat laten. Artinya, ia harus digali dan terus dirangsang agar keluar secara optimal. Dengan mengetahui dan menerima kemampuan diri secara positif, maka seorang pemuda diharapkan lebih mampu menentukan yang tepat terhadap apa yang akan ia jalani, seperti memilih sekolah atau jenis kegiatan yang akan diikutinya.
5. pemahaman nilai-nilai agama
Bagi keluarga muslim, nampaknya harus mulai ditanamkan pemahaman bahwa remaja sudah termasuk baligh. Artinya dia sudah taklif atau bertanggung jawab atas kewajiban-kewajiban agama serta menanggung sendiri dosa-dosanya apabila melanggar kewajiban-kewajiban tersebut. Dengan pemahaman yang kuat terhadap nilai-nilai moral dan agama, maka lingkungan yang buruk tidak akan membuatnya menjadi buruk. Bahkan boleh jadi, si remaja sanggup proaktif mempengaruhi lingkungannya dengan kerangka agama.
Namun, arus modernisasi, globalisasi dan krisis moral yang terjadi tidak jarang menerpa dan mengusik pertumbuhan dan atau perkembangan hidup remaja. Tidak sedikit para orang tua yang merisaukan dan merasa was-was dengan berbagai istilah yang menimpa para remaja seperti kenakalan remaja, perkelahian dan tawuran antar pelajar, penyalahgunaan narkotika, obat terlarang dan zat-zat adiksi, pergaulan bebas (free sex), terlibat tindak kriminal (pencurian, pelacuran, perampokan, pemerkosaan, premanisme), dan lain sebagainya.
Fenomena di atas tidak hanya membuat panik para orang tua, tetapi sekaligus juga merepotkan para aparat penegak hukum, petugas keamanan, dan aparat pemerintahan. Sampai sekarang telah dilakukan berbagai upaya untuk menghadapi problematika remaja. Akan tetapi segala upaya yang ada belum banyak memberikan pengaruh yang signifikan dalam menangani persoalan remaja. Berbagai macam penyuluhan dan antisipasi yang sudah digalang seperti seminar, dialog, rehabilitasi, karang taruna dan sebagainya, namun upaya itu belum mampu menekan tingkat penyimpangan dan kenakalan di kalangan remaja.
Kondisi demikian tentunya membutuhkan partisipasi dari berbagai pihak, termasuk organisasi masjid atau ta’mir masjid. Karenanya, setiap masjid diharuskan ada wadah untuk membina generasi muda. Melalui wadah tersebut diharapkan pemuda dapat melakukan proses peningkatan kecerdasan intelektual, emosional, sosial, dan spiritualnya. Di mesjid, remaja dapat secara intensif mengasah kemampuan intelektualnya dalam berbagai forum kajian, training, dan aplikasi skill yang dimiliki. Demikian pula, di mesjid remaja dapat mengasah kecerdasan emosional dan sosial melalui aktivitas-aktivitas filantropi, advokasi, kerjasama kelompok, dan sebagainya. Di mesjid pula, remaja dapat meningkatkan kecerdasan spiritual melalui berbagai aktivitas shalat berjama’ah, tadarus al-Qur’an, berzikir, dan sebagainya.
Sementara dalam kacamata praktis, kehadiran remaja masjid dan pembinaan yang dilakukannya dimaksudkan agar remaja dapat menjadi generasi penerus dalam melanjutkan estafeta kepemimpinan masjid. Pengurus masjid bukanlah status yang permanen. Suatu saat akan terjadi pergantian pengurus. Pengurus yang tua akan digantikan dengan yang lebih muda, sesuai dengan masa dan kondisinya. Untuk itu, masjid sebagai organisasi, membutuhkan kader-kader yang perlu dipersiapkan secara serius dan berkualitas. Dengan adanya kaderisasi ini akan menghindarkan masjid dari kevakuman dan krisis kepemimpinan.
Dalam melakukan pembinaan, menurut Moh. E. Ayyub, masjid dapat melakukan cara, diantaranya:
1. melakukan bimbingan agama dan moral secara rasional.
2. melakukan bimbingan berdiskusi dan bermusyawarah
3. menyediakan buku bacaan tentang agama, moral dan ilmu pengetahuan.
4. memberikan kesempataan untuk berperan dan bertanggung jawab sebagai orang dewasa melalui wahana organisasi.
5. memberikan perlindungan terhadap pengaruh negatif dari lingkungan dan media massa.
6. membimbing dan mengawasi pergaulan muda-mudi.
7. menyalurkan hobi yang sehat dan bermanfaat
8. memberikan kesempatan berolah raga dalam berbagai cabang
9. memberikan kesempatan berpiknik.

D. Strategi Dalam Pembinaan Generasi Muda
Menurut Larry Poston, Nabi tidak pernah bersikeras untuk menentukan satu strategi khusus dalam melaksanakan dakwahnya. Nabi melakukan berbagai macam strategi dakwah yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi para mad’unya. Ketika dakwah pertama kali diturunkan kepada Nabi, Beliau melakukan strategi dakwah secara sembunyi-sembunyi. Selanjutnya, pada saat dakwah Nabi Muhammad mendapatkan tekanan dan ancaman dari kaum Quraisy, Nabi menerapkan strategi hijrah ke Madinah. Bahkan, Nabi juga melakukan strategi melalui jalur pernikahan untuk mendapatkan dukungan dan pengikut. Intinya, strategi dakwah Nabi Muhammad disesuaikan dengan kemampuan, situasi dan kondisi mad’u.
Dengan tidak ditetapkan satu strategi yang khusus oleh Nabi dalam melakukan dakwah, maka pengikutnya dapat berkreasi untuk menciptakan dan menerapkan berbagai strategi yang sesuai dengan mad’u. Pertimbangan dasar yang perlu diperhatikan dalam menentukan dan menerapkan strategi dakwah, yaitu: tujuan dakwah, kemampuan dan keahlian da’i atau pelaksana dakwah, kondisi dan situasi dakwah dan mad’u, sarana dan prasarana pendukung. Dengan memperhatikan pertimbangan dasar tersebut tentunya strategi dakwah untuk anak-anak akan berbeda dengan strategi yang digunakan kepada para pemuda. Begitu juga, strategi yang diterapkan kepada pemuda berbeda dengan strategi yang diterapkan kepada orang dewasa.
Secara umum ada dua strategi besar yang dapat diterapkan dalam pembinaan kepada pemuda yaitu: strategi internal-personal dan strategi external-institutional. Strategi internal-personal berorientasi pada upaya peningkatkan pemahaman, penghayatan, dan pengamalan ajaran Islam yang bersumber dari dalam diri pemuda itu sendiri. Sedangkan strategi external-institutional diarahkan pada penguatan organisasi yang dimiliki oleh pemuda
Dalam mengaplikasikan strategi internal-personal, pengurus masjid tidak hanya memberikan tempat dan pendanaan untuk berkembangnya organisasi pemuda masjid. Pengurus masjid hendaknya memberikan bimbingan, arahan dan kontrol terhadap pelaksanaan ajaran Islam pada generasi muda. Apakah dalam kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan tidak menyimpang dari ajaran Islam, bagaimana shalat berjama’ah mereka, tadarus al-Qur’an mereka dan bagaimana kepeduliaan serta keterlibatan pemuda dengan persoalan kemasyarakatan. Semua itu tentunya dilakukan dengan cara-cara yang bijak dan demokratis. Tidak bisa pengurus masjid memaksakan paham, ideologi dan kepentingan masjid kepada pemuda. Intinya, penerapan strategi ini lebih pada pembinaan kepribadian pemuda tersebut atau dalam bahasa sekarang dikenal dengan pembangunan karakter (character building) pemuda. Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Zakiah Daradjat “Pembinaan kehidupan beragama tidak dapat dilepaskan dari pembinaan kepribadian secara keseluruhan. Karena kehidupan beragama adalah bahagian dari kehidupan itu sendiri”.
Sedangkan aplikasi strategi external-institutional, pengurus masjid harus memberikan kesempatan kepada pemuda untuk mengembangkan diri dalam organisasi remaja (pemuda) masjid dan setiap masjid harus mengupayakan terbentuknya organisasi pemuda masjid.

Dalam praktek di lapangan, kedua strategi besar di atas jangan dipisahkan atau dipertentangkan. Kita tidak bisa hanya mengandalkan strategi internal- personal saja atau sebaliknya hanya menerapkan strategi external-institutional saja. Hindari juga anggapan yang menyatakan bahwa membina mental remaja hanya menjadi tugas dari orang tua saja, sedangkan masyarakat hanya berpangku tangan atau sebaliknya. Organisasi dapat melakukan pembinaan mental sekaligus dapat melatih mereka dalam berorganisasi. Demikian juga, orang tua melatih mental remaja sekaligus mendukung remaja untuk aktif di organisasi.

End note
1. Ramlan, Problematika Remaja Dewasa ini dan Solusinya, dalam Mimbar Agama dan Budaya, Vol.XVIII, No. 2, 2001, hal.188
2. BPS. (n.d.). Data Statistik Indonesia. Retrieved Mei 2008, from http://www.datastatistik-indonesia.com
3. Pandu Dewanata & Chavchay Saifullah, Rekonstruksi Pemuda, Kementerian Negara Pemuda dan Olah raga, 2008, hal. 13
4. Zakiah Daradjat Mengatakan “pada masyarakat yang telah maju, dimana kepandaian dan ketrampilan yang diperlukan untuk dapat hidup tidak bergantung kepada orang lain, dapat aktif dalam masyarakat dan dapat diberi tanggung jawab sebagai seorang dewasa yang matang sangat banyak, maka remaja perlu menempuh masa yang panjang dalam pendidikan dan masa remajanya menjadi lebih panjang. Selain itu, problem remaja yang dideritanya jauh lebih banyak karena perjuangan untuk mencapai kedudukan dalam masyarakat itu lama dan banyak macamnya”. Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: Bulan Bintang), Cet, 15, 1996, hal. 71
5. Aziz Syamsudin, 23 Karakter Pemuda Pilihan, (Jakarta: RMBOOKS), 2009, hal.xiii.
6. Aziz Syamsudin, 23 Karakter.....hal. 3. Sedangkan menurut Muhammad Hatta, remaja memiliki peran penting karena: pertama, remaja masih murni jiwanya dan ingin melihat pelaksanaan secara jujur apa-apa yang telah diperjuangkan rakyat. Kedua, remaja dididik secara ilmiah yang tujuannya untuk mencari kebenaran. Muhammad Hatta, Peranan Pemuda Menuju Indonesia Merdeka Indonesia Adil dan makmur, (Bandung: Angkasa), 1966, hal. 12.
7. Dikutip dari Pandu Dewanata & Chavchay Saifullah, Rekonstruksi.....hal. 7
8. Rikard Bagun, “Tuntutan Perubahan Perilaku”, Kompas Jum’at 26 Juni 2009.
9. Hermawan K. Dipojono, “Merumuskan Peran Masjid Kampus Dalam Membangun Masa Depan Bangsa”, Makalah dalam kongres Nasional Masjid Kampus yang diadakan di Salman ITB Bandung tahun 2004.
10. Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir, (Yogyakarta: PP. Al-Munawwir Krapyak, 1984), hal. 650. kata ini mestinya adalah masjad ikut wazan standar kata maf’al. Tetapi, kata masjid dari isim fa’il (yang semula berarti orang yang bersujud) tersebut menjadi lebih populer daripada kata masjad. Sedangkan menurut Quraish Shihab, kata masjid terambil dari akar kata sujud yang berarti taat, patuh, dan tunduk dengan penuh hormat. Meletakkan dahi, kedua telapak tangan, dan jari-jari kaki adalah bentuk lahiriah yang paling nyata dari makna-makna tersebut. Lihat M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Vol. 5, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hal. 717.
11. Moh. Roqib, Menggugat Fungsi Edukasi Masjid, (Yogyakarta: Grafindo Litera Media & STAIN Purwokerto Press, 2005), hal. 73-76
12. M.Quraish Shihab, Tafsir ....... Vol. 5, hal. 717.
13. Taufik al-Wa’I, Da’wah ila Allah, (Mesir: Dar al-Yakin), 1995, hal. 373-379.
14. Taufik al-Wa’I, Da’wah….hal. 380-386
15. Anonim, Ensiklopedi Islam, Jilid 4, (Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve, T.t), hal. 294.
16. Beberapa tulisan yang mencoba memaksimalkan peran dan fungsi masjid diantaranya: Sidi Gazalba, Masjid Pusat Ibadat dan Kebudayaan, (Jakarta: Pustaka Antara, 1962), Sidi Gazalba, Masjid Pusat Pembinaan Umat, (Jakarta: Pustaka Antara, 1971), Miftah Faridl, Masjid, (Bandung: Pustaka Salman, 1984), KODI, Pengelolaan Masjid Dalam Pengembangan Dakwah Islam, (Jakarta KODI DKI Jakarta, 1994), Sofyan Syafri Harahap, Manajemen Masjid, (Yogyakarta: Dana Bhakti Prima Yasa, 1996), Moh. E. Ayub dkk, Manajemen Masjid, (Jakarta: Gema Insani Press, 1996), Anonim, Pedoman Manajemen Masjid, (Jakarta: Fokkus Babinrohis Pusat, 2004), Moh. Roqib, Menggugat Fungsi Edukasi Masjid, (Yogyakarta: Grafindo Litera Media & STAIN Purwokerto Press, 2005)
17. Muhammad Zen, “Evaluasi Manajemen Masjid Berbasis Balanced Scorecard”, dalam Dakwah Jurnal Kajian Dakwah dan Komunikasi, Vol X, No. 2 Desember 2007, hal. 258.
18. Muhammad Zen, “Evaluasi ...... hal. 260.
19. Keterangan lengkap haditsnya adalah:
حدثنا مُحَمَّد بْن بشار : ثنا يَحْيَى ، عَن عُبَيْدِ الله ، قَالَ : حَدَّثَنِي خبيب ابن عَبْد الرحمان ، عَن حفص بْن عاصم ، عَن أَبِي هُرَيْرَةَ ، عَن النَّبِيّ - صلى الله عليه وسلم - ، قَالَ : سبعة يظلهم الله فِي ظله يوم لا ظل إلا ظله : الإمام العادل ، وشاب نشأ فِي عُبَادَة ربه عز وجل ، ورجل قلبه متعلق فِي المساجد ، ورجلان تحابا فِي الله اجتمعا عَلَى ذَلِكَ وتفرقا عَلِيهِ ، ورجل طلبته امرأة ذات منصب وجمال ، فَقَالَ : إني أخاف الله ، ورجل تصدق، أخفى حَتَّى لا تعلم شماله مَا تنفق يمينه ، ورجل ذكر الله خالياً ففاضت عيناه المكتبة الشاملة : فتح الباري لابن رجب - (ج 5 / ص 29
Hadits inilah oleh Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI).
20. Pengurus masjid, disadari atau tidak, ternyata membutuhkan peran remaja masjid dalam setiap langkah dan gerak aktivitasnya. Remaja masjid mampu memberikan sentuhan yag berbeda sesuai dengan karakteristik yang tengah dalam proses pencarian jati diri, cenderung labil dan memiliki semangat yang meluap ingin menonjolkan jati dirinya. Mereka memberikan kontribusi secara langsung maupun tidak langsung bagi keberlangsungan dakwah di masjid dan atau di masyarakat.
21. masjid mempunyai banyak fungsi bagi remaja. Fungsi-fungsi tersebut antara lain fungsi keagamaan, pendidikan dan pembinaan, aktualisasi, informasi, dan sosialisasi (Republika, 4 Maret 2005).
22. Moh. E. Ayub dkk, Manajemen .....hal. 142.
23. Larry Poston, Islamic Da’wa in the West, (New York: Oxford University Press), 1992, hal. 116.
24. Strategi dakwah itu sendiri, menurut Asmuni Syukir, artinya sebagai metode, siasat, taktik atau manuvers yang dipergunakan dalam kegiatan dakwah. Lihat Asmuni Syukir, Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam, (Surabaya: al-Ikhlas), 1983, hal. 32.
25. Pertimbangan dasar ini menurut Asmuni Syukir disebut dengan azas yang terdiri dari azas filosofis, azas kemampuan dan keahlian da’i, azas sosiologis, azas psikologis, dan azas efektif dan efisiensi. Lihat Asmuni Syukir, Dasar-Dasar .......hal. 32.
26. Dua strategi ini dikutip dari pendapat yang dikemukakan oleh Larry Poston dalam Islamic Da’wah ….hal. 49.
27. Zakiah Daradjat, Ilmu….hal. 120.

Monday, 12 September 2011

KEKERDILAN DALAM BERPIKIR

Penulis hidup dan tinggal di lingkungan keluarga petani yang tenang dan bersahaja. Selama menjalani proses kehidupan dengan keluarga, penulis merasa nyaman dan harmonis. Mereka menjalani aktivitas rutin di ladang atau sawah dengan penuh percaya diri dan bangga sebagai petani. Pagi-pagi buta yang masih gelap gulita---setelah menjalani ibadah shubuh---para petani dengan penuh semangat berangkat ke sawah atau ladang dengan membawa berbagai peralatan yang dibutuhkan. Di ladang atau di sawah, mereka melakukan berbagai aktivitas pertanian mulai dari mencangkul, membersihkan rumput, menanam, memupuk, memanen dan berbagai aktivitas lainnya. Sekali-kali waktu di tengah pekerjaan, mereka duduk atau sekedar minum untuk istirahat sejenak, kemudian melanjutkan pekerjaan sampai batas waktu siang hari menjelang shalat zhuhur atau makan siang. Ada sebagian yang pulang untuk istirahat di rumah, tetapi ada sebagian juga yang tidak pulang dan istirahat di saung yang dibuatnya secara sederhana.

Setelah istirahat yang cukup dan matahari sudah tidak begitu panas, mereka berangkat lagi ke ladang atau sawah untuk melanjutkan pekerjaan hingga menjelang sore hari. Pada sore dan malam hari, waktu para petani dihabiskan untuk istirahat menonton televisi atau melakukan aktivitas sosial seperti memenuhi undangan tetangga, pengajian atau mengikuti kegiatan kemasyarakatan. Kemudian menjelang larut malam dan kelihatan begitu lelah, mereka istirahat dengan nyenyaknya. Meskipun tempat tidur dan kasur yang ditempatinya sudah lusuh dan bahkan terkadang di atas bale yang terbuat dari bambu. Semua itu dilakukan secara berulang-ulang setiap hari, tanpa ada perasaan bosan, mengeluh atau protes dengan keadaannya. Semua dijalani dan diterima apa adanya, petani tidak pernah berpikir neko-neko (macam-macam) tentang pekerjaan dan kehidupannya.

Kehidupan petani yang tenang dan bersahaja tersebut penulis sampaikan dan tawarkan kepada para pemuda ---dalam salah satu forum diskusi di kalangan para pemuda--- apakah saudara berminat untuk menjadi petani? Dengan berbagai alasan yang logis, penulis sampaikan bahwa Indonesia memiliki tanah yang subur, wilayah pertanian yang luas, masyarakatnya sebagian besar tinggal di pedesaan sebagai petani, prospek masa depannya jelas, dan berbagai informasi lain untuk menarik minat mereka dalam dunia pertanian.

Nyatanya, apa yang penulis sampaikan tidak mendapatkan respons dari para pemuda. Kemudian penulis berupaya menanyakan secara langsung, alasan apa yang menyebabkan mereka tidak memberi respons sama sekali. Sebagian pemuda mengatakan pekerjaan yang dilakukan oleh petani sebagai pekerjaan yang sangat melelahkan dan menjenuhkan. Para petani harus dengan susah payah menguras tenaganya. Kepanasan dan kehujanan merupakan makanan sehari-harinya. Bahkan, terkadang harus mengalami kegagalan akibat bencana atau tanamannya di makan hama. Lebih tragisnya lagi, nasib para petani seringkali dipermainkan oleh para elite pemerintahan dengan berbagai kebijakan yang merugikan nasib petani. Alasan lain yang diberikan oleh sebagian pemuda lain, yakni kehidupan petani tidak pernah memberikan kebahagiaan, makan seadanya, pakaian yang kurang menarik dan tidak pernah jalan-jalan ke tempat hiburan atau rekreasi.

Begitulah alasan dan gambaran para pemuda tentang dunia kehidupan para petani di Indonesia. Pokoknya, mereka berupaya semaksimal mungkin menghindari pekerjaan yang berhubungan dengan pertanian. Selanjutnya, dengan nada yang sedikit simpatik, penulis menggali lebih dalam lagi keinginan dan cita-cita para pemuda di masa depan. Lalu pekerjaan apa yang saudara inginkan?

Dengan nada yang penuh semangat dan berapi-api, para pemuda menjawab bahwa kami ingin menjadi pengusaha yang sukses, bekerja di ruang kantor ber-AC yang tidak kepanasan dan kehujanan, serta berpenampilan menarik. Kami ingin sukses seperti idola kami yang berasal dari kalangan selebritis, pengusaha sukses dan para birokrat yang mapan secara ekonomi.

Apakah saudara mengetahui bahwa kesuksesan yang mereka dapatkan itu memberikan kebahagiaan dalam hidup mereka? tanya penulis. Tentu bahagia, kata sebagian pemuda. Buktinya mereka makan di tempat yang enak, punya rumah yang bagus, memiliki kendaraan yang nyaman, dan kehidupannya juga tidak banyak menimbulkan gejolak.

Baiklah, kalau pandangan saudara seperti itu, saya hargai pendapat saudara tersebut. Tetapi, saya berharap diskusi ini tidak selesai disini, mengingat saudara tidak tahu persis bagaimana kehidupan yang dijalani oleh mereka sehari-hari. Saudara hanya melihat dan mengamati melalui sinetron atau film yang ada di televisi. “Bagaimana jika kita sama-sama belajar di lapangan tentang kehidupan petani dan kehidupan para pengusaha atau birokrat yang sukses”, kata penulis kepada para pemuda. “Kami setuju dan siap untuk melakukannya”, jawab para pemuda.

Akhirnya penulis membagi pemuda menjadi tiga kelompok. Satu kelompok meneliti dan hidup bersama dengan petani. Dua kelompok lainnya meneliti dan hidup bersama dengan pengusaha dan birokrat yang sukses menurut pandangan mereka. Mereka diminta untuk hidup bersama selama dua minggu dan mengikuti seluruh aktivitas yang dilakukan oleh para petani, pengusaha dan birokrat. Setelah selesai, minggu berikutnya diadakan pertemuan untuk membahas hasilnya, bagaimana? “Baik, kami sepakat dengan usulan tersebut”, jawab para pemuda.

Sesuai dengan kesepakatan, para pemuda menjalaninya dengan baik dan pada saatnya melakukan laporan dari hasil penelitian dan proses kehidupan yang mereka jalani. Dari kelompok birokrat melaporkan bahwa kehidupan para birokrat penuh dengan dinamika dan keharmonisan. Kami melihat tidak ada masalah dengan kehidupan keluarga mereka, tetapi ada hal yang menurut kami kurang membahagiakan. Mereka sering pulang sore dan bahkan malam hari, kondisinya sudah sangat melelahkan sehingga tidak kelihatan segar, rasanya sudah malas untuk berhubungan dengan tetangga dan anggota keluarga. Demikian juga, ketika kami mengamati dan bekerja bersama para birokrat di perkantoran, ternyata mereka memiliki kesibukan yang luar biasa. Mereka harus bersusah payah untuk menyelesaikan tugas-tugas yang ada di depan mata, memberikan pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkan, mengikuti rapat-rapat, menjalankan perintah atasan dan sekali-kali mendapatkan teguran yang kurang mengenakkan dari atasan.

Selanjutnya kelompok yang mendapatkan tugas untuk melakukan penelitian dan hidup bersama dengan para pengusaha sukses. Mereka melaporkan bahwa kehidupan para pengusaha dihiasi dengan kompetisi dan perjuangan yang tidak mengenal waktu. Kapan pun dan dimana pun mereka senantiasa memantau dan membicarakan bisnisnya. Di rumah, segala fasilitas rumah tangga dan kebutuhan keluarga tidak menjadi masalah, semua terpenuhi dengan baik. Namun, komunikasi dan hubungan mereka dengan anggota keluarga kurang mendapatkan perhatian. Semuanya dilakukan melalui alat komunikasi dan jarak jauh. Mereka kurang memperhatikan perkembangan karakter dan kepribadian anggota keluarganya secara langsung. Di kantor, para pengusaha juga memiliki kesibukan yang luar biasa baik menyangkut proses pengadministrasian maupun pengelolaan perusahaan. Bahkan, pengalaman menarik dan mungkin menjadi penting dalam proses kehidupan kami, ternyata para pengusaha itu begitu gigih dalam memutar uang perusahaan baik yang bersumber dari bank atau lembaga keuangan maupun dari modal pengusaha itu sendiri. Jika para pengusaha tidak memiliki kemampuan dan jaringan yang kuat akan sangat sulit menjalani bisnis dan kehidupannya. Apalagi ketika dihadapkan dengan pesaing bisnis dan problem perusahaan, rasanya berat sekali bagi kami yang masih muda seperti ini bisa melakukannya.

Baiklah, sekarang giliran kelompok yang meneliti dan hidup bersama dengan petani untuk melaporkan. Rasanya badan kami pada sakit dan pegal-pegal setelah bekerja bersama petani serta kulit kami menjadi hitam, begitulah mereka mengawali laporannya. Meskipun demikian, kami bersyukur mendapatkan pengalaman baru yang berharga dari para petani. Mereka begitu enjoy dengan pekerjaannya, tidak dipusingkan pikirannya dengan seluk beluk administrasi, berhubungan dengan orang lain, atau hutang piutang dengan bank atau lembaga keuangan. Memang secara fasilitas rumah tangga dan pemenuhan kebutuhan terkadang tidak bisa dipenuhi dengan baik, tetapi mereka tidak merasa khawatir atau mengeluh yang berlebihan. Semuanya dijalani dengan suasana yang nyaman dan penuh cengkrama dengan anggota keluarga dan masyarakat.

Setelah selesai melaporkan hasil penelitian dan kehidupan bersama dengan para birokrat, pengusaha dan petani, penulis bertanya kepada seluruh pemuda tersebut. “Bagaimana dengan konsep kebahagiaan yang saudara persepsikan pada diskusi yang lalu, apakah masih konsisten dengan konsep lama atau ada perubahan setelah saudara melakukan penelitian dan hidup bersama dengan mereka?” Jawab para pemuda, “berubaaah....”. Lantas, “bagaimana konsep kebahagiaan yang sesungguhnya”, tanya penulis kepada pemuda.

Kebahagiaan itu ternyata tidak bisa diukur dengan kacamata orang lain. Kami melihat birokrat dan pengusaha yang sukses itu berbahagia, ternyata setelah kami teliti dan hidup bersama, mereka pun hidup tidak terlepas dari problematika dan perjuangan yang berdarah-darah. Sebaliknya, petani yang kami lihat tidak bahagia karena beratnya tenaga yang dikeluarkan oleh petani, ternyata mereka pun bahagia dengan kehidupan yang dijalaninya. Ibaratnya seperti kita melihat pakaian di toko busana. Ada pakaian yang kelihatannya begitu indah dan enak dipakainya. Harganya mahal, warnanya menarik, jahitannya bagus dan aksesorisnya mempesona. Pokoknya kelihatan elegan dan prestisius penampilan baju tersebut. Setelah dilakukan percobaan dengan badan kita, bisa jadi baju tersebut tidak pas ukurannya, warnanya tidak cocok dengan kulit kita, atau kita tidak senang dengan asesorisnya. Begitulah kira-kira kebahagiaan menurut kami.

“Bagus, saya sepakat dengan saudara”, kata penulis. Namun, saya menambahkan supaya konsep kebahagiaan menjadi lebih jelas dan kita dapat mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari kita. Menurut saudara, kebahagiaan tidak bisa diukur dengan kacamata orang lain, melainkan dari diri orang yang melakukannya. Artinya kebahagiaan bisa diukur dari persepsi pelakunya terhadap makna kebahagiaan. Persepsi merupakan proses pemaknaan pada stimuli inderawi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor personal dan situasional. Persepsi merupakan bagian dari kerja kognitif yang ada dalam diri manusia. Oleh karena itu, untuk membangun persepsi yang positif tentang kebahagiaan, maka perlu dilakukan perubahan pada kerangka pikir dan perhatian yang ada dalam diri kita.

Jika pikiran saudara kerdil dalam memandang sesuatu, maka sulit bagi saudara mencapai kesuksesan dan kebahagiaan. Apapun pekerjaan dan pendidikan yang saudara jalani manakala dalam proses pengembangannya tidak fokus, berfikir acak-acakan, dan pikiran yang ada begitu kerdil memandang pekerjaan dan pendidikan yang dijalaninya, maka hasilnya pun tidak akan maksimal dan saudara akan mengalami kegagalan.

Inilah barangkali kenapa para pemuda tidak mau terjun dalam dunia pertanian. Karena dalam pikiran mereka begitu kerdil dalam memandang pekerjaan yang dilakukan oleh petani. Kekerdilan pikiran pemuda terjadi disebabkan karena para pemuda tidak pernah mengenal pertanian dan memahami kehidupan para petani. Kalau pun mereka mengenal pertanian hanya di atas kertas. Mereka tidak pernah diterjunkan secara langsung oleh para pendidik bagaimana bercocok tanam yang baik. Pendidikan Indonesia lebih banyak mengandalkan kajian buku dibandingkan dengan terjun langsung di lapangan. Tragisnya lagi, ada sebagian keluarga petani yang tidak melibatkan anaknya untuk bertani dan bahkan mendorong untuk menjauhkan dunia pertanian.

Oleh karena itu, pesan saya kepada para pemuda sekalian, berpikirlah secara positif, konstruktif dan komprehensif dalam menjalani apapun di dalam kehidupan ini. Biarkan pikiran kita terbuka untuk menerima berbagai informasi yang berkembang dan secara selektif diturunkan dalam sikap dan tindakan yang bijaksana dan proporsional. Selamat menjalani hari esok dan semoga kesuksesan selalu menyertai para pemuda Indonesia.

TAWAKAL

Dalam salah satu konseling yang saya lakukan. Ada seorang mahasiswa dakwah yang konsultasi tentang program studi yang diambilnya. Ia masih ragu dan bingung dengan pilihan program studi yang ditekuninya sekarang. Dengan bahasa yang lugu dan apa adanya, ia menceritakan tentang mengapa dia memilih program studi tersebut. Dalam awal ceritanya, dia mengatakan bahwa sebelum dia memilih program studi di dakwah, sebenarnya dia sudah pernah mencoba masuk Perguruan Tinggi negeri lain yang sesuai dengan jurusan yang dia pilih saat Sekolah Menengah Atas. Tetapi amat disayangkan dia tidak berhasil masuk Perguruan Tinggi yang diinginkan tersebut. Padahal dia telah berupaya secara maksimal dengan belajar sungguh-sungguh dan mengikuti bimbingan belajar.

Kemudian saya menanyakan kepada mahasiswa, lantas setelah gagal masuk Perguruan Tinggi tersebut, tindakan apa yang kamu lakukan? Mahasiswa pun dengan nada spontan meneruskan ceritanya dengan mengatakan bahwa saya tidak putus asa dari kegagalan tersebut. Saya mencoba kembali untuk masuk Perguruan Tinggi Negeri lain yang juga saya berminat di dalamnya. Saya coba belajar dari pengalaman sebelumnya agar saya tidak gagal lagi dalam memasuki Perguruan Tinggi tersebut. Saya belajar lebih tekun dan terus berdo’a agar saya dapat diterima. Namun apa yang terjadi, ternyata saya gagal lagi memasuki Perguruan Tinggi tersebut. Kemudian saya merenung dan berpikir panjang kenapa saya gagal lagi..., gagal lagi.... sempat terlintas dalam pikiran, apakah ini sebuah ujian dari Tuhan ataukah karena tidak sungguh-sungguhnya saya mempersiapkan diri untuk masuk dalam Perguruan Tinggi tersebut.

Mendengar cerita tersebut, saya sebagai konselor merasa simpati atas kejadian yang menimpa mahasiswa kami. Kemudian saya mencoba masuk dalam dunianya, subhaanallah anda luar biasa, kata saya, dalam kondisi yang sulit tersebut anda dapat berpikir untuk melakukan introspeksi diri, itu sesuatu yang luar biasa, tidak banyak orang yang mampu berpikir seperti anda. Lantas setelah itu anda tidak melanjutkan kuliah?

Tidak, tetap saya ingin melanjutkan studi, prinsip saya selama kedua orang tua saya mendukung, saya akan tetap lanjutkan. Mahasiswa tersebut pun akhirnya melanjutkan ceritanya. Saya mencoba untuk masuk Perguruan Tinggi Negeri lainnya yang juga sejalan dengan jurusan yang dipilihnya dan masih ada kesempatan untuk mendaftar. Dengan berbagai upaya saya lakukan agar saya berhasil dan saya pun berjanji, jika dengan upaya ini gagal, semuanya dipasrahkan kepada Tuhan. Mungkin Tuhan bermaksud lain dan dia tidak ingin memaksakan kehendak-Nya. Semuanya mungkin sudah diatur, kemana jalan yang mesti saya tempuh.

Dengan perasaan yang tidak sabar---konselor---menanyakan hasilnya, gimana? Alhamdulillah saya pun tidak diterima lagi. Konselor merasa kaget dengan jawabannya. Loh..kok alhamdulillah padahal anda tidak diterima? Inilah barangkali perjuangan saya yang terakhir---kata mahasiswa tersebut---karena tidak ada kesempatan lagi untuk saya bisa ikut test di Perguruan Tinggi Negeri, saya harus mengakhiri keinginan saya yang begitu kuat untuk kuliah. Tetapi apalah daya yang bisa saya perbuat, sudah tiga kali saya ikut test masuk Perguruan Tinggi Negeri dan selalu gagal. Semuanya sudah diputuskan dan barangkali inilah kerja Tuhan yang menginginkan saya untuk tidak masuk dalam jalur tersebut. Mungkin Tuhan punya kehendak yang lain. Dalam hati pun saya pada waktu itu pasrah pada Tuhan, saya tidak perlu ambisi lagi. Apapun keputusan Tuhan saya akan terima. Saya pun berjanji, jika tidak diterima saya pun akan bekerja saja di perusahaan atau dimana saja yang penting saya bisa mendapatkan pekerjaan.

Lagi-lagi konselor dibuat kejutan oleh mahasiswa tersebut, luar biasa...luar biasa.. konselor pun bertanya dengan nada heran kepada mahasiswa tersebut. Mengapa sekarang anda ragu dengan kuliah yang saudara tekuni sekarang, bukankah ini jalan yang diberikan Tuhan kepada anda? Artinya anda masuk Perguruan Tinggi Negeri ini tanpa anda hambatan yang berarti. Ini kesempatan terbaik bagi anda untuk meraih prestasi dan anda betul-betul ditantang dalam kuliah ini karena latar belakang yang anda tempuh tidak seiring dengan perkuliahan yang anda jalani. Anda dari SMA yang notabene tidak memiliki kemampuan dalam Bahasa Arab, sementara perkuliahan lebih banyak menggunakan Bahasa Arab. Kira-kira seperti itukah keraguan saudara dalam memilih program studi di dakwah?

Begini pak, jawab mahasiswa. Setelah tiga kali saya gagal masuk Perguruan Tinggi Negeri, saya mencoba melamar pekerjaan di beberapa perusahaan dan instansi negeri, ternyata saya pun gagal, semuanya menolak saya dengan berbagai alasan. Akhirnya saya pun nganggur selama satu tahun. Kemudian pada tahun ajaran baru, saya mencoba putar haluan, saya ambil program studi yang dianjurkan oleh orang tua saya. Saya diperintahkan untuk masuk STAIN/IAIN. Saya bingung karena saya tidak memiliki referensi dan informasi yang mendalam tentang STAIN/IAIN. Sepengetahuan orang tua saya yang berasal dari desa bahwa kuliah di STAIN/IAIN itu menjadi guru dan belajar agama.

Saya mencoba mendaftar dan memilih beberapa tawaran yang ada. Karena informasi yang saya dapatkan di STAIN/IAIN itu menjadi guru, saya pun pilih jurusan Tarbiyah dan mencoba mengambil pilihan alternatif ketiga di jurusan Dakwah. Ternyata hasil tes saya diterima di jurusan Dakwah dan saya pun terkejut, saya sempat berpikir dan ragu apakah ini arah jalan yang ditunjukkan oleh Tuhan ataukah karena hasil ujian saya yang tidak bisa masuk di jurusan Tarbiyah. Keraguan inilah yang terus menghantui saya hingga saat saya kuliah di jurusan Dakwah. Saya mau kuliah di STAIN/IAIN untuk memenuhi permintaan orang tua dan mereka tidak mengetahui bahwa saya kuliah di STAIN/IAIN itu bukan pada jurusan yang dimaksudkan orang tua saya, yakni sebagai guru. Bagi orang tua saya pokoknya kuliah di STAIN/IAIN sudah membanggakan, belajar agama untuk bekal nanti di dunia dan akhirat. Jadi itu yang membuat saya ragu dan bingung.

Oke.... kata konselor, kalau begitu sebetulnya anda sudah punya modal dasar untuk berkeinginan kuliah di STAIN/IAIN. Itu modal penting untuk maju, tanpa ada modal kemauan yang kuat akan sulit mencapai cita-cita atau harapan anda di masa yang akan datang. Problemnya tinggal persepsi anda tentang jurusan Dakwah dan bagaimana memberikan pemahaman kepada orang tua anda tentang jurusan Dakwah yang anda geluti sekarang ini.

Betul pak dan saya sepakat dengan pernyataan bapak tadi. Begini..., kata konselor yang mencoba merapihkan tempat duduknya dan menatap pandangan mahasiswa tersebut dengan penuh harapan. Saya akan memberikan penjelasan dan ini hanya pendapat saya, anda boleh tidak setuju atau setuju, anda harus pikirkan secara matang untuk mengambil tindakan karena keberhasilan konseling bukan ditentukan oleh seorang konselor tetapi pada anda yang mau melakukan perubahan.

Baik pak..., jawab mahasiswa. Hidup ini terkadang tidak linier, apa yang kita inginkan terkadang tidak sesuai dengan keinginan. Apalagi menyangkut masa depan yang kita sendiri tidak bisa memastikan, tidak bisa menjamin dan terkadang sulit untuk dijangkaunya. Kita hanya bisa memprediksi peluang-peluang, tetapi kita tidak bisa memastikan. Waktu saya bincang-bincang dengan para sopir perusahaan yang ada di Purwokerto, saya terkagum-kagum ternyata mereka adalah lulusan Perguruan Tinggi Negeri yang jauh dari bidang yang ditekuninya, mereka berasal dari Fakultas Pertanian, Hukum, dan Peternakan. Begitu juga, teman-teman saya yang berasal dari Fakultas Dakwah banyak yang menjadi guru dan dosen, penyuluh, wartawan, pedagang, dan politikus.

Mengapa demikian pak? cetus mahasiswa. Itulah dinamika hidup. Perjalanan hidup seseorang tidak hanya ditentukan oleh orang tersebut. Ada orang atau lembaga lain yang ikut dalam menentukan perjalanan hidup seseorang. Entah itu orang tua, saudara, teman, pemerintah, stakeholder, Tuhan dan sebagainya. Jelasnya, kita hidup bukan di ruang hampa, melainkan ruang terbuka yang nyata dan penuh dengan kompetisi. Oleh karena itu, persiapan diri yang berkualitas dan profesional menjadi tuntutan yang tidak bisa ditawar-tawar. Siapa pun dan darimana pun asal pendidikannya, jika ia memiliki kualitas dan profesional tentu akan banyak orang atau lembaga yang membutuhkannya.

Masing-masing individu dibekali akal oleh Allah. Dengan akal inilah manusia dapat berfikir sehingga melahirkan ide atau gagasan kreatif dan inovatif. Perkuliahan pada dasarnya adalah melatih mahasiswa agar akal yang diberikan oleh Tuhan dapat dimanfaatkan secara maksimal sehingga mahasiswa bisa berpikir secara sistematis, kritis dan logis. Dari sanalah akan lahir ide atau gagasan yang kreatif dan inovatif. Oleh karena itu, konsep dasar inilah yang penting untuk dikembangkan oleh mahasiswa sehingga mahasiswa setelah selesai ia bisa mandiri, tidak bergantung pada orang lain. Kalau pun ada spesifikasi jurusan, itu hanyalah tambahan keahlian dan hal itu pun tidak menjadi satu-satunya alasan untuk tetap memaksakan pada jalur tersebut. Jika jalur tersebut tidak ada ruang untuk dimasuki, maka konsep dasar itulah yang dijadikan alasan bahwa kita bisa masuk jalur apapun dan dimanapun.

Maaf pak.., saya kok jadi semakin bingung dengan penjelasan bapak. Sekarang apa yang harus saya lakukan? Baiklah, kebingungan yang ada pada anda, menandakan diri anda sudah mulai ada kemajuan. Tugas anda sekarang adalah syukurilah apa yang sedang anda jalani di jurusan Dakwah. Anda harus optimis bahwa masuknya anda di program studi tersebut merupakan anugerah yang diberikan oleh Tuhan. Betapa banyak orang di luar kampus yang tidak bisa kuliah karena ketidakmampuan mereka untuk masuk Perguruan Tinggi. Kalau pun anda masih ragu bahwa program studi yang anda geluti tersebut bukan merupakan anugerah Tuhan, anda harus tetap optimis. Mantapkanlah niat anda bahwa saya kuliah bukan hanya untuk mencari pekerjaan, tetapi berniat untuk mencari ilmu, membekali diri dan melatih kemampuan berfikir.

Tetapi pak..., kalau kita kuliah tidak untuk bekerja, nanti apa kata orang tua, saudara, dan tetangga saya tentang perkuliahan saya serta bagaimana dengan masa depan saya? Baiklah, saya tidak bermaksud mengarahkan anda bahwa kuliah di jurusan Dakwah tidak mendorong anda untuk tidak bekerja. Bekerja adalah implikasi dari kemampuan yang dimiliki oleh seseorang baik menyangkut kemampuan intelektual, sosial, profesional dan spiritual. Kemampuan-kemampuan tersebut tidak bisa datang sendiri, melainkan perlu pembelajaran dan pembekalan. Di bangku kuliah itulah kita mendapatkan kemampuan-kemampuan tersebut. Jika di saat kuliah anda tidak melakukan proses yang maksimal untuk mendapatkan kemampuan-kemampuan tersebut, implikasinya berdampak pada kualitas yang saudara miliki setelah selesai dari perkuliahan. Implikasi lebih jauhnya anda pun akan sulit diterima oleh masyarakat atau stakeholders sehingga harapan anda untuk mendapatkan pekerjaan yang layak pun jauh dari harapan. Oleh karena itu, tugas anda sekarang adalah perkuat niat anda bahwa anda kuliah untuk menuntut ilmu dan dalam kerangka ibadah kepada Allah. Kemudian anda ikut berproses secara maksimal dalam pembelajaran dan aktivitas kemahasiswaan. Masalah masa depan dan pekerjaan semuanya anda pasrahkan kepada Allah swt. Prinsipnya anda sudah belajar, berusaha dan berdo’a secara maksimal.

Jika kita belajar dari pengalaman para pemimpin bangsa ini, seperti Wahid Hasyim, Cokroaminoto, M. Natsir dan tokoh Islam lainnya, mereka dalam menuntut ilmu tidak dibebani oleh keinginan dan perasaan ingin mencari pekerjaan. Semuanya dilakukan dengan penuh keikhlasan dan motivasi untuk beribadah kepada Allah swt. Semua upaya yang telah dilakukan oleh mereka diserahkan sepenuhnya kepada Allah swt, sebagaimana firman-Nya: “kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah” (QS. 3:159). Awali dengan niat yang baik, proses yang baik dan insya Allah akan mendapatkan hasil yang baik.

Demikian juga dengan anda, tidak usah ragu dan bingung lagi, terima dan jalankan apa yang sedang anda geluti dengan sungguh-sungguh, gimana?? Baiklah pak..insya Allah saya akan berupaya semaksimal mungkin untuk meraih apa yang menjadi harapan orang tua saya dan juga menjadi cita-cita saya. Terima kasih atas bimbingan dan konsultasinya, semoga ini menjadi bekal hidup yang bermanfaat bagi saya dan bagi yang lainnya. Amien....

Sunday, 14 August 2011

BELAJAR TOLERANSI BERAGAMA DARI KEPOLISIAN

Oleh: Abdul Basit

Pembangunan rumah ibadah di suatu daerah merupakan hal yang biasa. Tetapi ada hal yang berbeda dan menarik dari pembangunan rumah ibadah di Sekolah Polisi Negara (SPN) Purwokerto. Menurut penuturan kepala SPN Purwokerto, saat meresmikan pembangunan masjid Nurul Ikhlas pertengahan Juli lalu, pembangunan masjid di kompleks SPN dibangun oleh para donatur dan tenaga yang berasal dari umat Islam dan umat beragama lainnya. Mulai dari peletakan batu pertama hingga selesainya pembangunan masjid, dilakukan kerjasama antar umat beragama. Bahkan, alat pengeras suara yang ada di masjid pun didesain supaya tidak mengganggu rumah ibadah yang ada di sebelah kiri dan kanan yaitu Gereja dan Pura. Karena pembangunan Gereja dan Pura pun juga tidak hanya dilakukan oleh penganut Kristen dan Hindu saja, melainkan oleh umat beragama lain, termasuk umat Islam.
Pengalaman dalam membangun rumah ibadah semacam itu merupakan modal dasar yang kuat untuk membangun toleransi antar umat beragama. Kenyataan yang telah terjadi di masyarakat, ada pembangunan rumah ibadah suatu agama digagalkan oleh umat agama lain disebabkan karena adanya jurang pemisah antara agama yang satu dengan agama yang lain. Kecurigaan dan antipati terhadap agama lain merupakan faktor utama yang menyebabkan para pemeluk agama berupaya untuk menghalangi pembangunan rumah ibadah.
Sementara, dengan berbekal pengalaman bersama dalam membangun rumah ibadah, maka para pemeluk agama yang ada di lingkungan tersebut merasa memiliki rumah ibadah. Meskipun demikian, dalam persoalan ibadah, masing-masing melakukan sesuai dengan keyakinan agamanya masing-masing. Tidak mungkin mereka akan mencampurbaurkan antara agama yang satu dengan agama yang lainnya. Bagi kamu agamamu dan bagiku agamaku (lakum diinukum waliyadiin), itulah prinsip dan semangat yang harus dipegang teguh.
Semangat toleransi beragama semacam itulah yang ingin ditanamkan kepada para anggota polisi, kata kepala SPN Purwokerto, Kombes Didik Andiono. Pembangunan toleransi beragama harus dimulai dari hal-hal yang mendasar terlebih dahulu, yakni kebersamaan antar pemeluk agama. Semangat kebersamaan merupakan potensi dasar yang dimiliki oleh manusia sebagai makhluk sosial. Sejak lahir ke dunia ini manusia sudah membutuhkan bantuan orang lain dan secara naluriah orang lain pun bersedia membantunya. Bantuan tidak mengenal perbedaan dari sisi adat, suku, ras dan agama. Semangat membantu dan kebersamaan semacam itulah yang seharusnya tidak hilang dari diri seorang pemeluk agama ketika dalam realitasnya ia berbeda-beda dalam memeluk agama.
Gagasan untuk membangun toleransi beragama di kalangan polisi ini patut diapresiasi dan didukung sepenuhnya oleh berbagai elemen masyarakat dan para pemeluk agama. Apalagi gagasan ini berangkat dari SPN yang nota bene sebagai lembaga yang mendidik para anggota polisi yang profesional. SPN memiliki tanggung jawab besar untuk meningkatkan citra dan profesionalisme jajaran kepolisian.
Setidaknya, ada tiga implikasi positif yang dapat ditindaklanjuti dari gagasan tersebut: Pertama, secara internal jajaran kepolisian harus melakukan proses pendidikan yang tidak hanya menyentuh aspek fisik dan intelektual saja, melainkan juga aspek sosial, emosional dan spiritual. Selain itu, polisi juga perlu dilatih melalui pendidikan life skill (ketrampilan hidup) secara langsung di masyarakat. Tujuannya agar polisi lebih mengenal dan memahami masyarakat dan sebaliknya masyarakat juga lebih mengetahui kedudukan dan peran polisi di masyarakat. Adanya saling memahami antara polisi dengan masyarakat akan menimbulkan hubungan yang harmonis antar keduanya.
Konsepsi pendidikan tersebut sesuai dengan konsepsi pendidikan yang dikembangkan oleh UNESCO, bahwa pendidikan tidak sekedar mengenalkan pengetahuan kepada peserta didik (learning to know), tetapi peserta didik perlu dimotivasi untuk melakukan sendiri dalam proses pengembangan ilmu (lerning to do) dan merubah dirinya menjadi manusia yang lebih berguna (learning to be) dan bisa hidup bersama di masyarakat dengan baik (learning to life together).
Kedua, semangat toleransi beragama dan kebersamaan yang ditanamkan polisi pada saat pendidikan, hendaknya diwujudkan ketika mereka berkiprah di masyarakat. Kesan ekslusif dan hanya ada di masyarakat pada saat ada masalah, hendaknya dibuang jauh-jauh. Polisi perlu berbaur dan berinteraksi secara intensif dengan masyarakat. Dengan cara tersebut, sikap kebersamaan dan toleransi beragama yang dimiliki oleh Polisi dapat dikembangkan di masyarakat dan secara perlahan dapat merubah citra negatif polisi di masyarakat.
Ketiga, masyarakat perlu mengapresiasi gagasan toleransi beragama yang dikembangkan oleh polisi. Citra negatif yang melekat pada polisi hendaknya disingkirkan dari pandangan masyarakat. Sebagai pemeluk agama yang baik, masyarakat hendaknya mampu berpikir positif (positive thinking) terhadap gagasan atau masukan dari orang atau lembaga lain. Dengan berpikir positif akan lahir persepsi, sikap dan tindakan yang baik. Betapa banyak kerusuhan, tindakan anarkis dan penghancuran rumah ibadah disebabkan karena adanya pikiran yang sempit dan negatif terhadap orang lain. Mengingat pola pikir seseorang merupakan faktor utama dalam pembentukan sikap dan tindakan yang dilakukannya. Jika pola pikirnya positif, maka sikap dan tindakannya pun akan positif dan sebaliknya jika pola pikirnya negatif, akan lahir sikap dan tindakan yang negatif.
Untuk itulah gagasan toleransi beragama yang dibangun dari kerjasama antara pemeluk agama perlu diperluas dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan. Toleransi tidak hanya dibangun melalui wacana dan dialog antar umat beragama, melainkan perlu diwujudkan dalam kerja-kerja nyata di masyarakat. Kita memiliki problem kemanusiaan yang bersifat universal dan membutuhkan pemecahan dari berbagai pemeluk agama. Kemiskinan, pengangguran, global warming, dan krisis moral merupakan problem kemanusiaan yang sedang dihadapi oleh bangsa dan masyarakat Indonesia. Sudah seharusnya, para pemeluk agama saling bahu membahu dalam mengatasi problem kemanusiaan tersebut. Dan kita juga berharap agar pak polisi terus berkomitmen untuk mengembangkan gagasan toleransi beragama dan kebersamaan dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat.